• Tentang UGM
  • Faperta
  • IT Center
  • Perpustakaan
  • LPPM
  • Bahasa Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
Fakultas Pertanian
Departemen Perikanan
  • Profil
    • Tentang Kami
    • Struktur Organisasi
    • Staff Dosen
    • Staff Kependidikan
    • KERJA SAMA
  • Akademik
    • Program Studi Akuakultur
    • Program Studi Manajemen Sumberdaya Akuatik
    • Program Studi Teknologi Hasil Perikanan
    • Program Studi Magister Ilmu Perikanan
    • Program Studi Doktor Ilmu Perikanan dan Kelautan Tropis
  • Berita
  • Fasilitas
    • Laboratorium
    • Inkubator Mina Bisnis
    • delifiZ
  • Penjaminan Mutu
  • TUK
  • Organisasi
    • KMIP
    • Selam Perikanan
    • Bahari Pers
  • Download
    • Prosedur Persuratan
    • Prosedur Akademik Sarjana
    • Prosedur Akademik Pascasarjana
    • Informasi
  • Beranda
  • Perikanan UGM
  • Perikanan UGM
  • hal. 2
Arsip:

Perikanan UGM

Departemen Perikanan UGM Jalani Audit Mutu Internal 2026, Perkuat Komitmen Peningkatan Mutu Pendidikan

Berita Senin, 7 September 2026

Yogyakarta, September 2026 — Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali memperkuat komitmennya terhadap peningkatan mutu penyelenggaraan pendidikan melalui pelaksanaan Audit Mutu Internal (AMI) 2026. Kegiatan ini dilaksanakan untuk mengevaluasi dan memastikan pemenuhan standar mutu akademik pada seluruh program studi di lingkungan Departemen Perikanan.

AMI 2026 mencakup lima program studi, yaitu Program Studi Manajemen Sumberdaya Akuatik (MSA), Teknologi Hasil Perikanan (THP), Akuakultur, Magister Ilmu Perikanan (MIP), serta Program Doktor Ilmu Perikanan dan Kelautan Tropis.

Pelaksanaan AMI menjadi bagian penting dalam sistem penjaminan mutu internal UGM. Melalui proses audit, setiap program studi memperoleh kesempatan untuk mengevaluasi pelaksanaan berbagai kegiatan akademik sekaligus mengidentifikasi aspek-aspek yang masih dapat ditingkatkan.

Audit Mutu Internal tidak semata-mata diposisikan sebagai proses pemeriksaan administratif, tetapi menjadi instrumen untuk membangun budaya mutu dan perbaikan berkelanjutan di lingkungan Departemen Perikanan.

Melalui AMI, berbagai aspek penyelenggaraan pendidikan dapat ditinjau secara sistematis, termasuk pelaksanaan proses pembelajaran, pengelolaan akademik, sumber daya, capaian pendidikan, serta berbagai proses pendukung lainnya sesuai dengan standar mutu yang ditetapkan.

Hasil audit diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai kekuatan yang telah dimiliki masing-masing program studi sekaligus menemukan ruang perbaikan yang perlu ditindaklanjuti. Dengan demikian, AMI menjadi bagian dari siklus evaluasi–perbaikan–peningkatan mutu yang dilakukan secara berkelanjutan.

Pelaksanaan AMI secara menyeluruh pada lima program studi menunjukkan komitmen Departemen Perikanan UGM untuk memastikan bahwa peningkatan mutu dilakukan pada seluruh jenjang pendidikan, mulai dari program sarjana hingga doktor.

Keberagaman bidang keilmuan yang dimiliki Departemen Perikanan—mulai dari pengelolaan sumberdaya akuatik, akuakultur, teknologi hasil perikanan, hingga ilmu perikanan dan kelautan tropis—memerlukan sistem penjaminan mutu yang mampu menjaga karakteristik masing-masing program studi sekaligus memastikan tercapainya standar akademik yang ditetapkan universitas.

Dalam konteks tersebut, AMI menjadi ruang refleksi bagi setiap program studi untuk melihat kembali proses yang telah berjalan dan memastikan bahwa penyelenggaraan pendidikan senantiasa relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, kebutuhan masyarakat, dunia kerja, serta tantangan pembangunan sektor kelautan dan perikanan.

Bagi Departemen Perikanan UGM, mutu pendidikan merupakan fondasi penting dalam menyiapkan sumber daya manusia perikanan yang unggul, adaptif, dan mampu menghadapi perubahan.

Tantangan sektor perikanan saat ini semakin kompleks. Perubahan iklim, perkembangan teknologi, transformasi digital, ketahanan pangan, keberlanjutan sumber daya, dinamika masyarakat pesisir, serta kebutuhan industri terhadap inovasi membutuhkan lulusan yang tidak hanya memiliki kompetensi akademik, tetapi juga kemampuan berpikir kritis dan menyelesaikan persoalan nyata.

Karena itu, sistem penjaminan mutu pendidikan memiliki peran strategis dalam memastikan bahwa proses pembelajaran dan pengembangan akademik mampu menghasilkan lulusan yang sesuai dengan tuntutan zaman.

Pelaksanaan AMI 2026 diharapkan tidak berhenti pada penyelesaian proses audit, tetapi dilanjutkan dengan tindak lanjut dan peningkatan nyata pada masing-masing program studi. Dengan demikian, hasil audit dapat menjadi dasar pengambilan keputusan dan pengembangan program di masa mendatang.

Melalui AMI 2026, Departemen Perikanan UGM menegaskan bahwa mutu bukan sekadar capaian yang harus dipenuhi, melainkan budaya yang harus terus dibangun dan dikembangkan. Komitmen tersebut menjadi bagian dari upaya Departemen Perikanan untuk menghadirkan pendidikan yang berkualitas sekaligus memperkuat kontribusinya dalam pengembangan ilmu pengetahuan, inovasi, dan sumber daya manusia bagi masa depan kelautan dan perikanan Indonesia.

Pelaksanaan AMI 2026 juga mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui penguatan sistem penjaminan mutu dan peningkatan kualitas pendidikan, serta SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) melalui pengembangan kapasitas akademik dan inovasi. Pada akhirnya, pendidikan perikanan yang bermutu menjadi salah satu fondasi untuk mendukung SDG 14 (Ekosistem Lautan) melalui lahirnya generasi ilmuwan dan profesional yang mampu mengelola sumber daya perikanan dan kelautan secara berkelanjutan.

Kenal Perikanan UGM 2026: Membuka Perjalanan Mahasiswa Baru dari Kampus hingga Industri Perikanan

Berita Senin, 7 September 2026

Yogyakarta, 30 Agustus 2026 — Sebanyak 270 peserta mengikuti rangkaian Kenal Perikanan UGM 2026, sebuah kegiatan pengenalan dan pembelajaran lapangan yang mempertemukan mahasiswa baru Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada (UGM) dengan lingkungan akademik sekaligus dunia nyata sektor perikanan.

Kegiatan yang berlangsung pada 29–30 Agustus 2026 ini diikuti oleh 235 mahasiswa dari tiga program studi, yakni Akuakultur sebanyak 77 mahasiswa, Manajemen Sumberdaya Akuatik (MSA) sebanyak 79 mahasiswa, dan Teknologi Hasil Perikanan (THP) sebanyak 79 mahasiswa. Selain mahasiswa, kegiatan juga melibatkan 17 dosen, 8 tenaga kependidikan, 2 personel Media Perikanan, 7 pendamping, serta 1 perwakilan KKA Fakultas.

Kenal Perikanan 2026 tidak berhenti pada kegiatan pengenalan di lingkungan kampus. Setelah mengikuti Pra Kenal Perikanan pada 24 Agustus 2026, mahasiswa diajak melakukan perjalanan lapangan untuk melihat secara langsung berbagai aktivitas dalam rantai sektor perikanan.

Dalam kegiatan lapangan, peserta terbagi dalam tujuh bus dengan tujuan kunjungan yang berbeda. Lokasi yang dikunjungi meliputi Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara, Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Juwana, serta sejumlah perusahaan pengolahan hasil perikanan, yaitu PT Java Kayana Segara, PT Morenzo Abadi Perkasa, PT Guna Citra Kartika, PT Urchindize Indonesia, dan PT Cassanatama Naturindo.

Pemilihan berbagai lokasi tersebut memberikan gambaran mengenai luasnya ekosistem perikanan yang akan menjadi bagian dari perjalanan akademik mahasiswa. Dari budidaya, pengolahan hasil perikanan, hingga aktivitas pelabuhan dan pelelangan ikan, mahasiswa mendapatkan kesempatan untuk melihat bagaimana ilmu perikanan diterapkan dalam berbagai konteks.

Pada kunjungan ke PT Java Kayana Segara di Semarang, misalnya, mahasiswa mendapatkan kesempatan melihat proses pengemasan crab meat serta proses pasteurisasi dalam kaleng. Sementara itu, kunjungan ke PT Morenzo Abadi Perkasa di Demak memperkenalkan mahasiswa pada proses pengalengan rajungan dan ikan serta pengolahan makanan laut beku. Mahasiswa juga mengunjungi PT Guna Citra Kartika di Jepara serta PT Urchindize Indonesia. Di PT Urchindize Indonesia, peserta diperkenalkan dengan proses produksi ikan teri nasi kering dan bubuk ikan kering. Sementara itu, kunjungan ke PT Cassanatama Naturindo di Semarang melengkapi rangkaian kunjungan industri yang menjadi bagian dari Kenal Perikanan 2026.

Selain sektor pengolahan, mahasiswa juga mendapatkan pengalaman lapangan pada sektor budidaya perikanan melalui kunjungan ke BBPBAP Jepara. Dalam kunjungan tersebut, peserta mengikuti briefing pelayanan publik dan memperoleh penjelasan dari tim kelompok kerja mengenai pembesaran udang vaname di tambak.

Pengalaman kemudian dilanjutkan pada sektor perikanan tangkap melalui kunjungan ke PPP Juwana pada 30 Agustus 2026. Di lokasi tersebut, mahasiswa melihat secara langsung aktivitas pelelangan ikan di TPI Unit 2 Juwana serta tempat bersandarnya kapal-kapal penangkap ikan besar.

Rangkaian tersebut memberikan gambaran bahwa perikanan merupakan sebuah sistem yang luas. Ikan yang dikonsumsi masyarakat tidak berdiri sendiri, tetapi melewati berbagai tahapan, mulai dari produksi, penangkapan atau budidaya, penanganan, pengolahan, hingga distribusi dan pemasaran.

Salah satu karakter utama Kenal Perikanan 2026 adalah kesempatan bagi mahasiswa untuk belajar langsung dari pelaku dan institusi yang bergerak di sektor perikanan. Dalam beberapa kunjungan, mahasiswa juga diarahkan untuk mengisi lembar kerja sebagai bagian dari aktivitas pembelajaran selama berada di lapangan.

Pengalaman tersebut menjadi pelengkap bagi proses pembelajaran di kampus. Mahasiswa baru tidak hanya diperkenalkan dengan program studi masing-masing, tetapi sejak awal diajak memahami bahwa ilmu Akuakultur, MSA, dan THP memiliki keterkaitan erat dalam membangun sektor perikanan yang utuh.

Bagi mahasiswa Akuakultur, pengalaman di BBPBAP memberikan gambaran mengenai praktik budidaya. Mahasiswa THP dapat melihat secara langsung bagaimana komoditas perikanan diolah menjadi produk bernilai tambah, sementara mahasiswa MSA dapat melihat keterkaitan antara aktivitas perikanan, pelabuhan, dan pemanfaatan sumber daya. Ketiganya bertemu dalam satu sistem perikanan yang saling terhubung.

Lebih dari sekadar agenda penyambutan mahasiswa baru, Kenal Perikanan UGM 2026 menjadi langkah awal untuk memperkenalkan luasnya ruang kontribusi lulusan perikanan. Mahasiswa diajak melihat bahwa masa depan perikanan tidak hanya berada di laut atau tambak, tetapi juga di industri pengolahan, teknologi, kewirausahaan, pengelolaan sumber daya, kebijakan, dan berbagai bidang lainnya.

Perjalanan selama dua hari tersebut juga menjadi ruang untuk membangun kebersamaan antarmahasiswa dari tiga program studi. Dengan tujuh bus yang masing-masing didampingi oleh dosen, tenaga kependidikan, dan pendamping, kegiatan dirancang sebagai perjalanan bersama untuk mengenal lebih dekat dunia perikanan sekaligus keluarga besar Departemen Perikanan.

Melalui Kenal Perikanan 2026, Departemen Perikanan UGM menanamkan pesan bahwa menjadi mahasiswa perikanan berarti mempersiapkan diri untuk memahami dan membangun sebuah sektor yang kompleks, strategis, dan dekat dengan kehidupan masyarakat. Pengalaman pertama di lapangan diharapkan menjadi bekal bagi mahasiswa untuk menjalani perjalanan akademik dengan perspektif yang lebih luas mengenai peran mereka di masa depan.

Kegiatan Kenal Perikanan 2026 turut mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), SDG 9 (Industri, Inovasi dan Infrastruktur), serta SDG 14 (Ekosistem Lautan) melalui pembelajaran berbasis pengalaman, pengenalan dunia industri dan praktik perikanan, serta penguatan kesadaran generasi muda terhadap pentingnya pengelolaan sumber daya perikanan secara berkelanjutan.

Dari ruang kuliah menuju tambak, industri pengolahan, hingga pelabuhan perikanan, Kenal Perikanan 2026 menjadi langkah pertama bagi mahasiswa baru UGM untuk mengenal lebih dekat dunia yang kelak mereka bangun: perikanan Indonesia yang inovatif, produktif, dan berkelanjutan.

Semarak HUT ke-63, Departemen Perikanan UGM Gelar Lomba Mewarnai untuk Anak TK

Berita Senin, 7 September 2026

Yogyakarta, 28 Agustus 2026 — Semarak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-63 Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada (UGM) tidak hanya dirasakan oleh sivitas akademika dan masyarakat umum. Keceriaan juga hadir dari anak-anak usia Taman Kanak-Kanak (TK) yang mengikuti Lomba Mewarnai sebagai bagian dari rangkaian perayaan HUT Departemen Perikanan UGM.

Kegiatan ini menjadi salah satu agenda yang menghadirkan suasana berbeda dalam perayaan HUT ke-63. Dengan melibatkan anak-anak usia dini, Departemen Perikanan UGM berupaya memperkenalkan dunia perikanan dan lingkungan perairan melalui pendekatan yang menyenangkan, kreatif, dan sesuai dengan dunia anak.

Lomba mewarnai memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk mengekspresikan kreativitas dan imajinasi mereka melalui gambar bertema perikanan. Dengan pensil warna dan berbagai pilihan warna, peserta menuangkan ide dan kreativitas masing-masing untuk menghasilkan karya yang menarik.

Lebih dari sekadar perlombaan, kegiatan ini menjadi sarana edukasi untuk mengenalkan ikan dan kehidupan perairan kepada anak sejak usia dini. Dunia perikanan yang sering kali dipahami sebagai bidang produksi dan pemanfaatan sumber daya, diperkenalkan melalui cara sederhana yang dekat dengan kehidupan anak-anak.

Melalui gambar ikan, lingkungan perairan, dan berbagai elemen yang berkaitan dengan dunia perikanan, anak-anak diajak untuk mengenal sekaligus membangun kedekatan dengan sumber daya perairan yang menjadi bagian penting kehidupan masyarakat Indonesia.

Bagi Departemen Perikanan UGM, pelibatan anak-anak dalam rangkaian HUT menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran bahwa keberlanjutan perikanan merupakan tanggung jawab lintas generasi.

Pengenalan mengenai ikan dan lingkungan perairan sejak dini diharapkan dapat menumbuhkan rasa ingin tahu serta kepedulian anak terhadap lingkungan. Pesan mengenai menjaga kebersihan perairan, mengenal keanekaragaman ikan, dan menghargai sumber daya alam dapat disampaikan melalui kegiatan yang sederhana namun menyenangkan.

Pada saat yang sama, lomba mewarnai juga memberikan ruang bagi anak-anak untuk mengembangkan kreativitas, keberanian berekspresi, ketelitian, dan rasa percaya diri. Setiap karya menjadi representasi imajinasi dan cara pandang anak terhadap dunia di sekitarnya.

Kehadiran peserta usia TK memberikan warna tersendiri dalam rangkaian HUT ke-63 Departemen Perikanan UGM. Suasana kompetisi yang penuh semangat berpadu dengan kegembiraan anak-anak, menjadikan kegiatan ini tidak hanya sebagai ajang mencari pemenang, tetapi juga sebagai ruang kebersamaan antara anak, orang tua, dan keluarga besar Departemen Perikanan.

Kegiatan tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa perayaan ulang tahun Departemen Perikanan dapat menjadi momentum untuk membangun kedekatan dengan masyarakat dari berbagai kelompok usia. Pendidikan mengenai perikanan dan lingkungan tidak harus selalu disampaikan melalui ruang kelas atau forum akademik, tetapi dapat dimulai melalui kegiatan kreatif yang menyenangkan.

Melalui lomba mewarnai, Departemen Perikanan UGM turut menanamkan pesan bahwa generasi masa depan perlu mengenal, mencintai, dan menjaga sumber daya perairan sejak dini. Anak-anak yang hari ini menuangkan warna pada gambar ikan diharapkan kelak tumbuh menjadi generasi yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan memahami pentingnya sumber daya perikanan bagi kehidupan.

Kegiatan ini turut mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), dan SDG 14 (Ekosistem Lautan) melalui pendidikan lingkungan sejak usia dini dan pengenalan pentingnya menjaga sumber daya perairan.

Dari goresan warna anak-anak hari ini, Departemen Perikanan UGM menanamkan harapan untuk lahirnya generasi masa depan yang mengenal, mencintai, dan menjaga perairan Indonesia.

Semarak HUT ke-63, Departemen Perikanan UGM Gelar Bazar GEMARIKAN 2026 Dorong Konsumsi dan Produk Olahan Ikan Lokal

Berita Senin, 7 September 2026

Yogyakarta, 28 Agustus 2026 — Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke-63, Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada (UGM) menyelenggarakan Bazar GEMARIKAN 2026 pada Jumat (28/8). Bertempat di Lapangan Gedung A4 Departemen Perikanan UGM, kegiatan ini menghadirkan beragam produk ikan dan olahan hasil perikanan sebagai bagian dari upaya mendorong masyarakat untuk semakin gemar mengonsumsi ikan.

Bazar yang berlangsung pukul 08.00–11.00 WIB tersebut diselenggarakan bekerja sama dengan Dinas Kelautan dan Perikanan Daerah Istimewa Yogyakarta (Dislautkan DIY). Kegiatan menjadi salah satu bentuk sinergi antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah dalam memperkenalkan produk perikanan sekaligus mengampanyekan pentingnya konsumsi ikan bagi masyarakat.

Mengusung semangat “Ikan Sehat, Generasi Kuat, Indonesia Hebat!”, Bazar GEMARIKAN tidak sekadar menjadi kegiatan perayaan ulang tahun, tetapi juga menjadi ruang untuk mendekatkan produk perikanan kepada konsumen serta menunjukkan bahwa ikan dapat diolah menjadi beragam produk pangan yang menarik, praktis, dan sesuai dengan selera masyarakat masa kini.

Sebanyak 13 tenant turut meramaikan Bazar GEMARIKAN 2026. Berbagai produk segar dan olahan ikan ditawarkan kepada pengunjung, mulai dari fresh fish hingga produk siap santap dengan beragam inovasi.

Tenant yang berpartisipasi meliputi Zamida Food, Phinisi Burger, Siomay Dimsum Batagor Fareta, Fania Food, Eldinam’s Food, Iwakku Foods, Fresh Fish, Orange Food, Simbokke Bu Nur Sambal Ikan, Khanza Food, Pempek Paris, Bakwan Udang, dan Ashlan Food.

Keberagaman produk tersebut menunjukkan bahwa komoditas perikanan memiliki peluang pengembangan yang luas. Ikan tidak hanya dapat dipasarkan dalam bentuk segar, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi berbagai produk bernilai tambah yang lebih dekat dengan preferensi konsumen.

Mulai dari burger, siomay, dimsum, batagor, pempek, sambal ikan hingga bakwan udang menjadi contoh bagaimana kreativitas pengolahan mampu meningkatkan daya tarik produk perikanan. Inovasi semacam ini sekaligus membuka peluang lebih luas bagi pengembangan usaha dan kewirausahaan berbasis hasil perikanan.

Bazar ini membawa semangat Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (GEMARIKAN) dengan mengajak sivitas akademika dan masyarakat untuk meningkatkan konsumsi ikan sebagai bagian dari pola pangan yang beragam dan bergizi.

Ikan merupakan salah satu sumber protein hewani yang penting serta menyediakan berbagai zat gizi yang dibutuhkan tubuh. Karena itu, membangun kebiasaan mengonsumsi ikan juga menjadi bagian penting dalam mendukung kualitas sumber daya manusia Indonesia.

Namun, GEMARIKAN tidak hanya berbicara mengenai konsumsi. Di balik setiap produk ikan terdapat rantai ekonomi yang melibatkan pembudidaya, nelayan, pengolah, pedagang, pelaku UMKM, hingga konsumen. Meningkatnya minat masyarakat terhadap produk perikanan pada akhirnya dapat turut membuka peluang ekonomi bagi para pelaku yang berada di sepanjang rantai nilai tersebut.

Melalui Bazar GEMARIKAN, Departemen Perikanan UGM ingin memperlihatkan bahwa upaya meningkatkan konsumsi ikan dapat berjalan beriringan dengan pengembangan inovasi produk dan penguatan ekonomi pelaku usaha perikanan lokal.

Pelaksanaan Bazar GEMARIKAN juga mencerminkan peran Departemen Perikanan UGM sebagai institusi pendidikan yang tidak hanya mengembangkan pengetahuan dan teknologi perikanan, tetapi juga berupaya mendekatkan hasil dan semangat pengembangan sektor perikanan kepada masyarakat.

Kolaborasi dengan Dislautkan DIY menjadi bagian penting dari upaya tersebut. Sinergi antara akademisi, pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat diperlukan untuk membangun sektor perikanan yang tidak hanya produktif, tetapi juga mampu menciptakan nilai tambah dan memberikan manfaat ekonomi yang semakin luas.

Momentum HUT ke-63 Departemen Perikanan UGM pun menjadi kesempatan untuk mengingat kembali perjalanan panjang Departemen Perikanan dalam menjalankan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Perayaan tidak hanya diwujudkan melalui kegiatan seremonial, tetapi juga melalui aktivitas yang memberikan ruang bagi masyarakat untuk mengenal lebih dekat potensi perikanan.

Bazar GEMARIKAN 2026 sekaligus menjadi ajakan sederhana kepada masyarakat: datang, cicipi, konsumsi ikan, dan dukung produk perikanan lokal. Dari pilihan pangan sehari-hari, masyarakat dapat turut berkontribusi terhadap kesehatan keluarga sekaligus keberlanjutan ekonomi para pelaku usaha perikanan.

Kegiatan ini selaras dengan Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 2 (Tanpa Kelaparan) dan SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) melalui promosi pangan bergizi berbasis ikan; SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui dukungan terhadap usaha dan produk perikanan lokal; SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) melalui pengembangan konsumsi produk perikanan bernilai tambah; serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui kolaborasi Departemen Perikanan UGM, pemerintah daerah, pelaku usaha, dan masyarakat.

Melalui semangat “Ikan Sehat, Generasi Kuat, Indonesia Hebat!”, Departemen Perikanan UGM berharap Bazar GEMARIKAN 2026 dapat menumbuhkan kecintaan masyarakat terhadap produk perikanan sekaligus memperkuat peran ikan sebagai sumber pangan bergizi dan penggerak ekonomi lokal menuju pembangunan perikanan Indonesia yang berkelanjutan.

Teknologi Hasil Perikanan UGM Raih Akreditasi Unggul, Teguhkan Komitmen Pendidikan dan Inovasi Perikanan Berkelanjutan

Berita Senin, 7 September 2026

Yogyakarta, 2 September 2026 — Kabar membanggakan kembali hadir dari Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada (UGM). Program Studi Teknologi Hasil Perikanan (THP) berhasil memperoleh status akreditasi Unggul dari Lembaga Akreditasi Mandiri Pendidikan Tinggi Ilmu Pertanian (LAM-PTIP).

Berdasarkan Keputusan Nomor 001/SK/LAMPTIP/Ak.U/S/VIII/2026, status akreditasi Unggul tersebut berlaku sejak 6 Juli 2026 hingga 5 Juli 2031, dengan nilai asesmen 365,68. Keputusan tersebut ditetapkan di Surakarta pada 24 Agustus 2026 oleh Direktur Dewan Eksekutif LAM-PTIP, Prof. Dr. Ir. Samanhudi, S.P., M.Si., IPU, ASEAN Eng., APEC Eng.

Predikat Unggul menjadi bentuk pengakuan terhadap kualitas penyelenggaraan pendidikan di Program Studi THP UGM. Bagi Departemen Perikanan, capaian ini tidak hanya menjadi pengakuan formal, tetapi juga mencerminkan komitmen sivitas akademika dalam membangun pendidikan perikanan yang adaptif, inovatif, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat serta dunia industri.

Bidang Teknologi Hasil Perikanan memiliki posisi strategis dalam rantai nilai perikanan. Sumber daya ikan tidak cukup hanya ditangkap atau dibudidayakan, tetapi perlu ditangani dan diolah secara tepat agar menghasilkan nilai tambah yang lebih tinggi, aman dikonsumsi, memiliki daya saing, dan dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.

Karena itu, pengembangan kompetensi lulusan THP tidak hanya mencakup teknologi pengolahan, tetapi juga mencakup kemampuan memahami keamanan pangan, pengembangan produk, bioteknologi, inovasi, hingga pengelolaan industri hasil perikanan. Profil lulusan yang dikembangkan juga diarahkan untuk menjawab kebutuhan dunia kerja, mulai dari wirausaha dan profesional hingga ASN dan asisten peneliti.

Indonesia memiliki potensi sumber daya perikanan yang besar. Namun, tantangan sektor ini tidak berhenti pada produksi. Kehilangan hasil, keterbatasan teknologi pascapanen, rendahnya diversifikasi produk, serta kebutuhan terhadap pangan yang aman dan berkualitas menjadi tantangan yang membutuhkan inovasi.

Dalam konteks tersebut, THP UGM berperan penting dalam mengembangkan ilmu dan teknologi untuk meningkatkan nilai ekonomi hasil perikanan. Pengembangan teknologi pengolahan, inovasi produk, bioteknologi hasil perairan, serta pemanfaatan hasil samping dapat menjadi bagian dari upaya membangun industri perikanan yang lebih efisien dan berkelanjutan.

Komitmen tersebut juga sejalan dengan visi THP UGM untuk menghasilkan lulusan yang unggul dalam ilmu pengetahuan dan teknologi hasil perikanan serta mampu berkontribusi dalam pemanfaatan sumber daya ikan dan kelautan secara optimal, lestari, dan bermanfaat.

Capaian akreditasi ini juga tidak terlepas dari proses panjang peningkatan mutu yang melibatkan berbagai unsur Departemen Perikanan UGM. Sebelumnya, Departemen Perikanan telah melakukan berbagai persiapan dan koordinasi untuk menghadapi asesmen lapangan LAM-PTIP, yang melibatkan dosen, pengelola program studi, tenaga kependidikan, mahasiswa, alumni, serta mitra pengguna lulusan.

Proses tersebut menjadi momentum untuk mengevaluasi berbagai aspek penyelenggaraan pendidikan, mulai dari kurikulum, sumber daya manusia, proses pembelajaran, penelitian, luaran lulusan, fasilitas, hingga jejaring kerja sama.

Dengan diraihnya akreditasi Unggul, Departemen Perikanan UGM menempatkan capaian tersebut bukan sebagai titik akhir, melainkan sebagai landasan untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan, penelitian, inovasi, dan kontribusi THP bagi pembangunan perikanan Indonesia.

Ke depan, tantangan sektor perikanan akan semakin kompleks. Perubahan iklim, tuntutan keamanan pangan, perkembangan teknologi, kebutuhan industri terhadap produk inovatif, serta tuntutan keberlanjutan menuntut sumber daya manusia yang mampu berpikir lintas disiplin.

Dalam konteks ekonomi biru, teknologi hasil perikanan memiliki peran penting untuk memastikan bahwa sumber daya akuatik yang telah dimanfaatkan dapat memberikan nilai ekonomi maksimal dengan tetap memperhatikan efisiensi sumber daya dan dampak lingkungan.

Lulusan THP diharapkan mampu menjadi bagian dari transformasi tersebut, baik melalui pengembangan industri pengolahan, kewirausahaan, penelitian dan inovasi, maupun pengembangan kebijakan dan pelayanan publik.

Capaian akreditasi Unggul Program Studi Teknologi Hasil Perikanan UGM sekaligus memperkuat kontribusi Departemen Perikanan terhadap Sustainable Development Goals (SDGs). Pendidikan berkualitas mendukung SDG 4, sementara pengembangan teknologi dan inovasi hasil perikanan berkontribusi pada SDG 9. Pengembangan produk pangan berbasis ikan juga mendukung SDG 2, sedangkan efisiensi proses pengolahan, pemanfaatan hasil samping, dan pengurangan limbah mendukung SDG 12.

Pada akhirnya, penguatan teknologi pascapanen dan pengolahan juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan nilai ekonomi sumber daya perikanan sekaligus mendorong pemanfaatan sumber daya akuatik secara lebih bertanggung jawab, sejalan dengan SDG 14.

Akreditasi Unggul THP UGM menjadi bukti bahwa pendidikan perikanan tidak hanya mempersiapkan lulusan untuk bekerja, tetapi juga menyiapkan talenta yang mampu mengubah potensi sumber daya perikanan menjadi inovasi, nilai tambah, dan solusi bagi masa depan ekonomi biru Indonesia yang berkelanjutan.

Magister Ilmu Perikanan UGM Raih Akreditasi Unggul LAM-PTIP, Teguhkan Komitmen Pendidikan Perikanan Berkualitas

Berita Senin, 7 September 2026

Yogyakarta, 2 September 2026 — Kabar membanggakan datang dari Program Studi Magister Ilmu Perikanan, Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada (UGM). Program studi tersebut berhasil memperoleh akreditasi Unggul dari Lembaga Akreditasi Mandiri Pendidikan Tinggi Ilmu Pertanian (LAM-PTIP), menegaskan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam menghadirkan pendidikan pascasarjana yang bermutu, relevan, dan berdaya saing.

Penetapan tersebut berdasarkan Keputusan LAM-PTIP Nomor 002/SK/LAMPTIP/Ak.U/Mg/VIII/2026. Status akreditasi Unggul berlaku sejak 6 Juli 2026 hingga 5 Juli 2031, dengan nilai asesmen sebesar 376,22. Keputusan tersebut secara resmi ditetapkan di Surakarta oleh Direktur Dewan Eksekutif LAM-PTIP, Prof. Dr. Ir. Samanhudi, S.P., M.Si., IPU, ASEAN Eng., APEC Eng., pada 24 Agustus 2026.

Predikat Unggul merupakan capaian penting bagi Program Studi Magister Ilmu Perikanan UGM. Akreditasi tersebut menjadi bentuk pengakuan terhadap kualitas penyelenggaraan pendidikan, tata kelola akademik, serta proses pembelajaran yang dikembangkan oleh program studi.

Bagi Departemen Perikanan UGM, capaian ini bukan sekadar pencapaian administratif, melainkan bagian dari proses berkelanjutan untuk memastikan bahwa pendidikan magister mampu menjawab kebutuhan sektor perikanan yang terus berkembang.

Perubahan lingkungan, perkembangan teknologi, dinamika ekonomi perikanan, perubahan sosial masyarakat pesisir, serta tuntutan terhadap pengelolaan sumber daya yang berkelanjutan membutuhkan sumber daya manusia dengan kapasitas akademik dan kemampuan analitis yang kuat.

Dalam konteks tersebut, pendidikan magister memiliki peran strategis dalam membentuk ilmuwan, peneliti, profesional, dan pengambil kebijakan masa depan bidang perikanan.

Akreditasi Unggul juga menjadi momentum bagi Program Magister Ilmu Perikanan untuk terus memperkuat ekosistem penelitian dan inovasi. Pengembangan ilmu perikanan tidak dapat dilepaskan dari kebutuhan untuk menghasilkan pengetahuan yang mampu menjawab persoalan nyata di lapangan.

Berbagai tantangan seperti keberlanjutan sumber daya ikan, perubahan iklim, transformasi teknologi, ketahanan pangan, pengembangan akuakultur, pengolahan hasil perikanan, hingga kesejahteraan masyarakat pesisir membutuhkan pendekatan yang semakin multidisiplin.

Karena itu, pendidikan magister di bidang perikanan tidak hanya diarahkan pada penguasaan teori, tetapi juga pada kemampuan mahasiswa untuk menghasilkan penelitian, mengembangkan inovasi, serta merumuskan solusi berbasis bukti.

Capaian akreditasi ini sekaligus memperkuat posisi Program Magister Ilmu Perikanan sebagai bagian dari ekosistem pendidikan dan penelitian UGM yang berkontribusi terhadap pengembangan sektor perikanan Indonesia.

Sebagai negara kepulauan, Indonesia membutuhkan sumber daya manusia yang mampu mengelola potensi kelautan dan perikanan secara produktif sekaligus berkelanjutan.

Dalam konteks ekonomi biru, pengembangan sektor perikanan membutuhkan lulusan yang mampu melihat hubungan antara aspek ekologis, ekonomi, sosial, teknologi, dan kelembagaan. Pendidikan magister menjadi salah satu ruang penting untuk membangun kapasitas tersebut.

Program Magister Ilmu Perikanan UGM diharapkan terus menghasilkan lulusan yang mampu berkontribusi di berbagai bidang, baik sebagai akademisi dan peneliti, profesional, birokrat, maupun penggerak inovasi dan pembangunan masyarakat.

Dengan demikian, predikat Unggul bukan menjadi titik akhir, tetapi landasan untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan, penelitian, dan kontribusi nyata Departemen Perikanan UGM bagi pembangunan perikanan nasional dan global.

Pencapaian akreditasi Unggul ini juga memperkuat kontribusi Departemen Perikanan UGM terhadap Sustainable Development Goals (SDGs). Penyelenggaraan pendidikan magister yang berkualitas secara langsung mendukung SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), sementara pengembangan riset dan inovasi berkontribusi pada SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur).

Pada saat yang sama, penguatan ilmu pengetahuan dan kapasitas sumber daya manusia di bidang perikanan menjadi bagian penting dalam mendukung SDG 14 (Ekosistem Lautan) melalui pengembangan pengelolaan sumber daya perikanan yang berkelanjutan. Penguatan jejaring penelitian, pendidikan, dan pengabdian masyarakat juga mendukung SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan).

Dengan diraihnya akreditasi Unggul, Departemen Perikanan UGM menegaskan komitmennya untuk terus membangun pendidikan perikanan yang unggul, menghasilkan pengetahuan dan inovasi, serta menyiapkan generasi akademisi dan profesional yang mampu menjadikan sumber daya kelautan dan perikanan sebagai fondasi pembangunan Indonesia yang berkelanjutan.

Pra Kenal Perikanan UGM Sambut Mahasiswa Baru dengan Semangat Kekeluargaan dan Kreativitas

Berita Senin, 7 September 2026

Yogyakarta, 24 Agustus 2026 — Memulai perjalanan sebagai bagian dari keluarga besar Departemen Perikanan, mahasiswa baru Program Studi Akuakultur, Magister Sains Agribisnis (MSA), dan Teknologi Hasil Perikanan (THP) Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) mengikuti rangkaian kegiatan Pra Kenal Perikanan pada Senin (24/8). Kegiatan yang berlangsung di Auditorium Fakultas Pertanian UGM ini menjadi momentum untuk memperkenalkan lingkungan akademik sekaligus membangun kedekatan antara mahasiswa baru, mahasiswa senior, dosen, dan keluarga besar Departemen Perikanan.

Kegiatan Pra Kenal Perikanan berlangsung dalam suasana yang hangat dan penuh semangat. Rangkaian acara diawali dengan menyanyikan Indonesia Raya dan Hymne Gadjah Mada, dilanjutkan dengan sambutan serta pengenalan Departemen Perikanan yang disampaikan oleh Prof. Alim, serta berbagai penampilan kreatif dari mahasiswa dan dosen.

Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang pengenalan institusi, tetapi juga menjadi ruang bagi mahasiswa baru untuk mulai mengenal berbagai karakter dan budaya akademik yang ada di Departemen Perikanan. Mahasiswa dari berbagai program studi mendapatkan kesempatan untuk berinteraksi dan membangun jejaring sejak awal masa perkuliahan.

Mengenal Perikanan melalui Kreativitas Mahasiswa

Salah satu bagian yang menarik dalam kegiatan Pra Kenal Perikanan adalah hadirnya berbagai penampilan mahasiswa, termasuk perwakilan mahasiswa Program Studi Akuakultur, MSA, dan THP. Penampilan tersebut memberikan warna tersendiri sekaligus menunjukkan bahwa kehidupan mahasiswa di Departemen Perikanan tidak hanya berkutat pada aktivitas akademik.

Kreativitas, kolaborasi, komunikasi, dan kemampuan bekerja dalam tim menjadi bagian penting dari pengalaman mahasiswa selama berada di UGM. Melalui kegiatan seperti ini, mahasiswa baru diajak untuk melihat bahwa perjalanan menjadi insan perikanan juga dibangun melalui pengalaman berorganisasi, berkegiatan bersama, dan berinteraksi dengan sesama.

Tidak ketinggalan, para dosen Departemen Perikanan juga turut memberikan penampilan. Kehadiran dosen dalam suasana yang lebih informal tersebut memperkuat pesan bahwa hubungan akademik di Departemen Perikanan dibangun tidak hanya melalui proses pembelajaran di kelas, tetapi juga melalui interaksi dan kebersamaan.

Menjadi Bagian dari Keluarga Besar Perikanan UGM

Pra Kenal Perikanan juga menjadi kesempatan bagi mahasiswa baru untuk mengenal lebih dekat lingkungan Departemen Perikanan dan program studi yang akan menjadi bagian dari perjalanan akademik mereka.

Setelah rangkaian kegiatan bersama di Auditorium Fakultas Pertanian, mahasiswa kemudian mengikuti sesi pengenalan program studi secara paralel. Mahasiswa Akuakultur mengikuti sesi di Ruang 302 Departemen Sosial Ekonomi Pertanian, mahasiswa THP di Auditorium MMA, sedangkan mahasiswa MSA mengikuti sesi di Auditorium Fakultas.

Pengenalan program studi tersebut menjadi langkah awal bagi mahasiswa untuk memahami karakter keilmuan, lingkungan pembelajaran, serta berbagai peluang yang dapat mereka kembangkan selama menempuh pendidikan.

Bagi mahasiswa baru, memasuki perguruan tinggi merupakan fase baru yang penuh tantangan sekaligus peluang. Karena itu, kegiatan Pra Kenal Perikanan diharapkan dapat membantu mahasiswa membangun rasa memiliki terhadap Departemen Perikanan sejak hari pertama.

Lebih dari sekadar kegiatan penyambutan, Pra Kenal Perikanan menjadi awal perjalanan untuk membangun identitas sebagai bagian dari generasi baru perikanan Indonesia. Mahasiswa diharapkan tidak hanya tumbuh menjadi insan yang memiliki kompetensi akademik, tetapi juga mampu berkolaborasi, berinovasi, dan memberikan kontribusi bagi masyarakat serta keberlanjutan sumber daya perikanan.

Melalui semangat kebersamaan yang dibangun sejak awal, Departemen Perikanan UGM terus mendorong lahirnya generasi yang mampu menghubungkan ilmu pengetahuan, kreativitas, teknologi, dan kepedulian terhadap lingkungan untuk membangun masa depan perikanan Indonesia yang lebih maju dan berkelanjutan.

Kegiatan ini turut mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), SDG 14 (Ekosistem Lautan), dan SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui penguatan pendidikan, pembentukan generasi muda perikanan, serta pembangunan jejaring dan kolaborasi sejak awal perjalanan akademik mahasiswa.

Kuliah Perdana Departemen Perikanan UGM Hadirkan Sekjen KKP, Dorong Generasi Baru Perikanan Siap Wujudkan Blue Economy

Berita Senin, 7 September 2026

Yogyakarta, 24 Agustus 2026 — Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada (UGM) menggelar Kuliah Perdana Tahun Akademik 2026/2027 dengan mengangkat tema “Generasi Baru Perikanan Indonesia: Membangun Talenta Unggul untuk Mendukung Blue Economy dan Indonesia Emas 2045”. Kegiatan ini berlangsung pada Senin (24/8) di Auditorium Harjono Danoesastro, Fakultas Pertanian UGM.

Kuliah perdana tersebut menghadirkan Dr. Ir. Andy Artha Donny Oktopura, S.T., M.Sc., Sekretaris Jenderal Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia, sebagai narasumber. Kegiatan ini secara khusus ditujukan bagi mahasiswa baru Program Sarjana Departemen Perikanan Faperta UGM angkatan 2026 sebagai bagian dari pengenalan awal terhadap perkembangan, tantangan, dan peluang sektor perikanan Indonesia.

Mengawali perjalanan akademik mahasiswa baru, kuliah perdana menjadi ruang untuk mempertemukan mahasiswa dengan perspektif praktis mengenai arah pembangunan kelautan dan perikanan nasional. Kehadiran Sekretaris Jenderal KKP memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk memperoleh gambaran langsung mengenai kebutuhan sumber daya manusia dan kompetensi yang diperlukan dalam menghadapi transformasi sektor kelautan dan perikanan.

Tema “Generasi Baru Perikanan Indonesia” menegaskan bahwa pembangunan sektor perikanan pada masa mendatang membutuhkan talenta yang tidak hanya menguasai pengetahuan teknis, tetapi juga memiliki kemampuan beradaptasi, berinovasi, berkolaborasi, serta memahami keterkaitan antara aspek ekonomi, sosial, teknologi, dan lingkungan.

Konsep blue economy menjadi salah satu perspektif penting yang diperkenalkan kepada mahasiswa. Ekonomi biru menempatkan sumber daya laut dan perairan sebagai modal pembangunan yang perlu dimanfaatkan secara produktif sekaligus dijaga keberlanjutannya. Bagi generasi muda perikanan, pendekatan tersebut membuka ruang pengembangan berbagai inovasi, mulai dari perikanan tangkap berkelanjutan, akuakultur, teknologi digital, pengolahan hasil perikanan, hingga pengelolaan ekosistem dan sumber daya pesisir.

Kuliah perdana juga menjadi momentum bagi Departemen Perikanan UGM untuk menanamkan perspektif bahwa masa depan perikanan Indonesia sangat bergantung pada kualitas sumber daya manusianya. Mahasiswa sebagai generasi baru diharapkan mampu melihat sektor perikanan bukan semata sebagai kegiatan produksi, tetapi sebagai bagian strategis dari ketahanan pangan, ekonomi, kesejahteraan masyarakat, dan keberlanjutan lingkungan.

Bagi mahasiswa baru, kegiatan ini sekaligus menjadi langkah awal untuk membangun orientasi akademik dan profesional selama menempuh pendidikan di Departemen Perikanan. Interaksi dengan pemangku kebijakan nasional diharapkan dapat memberikan inspirasi mengenai berbagai peluang kontribusi yang dapat dikembangkan setelah menyelesaikan pendidikan.

Melalui Kuliah Perdana 2026, Departemen Perikanan UGM terus meneguhkan komitmennya dalam mempersiapkan generasi perikanan yang unggul, adaptif, inovatif, dan berwawasan keberlanjutan untuk berkontribusi dalam mewujudkan ekonomi biru serta mendukung pencapaian Indonesia Emas 2045.

Kegiatan ini juga sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), SDG 14 (Ekosistem Lautan), dan SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui penguatan kapasitas generasi muda, pengembangan talenta perikanan, serta kolaborasi antara perguruan tinggi dan pemerintah dalam mewujudkan pembangunan kelautan dan perikanan yang berkelanjutan.

Departemen Perikanan UGM Gelar Pengabdian di Embung Tambakboyo, Dorong Kepedulian Lingkungan dan Gemar Makan Ikan

Berita Senin, 7 September 2026

Yogyakarta, 21 Agustus 2026 — Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada (UGM), Departemen Perikanan UGM melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Embung Tambakboyo pada Jumat (21/8). Kegiatan yang berlangsung pukul 07.30–10.00 WIB tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kepedulian terhadap lingkungan perairan sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya konsumsi ikan.

Mengusung semangat “Bersama menjaga embung, bersama membangun masa depan perikanan!”, kegiatan pengabdian ini menghadirkan rangkaian aktivitas yang menggabungkan aksi lingkungan dan edukasi masyarakat. Tiga kegiatan utama yang dilaksanakan meliputi bersih embung, pemasangan papan anjuran kebersihan, serta sosialisasi Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan).

Kegiatan diawali dengan aksi bersih-bersih di kawasan Embung Tambakboyo. Civitas akademika dan peserta kegiatan bersama-sama melakukan pengumpulan sampah di sekitar kawasan embung sebagai bentuk kepedulian terhadap kebersihan lingkungan perairan. Kebersihan kawasan embung memiliki arti penting, tidak hanya dari aspek estetika, tetapi juga dalam menjaga kualitas lingkungan perairan. Sampah yang masuk ke badan air berpotensi mengganggu kualitas perairan dan ekosistem di dalamnya. Karena itu, kegiatan bersih embung diharapkan dapat menjadi momentum untuk membangun kesadaran bersama bahwa menjaga lingkungan perairan merupakan tanggung jawab seluruh masyarakat.

Kegiatan tersebut sekaligus menjadi sarana bagi Departemen Perikanan UGM untuk memperkenalkan perspektif perikanan yang tidak hanya berorientasi pada pemanfaatan sumber daya, tetapi juga pada pemeliharaan ekosistem sebagai fondasi keberlanjutan perikanan.

 

Pemasangan Papan Anjuran untuk Mendorong Perilaku Ramah Lingkungan

Selain aksi bersih embung, kegiatan pengabdian juga diisi dengan pemasangan papan anjuran menjaga kebersihan di kawasan Embung Tambakboyo. Papan tersebut mengajak pengunjung untuk tidak membuang sampah sembarangan dan membuang sampah pada tempat yang telah disediakan.

Keberadaan papan anjuran diharapkan dapat menjadi pengingat bagi masyarakat untuk turut menjaga kebersihan kawasan embung, terutama karena ruang publik seperti Embung Tambakboyo dimanfaatkan oleh masyarakat untuk berbagai aktivitas.

Pendekatan edukatif ini menunjukkan bahwa pengelolaan lingkungan tidak cukup hanya dilakukan melalui kegiatan fisik, tetapi juga perlu diikuti dengan perubahan perilaku dan peningkatan kesadaran masyarakat.

Kegiatan juga dilengkapi dengan sosialisasi Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan). Melalui kegiatan tersebut, Departemen Perikanan UGM turut mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya konsumsi ikan sebagai bagian dari pola makan yang sehat dan bergizi.

Sebagai negara kepulauan dengan sumber daya perikanan yang besar, Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadikan ikan sebagai bagian penting dari sistem pangan masyarakat. Karena itu, peningkatan konsumsi ikan perlu berjalan beriringan dengan upaya menjaga keberlanjutan sumber daya perikanan dan ekosistem perairan.

Kegiatan Gemarikan juga menjadi bentuk nyata kontribusi Departemen Perikanan UGM dalam menghubungkan ilmu perikanan, kesehatan masyarakat, ketahanan pangan, dan keberlanjutan lingkungan. Kegiatan pengabdian di Embung Tambakboyo memperlihatkan bahwa peran perguruan tinggi tidak berhenti pada pengembangan ilmu pengetahuan di ruang kelas dan laboratorium. Pengetahuan tersebut perlu diterjemahkan menjadi aksi nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan.

Melalui kegiatan sederhana seperti membersihkan embung, memasang papan edukasi, dan mengampanyekan konsumsi ikan, Departemen Perikanan UGM menegaskan komitmennya untuk terus berkontribusi dalam membangun kesadaran masyarakat terhadap pentingnya ekosistem perairan dan sumber daya perikanan yang berkelanjutan. Kegiatan ini sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 6 (Air Bersih dan Sanitasi), SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), SDG 14 (Ekosistem Lautan), serta SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera), melalui upaya menjaga lingkungan perairan, mendorong perilaku konsumsi yang bertanggung jawab, dan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap manfaat konsumsi ikan.

PelletQ-AI: Inovasi Mahasiswa UGM Integrasikan AI dan Mesin Otomatis untuk Wujudkan Kemandirian Pakan Ikan

BeritaUncategorized Senin, 7 September 2026

Tim Program Kreativitas Mahasiswa–Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (PKM-PI) Universitas Gadjah Mada (UGM) berhasil merealisasikan PelletQ-AI, sebuah sistem produksi pakan ikan yang mengintegrasikan platform web, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), dan mesin produksi pelet otomatis. Inovasi ini dikembangkan untuk membantu pembudidaya menghasilkan pakan ikan secara mandiri melalui proses formulasi dan produksi yang terintegrasi, sehingga dapat menekan biaya produksi sekaligus memenuhi kebutuhan nutrisi ikan sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI).

Pengembangan PelletQ-AI berangkat dari permasalahan yang dihadapi mitra, yaitu Budidaya Lele Pak Nanang di Kalurahan Sumbersari, Kecamatan Moyudan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Dalam usaha budidaya lele, biaya pakan masih menjadi salah satu komponen terbesar dalam biaya produksi, yakni mencapai lebih dari 60–70 persen. Kenaikan harga pakan komersial yang tidak diimbangi dengan peningkatan harga jual ikan menyebabkan keuntungan pembudidaya semakin tertekan. Kondisi tersebut membuat ketergantungan terhadap pakan komersial masih relatif tinggi.

Selain tingginya biaya pakan, mitra juga belum memiliki fasilitas untuk memproduksi pakan secara mandiri. Ketiadaan mesin produksi pakan serta sistem yang dapat membantu menyusun formulasi sesuai dengan kebutuhan nutrisi ikan menyebabkan mitra bergantung sepenuhnya pada pakan komersial. Berangkat dari permasalahan tersebut, tim PKM-PI UGM mengembangkan PelletQ-AI sebagai solusi yang mengintegrasikan teknologi digital dengan sistem produksi pakan dalam satu ekosistem.

Berbeda dengan mesin pencetak pelet konvensional, PelletQ-AI dilengkapi dengan platform web app.pelletqai.com yang terhubung langsung dengan sistem kecerdasan buatan. Melalui platform tersebut, pembudidaya hanya perlu memasukkan data budidaya serta informasi mengenai bahan baku yang tersedia dan harganya. Selanjutnya, sistem AI melakukan optimasi untuk menghasilkan formulasi pakan dengan biaya serendah mungkin tanpa mengabaikan pemenuhan kebutuhan nutrisi sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI). Hasil optimasi tersebut kemudian dikirimkan secara otomatis ke mesin PelletQ-AI sebagai acuan dalam proses produksi.

Seluruh proses produksi dilakukan secara otomatis di dalam mesin, mulai dari pencampuran bahan baku, pemasakan menggunakan sistem pemanas (heater), ekstrusi, pencetakan, hingga pemotongan pelet dalam satu rangkaian kerja yang terintegrasi. Dengan demikian, pelet yang dihasilkan telah matang dan siap digunakan sebagai pakan ikan tanpa memerlukan proses lanjutan.

Ketua Tim PKM-PI UGM, R. Gumilang Fikri Rahadiansyah Sanyata, menjelaskan bahwa PelletQ-AI dirancang untuk menjawab permasalahan pembudidaya secara menyeluruh.

“PelletQ-AI tidak hanya berfungsi sebagai mesin produksi pelet, tetapi merupakan sistem produksi pakan yang mengintegrasikan platform web, kecerdasan buatan, dan proses manufaktur dalam satu kesatuan. Melalui sistem ini, pembudidaya dapat memperoleh formulasi pakan dengan biaya yang lebih efisien namun tetap memenuhi standar nutrisi, kemudian langsung memproduksinya secara mandiri.”

Dosen pembimbing PKM-PI, Ir. Ridwan Wicaksono, S.T., M.Eng., Ph.D., menyampaikan bahwa inovasi ini menunjukkan bagaimana kolaborasi lintas disiplin mampu menghasilkan solusi yang aplikatif bagi masyarakat.

“PelletQ-AI merupakan contoh penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi yang menggabungkan aspek rekayasa mesin, kecerdasan buatan, teknologi informasi, dan akuakultur dalam satu sistem. Harapannya, inovasi ini dapat membantu meningkatkan efisiensi usaha budidaya serta mendorong pemanfaatan teknologi di sektor perikanan.”

Sebagai mitra program, Pak Nanang menyambut baik penerapan PelletQ-AI di lokasi budidayanya.

“Selama ini kami bergantung pada pakan komersial karena belum memiliki alat untuk memproduksi pakan sendiri. Dengan adanya PelletQ-AI, kami berharap dapat membuat pakan secara mandiri dengan biaya yang lebih terjangkau. Sistem berbasis web juga memudahkan kami memperoleh formulasi pakan tanpa harus menghitung komposisi bahan baku secara manual.”

Pengembangan PelletQ-AI juga sejalan dengan agenda Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 2 (Tanpa Kelaparan), SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur), serta SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab). Melalui peningkatan efisiensi produksi dan penguatan kemandirian pembudidaya dalam penyediaan pakan, inovasi ini berpotensi mendukung efisiensi usaha, penguatan ekonomi pembudidaya, serta penerapan teknologi dan inovasi dalam pembangunan sektor akuakultur yang lebih berkelanjutan.

PelletQ-AI merupakan hasil kolaborasi mahasiswa lintas disiplin Universitas Gadjah Mada yang terdiri atas R. Gumilang Fikri Rahadiansyah Sanyata (Teknik Industri), Muhammad Wafdan Taqiyya (Teknologi Informasi), Muhammad Zahir Ali (Teknik Elektro), Clarissa Cindy Marta Devany (Akuakultur), dan Farhan Dwi Prabowo (Teknologi Rekayasa Mesin), di bawah bimbingan Ir. Ridwan Wicaksono, S.T., M.Eng., Ph.D. dari Departemen Teknik Elektro dan Teknologi Informasi, Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada.

Setelah melalui tahapan identifikasi kebutuhan mitra, perancangan sistem, pengembangan platform web app.pelletqai.com, pembuatan mesin, hingga pengujian, PelletQ-AI kini telah berhasil direalisasikan di lokasi mitra. Tahapan selanjutnya meliputi pelatihan penggunaan sistem, pendampingan operasional, serta monitoring dan evaluasi untuk memastikan teknologi dapat dimanfaatkan secara optimal dan berkelanjutan.

Melalui program PKM-PI ini, Tim UGM berharap PelletQ-AI tidak hanya menjadi solusi bagi Budidaya Lele Pak Nanang, tetapi juga menjadi contoh penerapan teknologi tepat guna yang mampu mendukung kemandirian produksi pakan ikan di Indonesia. Ke depan, integrasi platform web, kecerdasan buatan, dan mesin produksi dalam PelletQ-AI diharapkan dapat membantu lebih banyak pembudidaya menghasilkan pakan berkualitas dengan biaya yang lebih efisien, sehingga turut meningkatkan daya saing sektor budidaya perikanan nasional.

1234…27
Universitas Gadjah Mada

Departemen Perikanan Fakultas Pertanian

Universitas Gadjah Mada
Gedung A4, Jl. Flora, Bulaksumur,Yogyakarta, 55281
 +62274-551218
 fish@ugm.ac.id

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY