• Tentang UGM
  • Faperta
  • IT Center
  • Perpustakaan
  • LPPM
  • Bahasa Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
Fakultas Pertanian
Departemen Perikanan
  • Profil
    • Tentang Kami
    • Struktur Organisasi
    • Staff Dosen
    • Staff Kependidikan
    • KERJA SAMA
  • Akademik
    • Program Studi Akuakultur
    • Program Studi Manajemen Sumberdaya Akuatik
    • Program Studi Teknologi Hasil Perikanan
    • Program Studi Magister Ilmu Perikanan
    • Program Studi Doktor Ilmu Perikanan dan Kelautan Tropis
  • Berita
  • Fasilitas
    • Laboratorium
    • Inkubator Mina Bisnis
    • delifiZ
  • Penjaminan Mutu
  • TUK
  • Organisasi
    • KMIP
    • Selam Perikanan
    • Bahari Pers
  • Download
    • Prosedur Persuratan
    • Prosedur Akademik Sarjana
    • Prosedur Akademik Pascasarjana
    • Informasi
  • Beranda
  • SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera
  • SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera
  • hal. 6
Arsip:

SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera

Mangrove Asia Tenggara Terancam Aktivitas Manusia: Temuan Riset Global Dibahas di SINNTECH Webinar #33 UGM

Berita Rabu, 28 Januari 2026

Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali menghadirkan diskusi ilmiah internasional melalui SINNTECH Webinar #33. Webinar yang digelar pada 28 Januari 2026 ini menghadirkan peneliti dari Xiamen University, Ngo Thuy Hao, yang memaparkan riset terbaru mengenai dampak aktivitas manusia terhadap ekosistem mangrove di Asia Tenggara.

Dalam pemaparannya, Hao menjelaskan bahwa kawasan Asia Tenggara merupakan salah satu wilayah dengan luas mangrove terbesar di dunia. Namun, ekosistem penting ini kini menghadapi tekanan besar akibat berbagai aktivitas manusia seperti ekspansi tambak, pertanian, pembangunan infrastruktur, serta pencemaran nutrien dari daratan.

Melalui pendekatan pemetaan spasial dan model analisis Cumulative Human Impact (CHI), penelitian ini memetakan tingkat tekanan manusia terhadap mangrove di berbagai negara Asia Tenggara. Hasilnya menunjukkan bahwa hanya sekitar 18,6% kawasan mangrove yang masih tergolong utuh, sementara sebagian besar lainnya telah terpapar berbagai tekanan aktivitas manusia.

Menariknya, beberapa negara seperti Indonesia, Malaysia, Myanmar, Kamboja, dan Timor Leste masih menunjukkan tingkat tekanan kumulatif yang relatif rendah. Hal ini memberikan peluang besar untuk upaya konservasi dan restorasi sebelum ekosistem tersebut mengalami kerusakan yang tidak dapat dipulihkan.

Penelitian ini juga mengungkap bahwa ekspansi tambak akuakultur menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi degradasi mangrove di kawasan ini, diikuti oleh konversi lahan pertanian, pembangunan jalan, dan polusi nutrien.

Melalui SINNTECH Webinar #33, mahasiswa dan peserta mendapatkan wawasan penting tentang bagaimana pendekatan sains data, pemodelan spasial, dan kolaborasi internasional dapat digunakan untuk memahami sekaligus melindungi ekosistem pesisir yang vital bagi keberlanjutan lingkungan dan ketahanan pangan global. Kegiatan ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, kegiatan ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG  4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, SDG 8 Pekerjaan layan dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan), dan SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Peneliti UGM Ungkap Identitas Gurita Bernilai Ekonomi Tinggi di Perairan Bengkulu

Berita Kamis, 22 Januari 2026

Kolaborasi dosen dan mahasiswa Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada kembali menghasilkan publikasi ilmiah internasional. Penelitian berjudul Morphological, Morphometric, and Molecular Identification of Octopus cyanea in the Waters of Kaur District, Bengkulu Province, Indonesia dipublikasikan dalam jurnal Biodiversitas Volume 26 Nomor 6 (Juni 2025) oleh Ahmad Pariansyah, M.Sc., Dr. Ratih Ida Adharini, Dr. Dini Wahyu Kartika Sari, dan Dr. Eko Hardianto.

Gurita merupakan komoditas perikanan bernilai ekonomi tinggi yang melimpah di perairan Kabupaten Kaur, Provinsi Bengkulu. Penelitian ini bertujuan memastikan identitas spesies gurita melalui pendekatan terpadu yang menggabungkan analisis morfologi, morfometrik, dan molekuler.

Sebanyak 68 sampel gurita berhasil dikumpulkan dari perairan Kaur, terdiri atas 20 jantan dan 48 betina. Identifikasi lapangan menunjukkan seluruh sampel merupakan Octopus cyanea, yang memiliki ciri khas mantel berbentuk oval, corong berbentuk huruf W, dua baris pengisap pada setiap lengan, serta pola warna cokelat-putih dengan bintik mata semu (ocelli). Analisis morfometrik juga mengungkap bahwa gurita betina memiliki rasio ukuran tubuh relatif lebih besar dibandingkan jantan pada beberapa parameter penting.

Validasi molekuler menggunakan gen Cytochrome c Oxidase Subunit I (COI) menunjukkan kecocokan 100% dengan data GenBank, memperkuat kepastian identitas spesies. Analisis filogenetik dan jarak genetik menunjukkan populasi gurita dari Kaur memiliki kekerabatan erat dengan populasi dari Jayapura, Buton, Wakatobi, Madagaskar, India, hingga Jepang, menandakan distribusi geografis yang luas.

Temuan ini menjadi dasar ilmiah penting untuk mendukung strategi konservasi dan pengelolaan perikanan gurita secara berkelanjutan. Penelitian ini sekaligus menegaskan kontribusi riset Departemen Perikanan UGM dalam penguatan pengelolaan sumber daya laut berbasis sains di Indonesia. Publikasi ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, prestasi ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG  4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, SDG 8 Pekerjaan layan dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan), dan SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Dari Data Kapal ke Kebijakan: Temuan Baru untuk Masa Depan Perikanan Indonesia

Berita Jumat, 16 Januari 2026

Salah satu dosen Departemen Perikanan, Mukti Aprian bersama tim peneliti berhasil mempublikasikan artikel ilmiah berjudul Institutionalizing Indonesia’s Commercial Fisheries: Insights From Fleet Dynamics and Vessel Monitoring Systems. Penelitian ini ditulis bersama Luky Adrianto, Mennofatria Boer, Fery Kurniawan, dan Riza Y. Setiawan.

Riset ini menyoroti tantangan besar dalam tata kelola perikanan komersial Indonesia, khususnya terkait lemahnya integrasi hasil monitoring, control, and surveillance (MCS) ke dalam proses kebijakan. Selama beberapa dekade, investasi pada sistem pemantauan perikanan terus meningkat, namun ekspansi armada komersial—baik di perairan nasional maupun lintas batas—masih berlangsung tanpa pengawasan strategis yang memadai.

Penelitian ini menggunakan pendekatan rapid assessment yang menggabungkan pengetahuan berbasis komunitas, teknologi vessel monitoring system (VMS), serta data sekunder. Analisis dilakukan dengan berbagai metode mutakhir, seperti social–ecological network analysis, principal component analysis, self-organizing maps, hingga geographic information systems (GIS). Pendekatan integratif ini memungkinkan peneliti mengidentifikasi peluang pengambilan keputusan berbasis data secara lebih komprehensif.

Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan yang jelas antara perikanan berorientasi industri dan perikanan berbasis komunitas. Selain itu, terjadi pergeseran bertahap nelayan tradisional menuju operasi komersial tanpa regulasi yang memadai. Riset juga menyoroti masih rendahnya pemanfaatan hasil penelitian ilmiah dalam kebijakan, serta kesenjangan sosial-ekonomi antara pemilik modal dan awak kapal.

Temuan penting lainnya menunjukkan bahwa kebijakan saat ini cenderung berfokus pada perikanan skala kecil, sementara sektor industri-komersial belum memiliki pengawasan strategis yang kuat. Regulasi yang seragam untuk berbagai tipe perikanan dinilai menghambat respons adaptif terhadap dinamika sektor.

Melalui penelitian ini, tim penulis mengusulkan pembentukan otoritas tata kelola khusus yang mampu mengelola perikanan komersial dan komunitas secara terintegrasi, adaptif, berbasis bukti, serta inklusif secara sosial. Publikasi ini diharapkan menjadi kontribusi penting bagi penguatan kebijakan perikanan berkelanjutan di Indonesia. Publikasi ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, publikasi ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG  4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, SDG 8 Pekerjaan layan dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan), dan SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

UGM Soroti Tantangan Deteksi Penyakit Ikan di Indonesia, Teknologi Diagnostik Jadi Kunci

Berita Rabu, 7 Januari 2026

Yogyakarta – Tantangan deteksi penyakit ikan di Indonesia menjadi topik utama dalam SINNTECH 31. Dalam pemaparannya, akademisi Fakultas Pertanian UGM (Prof. Murwantoko) menekankan pentingnya penguatan sistem diagnosis penyakit sebagai fondasi ketahanan sektor akuakultur nasional.

Deteksi penyakit ikan merupakan proses penting untuk menemukan, mengidentifikasi, dan memantau keberadaan patogen melalui berbagai sumber data klinis maupun non-tradisional. Surveilans yang sistematis dibutuhkan untuk mendeteksi penyakit baru, mengendalikan wabah, serta memastikan populasi ikan bebas penyakit tertentu.

Beragam metode diagnostik telah digunakan, mulai dari histopatologi, kultur sel, PCR konvensional, real-time PCR, hingga LAMP (Loop-Mediated Isothermal Amplification). Teknologi PCR menjadi salah satu metode paling umum karena mampu memperbanyak fragmen DNA patogen secara eksponensial sehingga keberadaan penyakit dapat diidentifikasi lebih akurat. Sementara itu, real-time PCR memungkinkan deteksi kuantitatif dengan sensitivitas tinggi, sedangkan LAMP menawarkan proses yang lebih cepat tanpa memerlukan mesin PCR.

Meski teknologi terus berkembang, deteksi penyakit ikan masih menghadapi berbagai tantangan serius. Salah satunya adalah munculnya penyakit baru dari luar negeri yang berpotensi masuk ke Indonesia sehingga membutuhkan sistem deteksi yang cepat dan sensitif. Selain itu, keragaman spesies patogen seperti Aeromonas dan Vibrio menyulitkan proses identifikasi karena primer universal tidak selalu mampu membedakan spesies secara spesifik.

Tantangan lain datang dari mutasi genetik yang tinggi, terutama pada virus RNA. Mutasi ini dapat memengaruhi akurasi deteksi karena perubahan urutan genetik membuat primer sulit menempel pada target DNA. Penelitian bahkan menemukan variasi urutan RNA pada virus TiLV yang menginfeksi ikan nila di wilayah DIY.

Melalui penguatan metode deteksi dan surveilans penyakit, diharapkan Indonesia mampu merespons wabah secara cepat, menjaga kesehatan ikan budidaya, serta memperkuat daya saing sektor perikanan nasional di masa depan. Kegiatan ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, kegiatan ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG  4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, SDG 8 Pekerjaan layan dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan), dan SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Alga Laut Jadi Senjata Baru Lawan Penyakit Budidaya: Insight Menarik di SINNTECH Webinar #32 UGM

Berita Selasa, 6 Januari 2026

Pemanfaatan sumber daya laut untuk mendukung keberlanjutan perikanan menjadi topik menarik dalam SINNTECH Webinar #32 yang diselenggarakan Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM). Dalam kegiatan ini, dosen dari Universitas Airlangga, Dr. Woro Hastuti Satyantini, memaparkan potensi alga laut sebagai imunostimulan alami untuk meningkatkan ketahanan ikan dan udang terhadap penyakit. Webinar yang diikuti oleh mahasiswa dan akademisi dari berbagai perguruan tinggi ini membahas tantangan besar dalam sektor akuakultur, khususnya serangan penyakit yang sering menyebabkan kerugian besar pada budidaya ikan dan udang. Penyakit seperti White Spot Syndrome Virus (WSSV) pada udang dan infeksi bakteri pada ikan diketahui dapat memicu kematian massal serta menurunkan produksi secara signifikan. Selama ini, pengendalian penyakit masih banyak bergantung pada penggunaan antibiotik dan bahan kimia, yang menimbulkan kekhawatiran terhadap resistensi dan dampak lingkungan.

Melalui penelitiannya, Dr. Woro menjelaskan bahwa alga laut mengandung berbagai senyawa bioaktif seperti polisakarida, pigmen, antioksidan, dan asam lemak yang mampu meningkatkan sistem imun organisme perairan. Senyawa-senyawa tersebut dapat merangsang respons imun, meningkatkan daya tahan terhadap infeksi, serta menjadi alternatif yang lebih ramah lingkungan dibandingkan bahan kimia sintetis. Ia juga mencontohkan beberapa jenis alga seperti Spirulina dan Caulerpa racemosa yang telah diuji mampu meningkatkan respons imun dan tingkat kelangsungan hidup ikan maupun udang setelah terinfeksi patogen.

Melalui diskusi ini, SINNTECH Webinar #32 tidak hanya memperkenalkan inovasi sains kelautan, tetapi juga membuka wawasan mahasiswa tentang bagaimana riset bioteknologi laut dapat berkontribusi pada keberlanjutan industri perikanan di masa depan. Kegiatan ini menjadi bukti bahwa kolaborasi akademik dapat menghasilkan solusi ilmiah yang berdampak nyata bagi sektor pangan dan lingkungan.Kegiatan ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, kegiatan ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG  4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, SDG 8 Pekerjaan layan dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan), dan SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Teknologi Vaksin Ikan Jadi Sorotan di SinnTech #31 UGM, Mahasiswa Diajak Kenal Inovasi Akuakultur

Berita Selasa, 6 Januari 2026

Departemen Perikanan Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada kembali menyelenggarakan kegiatan ilmiah populer SinnTech Webinar #31 yang menghadirkan diskusi menarik mengenai inovasi di bidang perikanan dan akuakultur. Webinar yang dilaksanakan pada 28 November 2025 ini mengangkat tema “Fish Vaccine Development for Sustainable Aquaculture” dan menghadirkan peneliti Desy Sugiani sebagai narasumber utama.

Kegiatan SinnTech kali ini menarik perhatian mahasiswa dan calon mahasiswa yang tertarik dengan dunia perikanan modern. Dalam pemaparannya, Desy menjelaskan bahwa vaksin ikan menjadi salah satu inovasi penting dalam mendukung sistem budidaya perikanan yang lebih sehat, produktif, dan berkelanjutan. Vaksin berperan memberikan kekebalan pada ikan sebelum terpapar penyakit, sehingga mampu mencegah infeksi dan wabah yang sering terjadi pada sistem budidaya dengan kepadatan tinggi.

Selain meningkatkan kesehatan ikan, penggunaan vaksin juga memiliki dampak besar terhadap lingkungan. Dengan adanya vaksin, penggunaan antibiotik dalam budidaya dapat dikurangi secara signifikan, sehingga dapat membantu menekan risiko antimicrobial resistance (AMR) yang menjadi isu global dalam kesehatan manusia dan hewan. Vaksin juga mendukung peningkatan kesejahteraan ikan serta meningkatkan tingkat kelangsungan hidup dalam proses pembenihan dan budidaya.

 

Dalam sesi diskusi, peserta juga diajak mengenal perkembangan teknologi vaksin ikan yang terus berkembang, mulai dari vaksin inaktif, vaksin hidup yang dilemahkan, vaksin subunit, vaksin DNA, hingga live vector vaccines. Masing-masing jenis vaksin memiliki keunggulan dan tantangan tersendiri dalam penerapannya pada berbagai spesies ikan budidaya.

Tak hanya membahas teknologi, webinar ini juga menyoroti kondisi pengembangan vaksin ikan di Indonesia. Saat ini beberapa vaksin telah terdaftar dan digunakan untuk melindungi ikan dari penyakit bakteri seperti Streptococcus dan Aeromonas, yang sering menjadi penyebab kerugian dalam industri budidaya. Proses registrasi vaksin sendiri berada di bawah pengawasan pemerintah melalui mekanisme pengujian dan sertifikasi sebelum dapat digunakan secara luas.

Bagi mahasiswa dan calon mahasiswa yang tertarik menekuni bidang perikanan, kegiatan SinnTech menjadi ruang belajar yang inspiratif untuk mengenal berbagai inovasi terbaru di dunia akuakultur. Melalui forum ini, Departemen Perikanan UGM berharap dapat mendorong generasi muda untuk berkontribusi dalam pengembangan teknologi perikanan yang mendukung ketahanan pangan dan keberlanjutan sumber daya perairan di masa depan.

Kegiatan ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, kegiatan ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG  4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, SDG 8 Pekerjaan layan dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan), dan SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Perikanan UGM Menerima Kunjungan Pemerintah Kabupaten Paser Terkait Pengelolaan Riset Perencanaan Kawasan Pertanian Terpadu

Berita Senin, 8 Desember 2025

Pemerintah Kabupaten Paser, Kalimantan Timur, melakukan kunjungan studi tiru ke Kolam Riset Terpadu Departemen Perikanan Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, sebagai bagian dari upaya pengembangan balai benih ikan dalam perencanaan kawasan pertanian terpadu di Kabupaten Paser. Kunjungan yang dilaksanakan pada hari Senin, 8 Desember 2025 dihadiri oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Paser, Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunak) Kabupaten Paser, serta Kepala Bidang Perikanan. Rombongan diterima langsung oleh Dr.nat.sc. Faizal Rachman, S.Pi., M.Sc. sebagai perwakilan Departemen Perikanan UGM.

Dalam sesi diskusi, Dr. Faizal menjelaskan konsep perikanan berkelanjutan yang menjadi dasar pengelolaan fasilitas riset dan budidaya di UGM. Beliau memaparkan pentingnya penerapan hatchery terintegrasi, yaitu sistem pemijahan, penetasan, dan pembesaran benih ikan yang dikelola secara terpadu sehingga meningkatkan efisiensi dan kualitas produksi benih. Selain itu, ia menekankan penggunaan teknologi budidaya inklusif yang dapat dengan mudah diadaptasi oleh masyarakat, baik di tingkat pembudidaya kecil maupun skala komunitas, dengan mempertimbangkan kesesuaian lingkungan dan ketersediaan sumber daya lokal.

Rombongan Pemerintah Kabupaten Paser memberikan perhatian besar terhadap model pengelolaan riset dan produksi benih yang ditunjukkan UGM, karena dinilai relevan dengan kebutuhan daerah dalam menyiapkan balai benih ikan yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat produksi, tetapi juga sebagai pusat pelatihan, edukasi, dan pengembangan kapasitas masyarakat. Harapannya, hasil studi tiru ini dapat menjadi rujukan dalam penyusunan dokumen perencanaan pembangunan balai benih ikan serta mendukung integrasi subsektor pertanian, peternakan, dan perikanan dalam kawasan terpadu di Kabupaten Paser. Pemerintah Kabupaten Paser juga membuka peluang kolaborasi lebih lanjut dengan Departemen Perikanan UGM, baik dalam bentuk pelatihan teknis, pendampingan, maupun penelitian terapan yang dapat mendukung ketahanan pangan serta peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal.

Kunjungan ini menjadi langkah strategis bagi Pemerintah Kabupaten Paser dalam memperkuat fondasi pembangunan sektor perikanan yang berkelanjutan dan inklusif, sekaligus memperkokoh sinergi antara dunia akademik dan pemerintah daerah dalam mendorong pembangunan berbasis ilmu pengetahuan. Kegiatan ini juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya Poin 2 Tanpa Kelaparan; Poin 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera; Poin 8 Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi; dan Poin 17 yakni Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Penulis: Dr.nat.sc. Faizal Rachman, S.Pi., M.Sc., Nahla Alfiatunnisa, S.Pi.

UGM Dorong Transformasi Digital bagi Perempuan Pembudidaya Ikan di Kulon Progo

Berita Kamis, 23 Oktober 2025

Kulon Progo, 23 Oktober 2025 — Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat bertajuk “Partisipasi Perempuan Pembudidaya Ikan dalam Mencapai Ketahanan Pangan melalui Transformasi Digital.” Acara yang berlangsung di Aula Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Kulon Progo ini dihadiri oleh Kepala DKP Kulon Progo, Kepala Bidang Perikanan Budidaya, perwakilan kelompok wanita pembudidaya ikan, serta penyuluh perikanan di wilayah Kulon Progo.

Turut hadir dari Universitas Gadjah Mada, Endah Prihatiningtyastuti, S.P., M.Si., M.Phil., Ph.D., dosen Departemen Perikanan UGM yang membawakan materi mengenai pemberdayaan ekonomi bagi perempuan; Dr. Susilo Budi Priyono, S.Pi., M.Si., dosen Departemen Perikanan yang memaparkan manajemen budidaya ikan; serta Azellia Alma Shafira, S.E., M.Sc., dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM yang memperkenalkan aplikasi digital untuk pencatatan kegiatan dan keuangan budidaya ikan. Selain dosen, kegiatan ini juga diikuti oleh anggota Keluarga Alumni Gadjah Mada (KAGAMA), yaitu Seruni Salsabila Putri Basoeki, S.Pi., M.Sc. dan Afifah Imawati Putri, S.Pi., yang aktif mendukung isu-isu perikanan dan pembangunan berkelanjutan.

Kegiatan diawali dengan sambutan dari Kepala DKP Kulon Progo, drh. Drajat Purbadi, M.Si., yang menyampaikan apresiasi atas inisiatif kolaborasi antara UGM dan DKP Kulon Progo dalam meningkatkan kapasitas perempuan pembudidaya ikan di daerahnya. Sesi materi dimulai dengan paparan dari Dr. Endah Prihatiningtyastuti, yang menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam memperkuat ketahanan pangan berbasis komunitas perempuan pesisir dan perikanan darat. Ia menyampaikan bahwa pemberdayaan ekonomi perempuan melalui kegiatan budidaya ikan tidak hanya berdampak pada kesejahteraan keluarga, tetapi juga menjadi fondasi penting bagi ketahanan pangan nasional. Selanjutnya, Dr. Susilo Budi Priyono memaparkan materi Manajemen Budidaya Ikan, menekankan bahwa keberhasilan usaha budidaya tidak hanya ditentukan oleh keterampilan teknis, tetapi juga oleh kemampuan manajerial yang baik. Melalui penerapan Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB), perempuan pembudidaya ikan didorong untuk melakukan pencatatan kegiatan secara sistematis agar dapat mengambil keputusan usaha yang lebih tepat dan berkelanjutan.

Sebagai penutup, Azellia Alma Shafira, S.E., M.Sc. menyoroti pentingnya pencatatan sebagai dasar pengambilan keputusan dalam usaha budidaya. Ia menjelaskan bahwa digitalisasi menjadi langkah strategis untuk meningkatkan efisiensi dan akurasi pengelolaan usaha, salah satunya melalui pemanfaatan aplikasi Banoo sebagai alat bantu pencatatan yang mudah digunakan. Namun demikian, ia menegaskan bahwa teknologi hanyalah sarana, sementara kunci keberhasilan terletak pada kedisiplinan dalam mencatat setiap kegiatan dan biaya budidaya.

Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya mendukung Asta Cita Presiden Republik Indonesia poin ke-3 dan ke-4 mengenai blue economy dan pemberdayaan perempuan, serta sejalan dengan tujuan Sustainable Development Goals (SDGs) poin 1 (No Poverty), 3 (Good Health and Well Being), 5 (Gender Equality), dan 15 (Life on Land) tentang pengentasan kemiskinan, kehidupan sehat dan sejahtera, kesetaraan gender, serta ekosistem laut. Melalui kegiatan ini, diharapkan perempuan pembudidaya ikan di Kulon Progo dapat semakin berdaya, adaptif terhadap teknologi, dan berkontribusi aktif dalam memperkuat ketahanan pangan berbasis komunitas.


Penulis: Seruni Salsabila Putri Basoeki
Editor: Nahla Alfiatunnisa

Departemen Perikanan UGM Gelar Studium Generale Bersama Kemenko Bidang Pangan Bahas Strategi Swasembada Pangan Berkelanjutan

Berita Selasa, 7 Oktober 2025

Yogyakarta, 7 Oktober 2025 – Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan kegiatan Studium Generale pada Jumat, 7 Oktober 2025, dengan menghadirkan Muhamad Mawardi, S.Pt., M.T., selaku Sekretaris Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Maritim, Kementerian Koordinator Bidang Pangan Republik Indonesia, sebagai narasumber utama. Acara ini dihadiri oleh sekitar 150 peserta, yang sebagian besar merupakan mahasiswa Departemen Perikanan UGM, serta peserta umum dari berbagai kampus dan instansi yang turut antusias mengikuti kegiatan. Studium generale ini menjadi sarana penting untuk memperluas wawasan sivitas akademika mengenai arah kebijakan pemerintah dalam mendukung swasembada pangan berkelanjutan, khususnya melalui penguatan sektor kelautan dan perikanan.

Dalam paparannya yang berjudul “Strategi Kebijakan Sektor Kelautan dan Perikanan dalam Mendukung Swasembada Pangan Berkelanjutan”, Muhamad Mawardi menegaskan bahwa sektor kelautan dan perikanan memiliki peran strategis dalam menjaga ketahanan pangan nasional. Beliau menjelaskan bahwa Indonesia memiliki potensi produksi perikanan berkelanjutan lebih dari 12 juta ton per tahun, namun belum termanfaatkan secara optimal. Menurutnya, diperlukan pergeseran paradigma dari “pangan darat” menuju “pangan biru” sebagai solusi terhadap alih fungsi lahan, perubahan iklim, dan krisis gizi global. Melalui pendekatan inovatif seperti akuakultur modern, teknologi smart aquaculture, serta hilirisasi produk perikanan, potensi sumber daya laut Indonesia dapat dioptimalkan secara berkelanjutan.

Lebih lanjut, Mawardi memaparkan sejumlah program prioritas pemerintah dalam periode 2025–2029, di antaranya pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih, revitalisasi tambak Pantura, serta pengembangan industri garam nasional. Program-program tersebut diharapkan dapat meningkatkan produktivitas perikanan, memperkuat ketahanan pangan, serta membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat pesisir. Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan sektor swasta dalam mewujudkan ekonomi biru yang inklusif dan berkelanjutan.

Pada sesi diskusi, Muhamad Mawardi turut mengajak mahasiswa untuk menjadi agen perubahan di bidang kelautan dan perikanan. Ia menilai bahwa mahasiswa memiliki peran penting sebagai inovator, komunikator, dan wirausahawan muda yang mampu membawa perubahan nyata bagi pembangunan maritim Indonesia. “Mahasiswa harus menjadi motor penggerak perubahan melalui penelitian, inovasi, dan kewirausahaan di sektor perikanan,” ujarnya. Ia menutup sesi dengan menegaskan bahwa laut adalah masa depan pangan Indonesia, dan keberhasilan swasembada pangan berkelanjutan akan sangat bergantung pada peran generasi muda dalam menjaga keberlanjutan sumber daya kelautan bangsa. Kegiatan ini mendukung Tujuan Global untuk Pembangunan Berkelanjutan pada point (3) Kesehatan yang Baik dan Kesejahteraan, (9) Infrastruktur, Industri, dan Inovasi, (12) Konsumsi dan Produksi yang Bertanggungjawab, dan (17) Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

SinnTech #29: OceanKita dan UGM Perkuat Aksi Inovatif Kurangi Pencemaran Laut di Indonesia

Berita Selasa, 30 September 2025

Yogyakarta, 30 September 2025— Departemen perikanan UGM dan OceanKita, kembali menegaskan komitmennya dalam memerangi polusi plastik laut melalui rangkaian inovasi teknologi, edukasi, dan kolaborasi komunitas. Melalui program SinnTech #29 dengan tema, “From the Threat of Plastic Waste to the Hope for Marine Ecosystems: Synergy for the Future of Our Oceans.”

Jeanette Haulussy, S.Si selaku Co-founder & COO of OceanKita, menjelaskan mengenai “Sustainable Ocean: Innovation and Action Against Plastic Pollution.” Dijelaskan bahwa berbagai program dan teknologi telah dihadirkan untuk menjawab persoalan utama pencemaran laut di Indonesia. Teknologi pembersih laut seperti trawl-net, program edukasi Plastic Collage, permainan edukatif Sungai Card Game, hingga pengalaman langsung seperti rafting dan cleanup Ciliwung menjadi pendekatan yang menyeluruh untuk mendorong aksi perubahan. Salah satu program unggulan, Seribu Biru di Pulau Untung Jawa, mencatat dampak signifikan sejak diluncurkan pada Maret 2024: 12.460 sampah laut terkumpul, 397 pelajar mengikuti kelas edukasi, 355 relawan terlibat dalam aksi bersih pantai, 545 kg sampah terkelola, 200 mangrove ditanam dengan estimasi 19 tCO₂e penyerapan, dan Penggunaan kapal listrik menghasilkan reduksi emisi 10,3 tCO₂e. OceanKita juga tengah mengembangkan Marine Pollution Tracker, sistem pelacakan dan prediksi pencemaran laut berbasis data—pemenang pendanaan dari IPPIN Accelerator+ 2024 dan Seed Funding 2025, bekerja sama dengan Central Queensland University, Australia.

Dalam paparannya, Dr. Sulistiowati mengungkapkan bahwa marine debris kini ditemukan di seluruh lapisan perairan—mulai dari permukaan, kolom air, dasar laut, hingga pantai. Ia menjelaskan bahwa Indonesia termasuk dalam negara dengan kontribusi tinggi terhadap sampah laut global, terutama plastik. Marine debris berdampak langsung pada biota, seperti penyu yang terjerat, burung laut yang menelan plastik, serta terganggunya rantai makanan. Penelitian menunjukkan bahwa mikroplastik telah ditemukan di sedimen, mulut, dan saluran pencernaan ikan, serta berpotensi menimbulkan stres oksidatif, gangguan enzim, kerusakan sel, hingga risiko kesehatan pada manusia. Selain itu, mikroplastik terus masuk ke ekosistem melalui berbagai jalur—limbah domestik, industri, degradasi plastik besar, hingga aliran sungai. Proses transportasinya yang kompleks membuat mikroplastik dapat berpindah lokasi, berpaut pada organisme, dan memasuki rantai makanan.

SINNTECH #29 menegaskan bahwa permasalahan sampah laut tidak hanya diselesaikan lewat riset, tetapi membutuhkan integrasi tiga aspek: 1)Ilmu pengetahuan – memahami sumber, transportasi, dan dampak mikroplastik; 2) Teknologi – seperti trawl-net, monitoring berbasis data, dan edukasi digital; 3) Gerakan komunitas – pelibatan masyarakat pesisir, sekolah, dan relawan. Webinar ditutup dengan seruan bahwa perubahan dapat dimulai dari langkah kecil: mengurangi plastik sekali pakai, memilah sampah, hingga berkontribusi sebagai relawan pelestari lingkungan. Penyelenggaraan kegiatan ini sejalan dengan komitmen UGM dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 3 Kegidupan sehat dan sejahtera, SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, SDG 8 Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan), serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) dengan memperkuat jejaring dan kolaborasi akademik.

1…45678
Universitas Gadjah Mada

Departemen Perikanan Fakultas Pertanian

Universitas Gadjah Mada
Gedung A4, Jl. Flora, Bulaksumur,Yogyakarta, 55281
 +62274-551218
 fish@ugm.ac.id

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY