• Tentang UGM
  • Faperta
  • IT Center
  • Perpustakaan
  • LPPM
  • Bahasa Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
Fakultas Pertanian
Departemen Perikanan
  • Profil
    • Tentang Kami
    • Struktur Organisasi
    • Staff Dosen
    • Staff Kependidikan
    • KERJA SAMA
  • Akademik
    • Program Studi Akuakultur
    • Program Studi Manajemen Sumberdaya Akuatik
    • Program Studi Teknologi Hasil Perikanan
    • Program Studi Magister Ilmu Perikanan
    • Program Studi Doktor Ilmu Perikanan dan Kelautan Tropis
  • Berita
  • Fasilitas
    • Laboratorium
    • Inkubator Mina Bisnis
    • delifiZ
  • Penjaminan Mutu
  • TUK
  • Organisasi
    • KMIP
    • Selam Perikanan
    • Bahari Pers
  • Download
    • Prosedur Persuratan
    • Prosedur Akademik Sarjana
    • Prosedur Akademik Pascasarjana
  • Beranda
  • SDG 4: Pendidikan Berkualitas
  • SDG 4: Pendidikan Berkualitas
  • hal. 12
Arsip:

SDG 4: Pendidikan Berkualitas

Dari Data Kapal ke Kebijakan: Temuan Baru untuk Masa Depan Perikanan Indonesia

Berita Jumat, 16 Januari 2026

Salah satu dosen Departemen Perikanan, Mukti Aprian bersama tim peneliti berhasil mempublikasikan artikel ilmiah berjudul Institutionalizing Indonesia’s Commercial Fisheries: Insights From Fleet Dynamics and Vessel Monitoring Systems. Penelitian ini ditulis bersama Luky Adrianto, Mennofatria Boer, Fery Kurniawan, dan Riza Y. Setiawan.

Riset ini menyoroti tantangan besar dalam tata kelola perikanan komersial Indonesia, khususnya terkait lemahnya integrasi hasil monitoring, control, and surveillance (MCS) ke dalam proses kebijakan. Selama beberapa dekade, investasi pada sistem pemantauan perikanan terus meningkat, namun ekspansi armada komersial—baik di perairan nasional maupun lintas batas—masih berlangsung tanpa pengawasan strategis yang memadai.

Penelitian ini menggunakan pendekatan rapid assessment yang menggabungkan pengetahuan berbasis komunitas, teknologi vessel monitoring system (VMS), serta data sekunder. Analisis dilakukan dengan berbagai metode mutakhir, seperti social–ecological network analysis, principal component analysis, self-organizing maps, hingga geographic information systems (GIS). Pendekatan integratif ini memungkinkan peneliti mengidentifikasi peluang pengambilan keputusan berbasis data secara lebih komprehensif.

Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan yang jelas antara perikanan berorientasi industri dan perikanan berbasis komunitas. Selain itu, terjadi pergeseran bertahap nelayan tradisional menuju operasi komersial tanpa regulasi yang memadai. Riset juga menyoroti masih rendahnya pemanfaatan hasil penelitian ilmiah dalam kebijakan, serta kesenjangan sosial-ekonomi antara pemilik modal dan awak kapal.

Temuan penting lainnya menunjukkan bahwa kebijakan saat ini cenderung berfokus pada perikanan skala kecil, sementara sektor industri-komersial belum memiliki pengawasan strategis yang kuat. Regulasi yang seragam untuk berbagai tipe perikanan dinilai menghambat respons adaptif terhadap dinamika sektor.

Melalui penelitian ini, tim penulis mengusulkan pembentukan otoritas tata kelola khusus yang mampu mengelola perikanan komersial dan komunitas secara terintegrasi, adaptif, berbasis bukti, serta inklusif secara sosial. Publikasi ini diharapkan menjadi kontribusi penting bagi penguatan kebijakan perikanan berkelanjutan di Indonesia. Publikasi ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, publikasi ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG  4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, SDG 8 Pekerjaan layan dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan), dan SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

UGM Soroti Tantangan Deteksi Penyakit Ikan di Indonesia, Teknologi Diagnostik Jadi Kunci

Berita Rabu, 7 Januari 2026

Yogyakarta – Tantangan deteksi penyakit ikan di Indonesia menjadi topik utama dalam SINNTECH 31. Dalam pemaparannya, akademisi Fakultas Pertanian UGM (Prof. Murwantoko) menekankan pentingnya penguatan sistem diagnosis penyakit sebagai fondasi ketahanan sektor akuakultur nasional.

Deteksi penyakit ikan merupakan proses penting untuk menemukan, mengidentifikasi, dan memantau keberadaan patogen melalui berbagai sumber data klinis maupun non-tradisional. Surveilans yang sistematis dibutuhkan untuk mendeteksi penyakit baru, mengendalikan wabah, serta memastikan populasi ikan bebas penyakit tertentu.

Beragam metode diagnostik telah digunakan, mulai dari histopatologi, kultur sel, PCR konvensional, real-time PCR, hingga LAMP (Loop-Mediated Isothermal Amplification). Teknologi PCR menjadi salah satu metode paling umum karena mampu memperbanyak fragmen DNA patogen secara eksponensial sehingga keberadaan penyakit dapat diidentifikasi lebih akurat. Sementara itu, real-time PCR memungkinkan deteksi kuantitatif dengan sensitivitas tinggi, sedangkan LAMP menawarkan proses yang lebih cepat tanpa memerlukan mesin PCR.

Meski teknologi terus berkembang, deteksi penyakit ikan masih menghadapi berbagai tantangan serius. Salah satunya adalah munculnya penyakit baru dari luar negeri yang berpotensi masuk ke Indonesia sehingga membutuhkan sistem deteksi yang cepat dan sensitif. Selain itu, keragaman spesies patogen seperti Aeromonas dan Vibrio menyulitkan proses identifikasi karena primer universal tidak selalu mampu membedakan spesies secara spesifik.

Tantangan lain datang dari mutasi genetik yang tinggi, terutama pada virus RNA. Mutasi ini dapat memengaruhi akurasi deteksi karena perubahan urutan genetik membuat primer sulit menempel pada target DNA. Penelitian bahkan menemukan variasi urutan RNA pada virus TiLV yang menginfeksi ikan nila di wilayah DIY.

Melalui penguatan metode deteksi dan surveilans penyakit, diharapkan Indonesia mampu merespons wabah secara cepat, menjaga kesehatan ikan budidaya, serta memperkuat daya saing sektor perikanan nasional di masa depan. Kegiatan ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, kegiatan ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG  4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, SDG 8 Pekerjaan layan dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan), dan SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Alga Laut Jadi Senjata Baru Lawan Penyakit Budidaya: Insight Menarik di SINNTECH Webinar #32 UGM

Berita Selasa, 6 Januari 2026

Pemanfaatan sumber daya laut untuk mendukung keberlanjutan perikanan menjadi topik menarik dalam SINNTECH Webinar #32 yang diselenggarakan Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM). Dalam kegiatan ini, dosen dari Universitas Airlangga, Dr. Woro Hastuti Satyantini, memaparkan potensi alga laut sebagai imunostimulan alami untuk meningkatkan ketahanan ikan dan udang terhadap penyakit. Webinar yang diikuti oleh mahasiswa dan akademisi dari berbagai perguruan tinggi ini membahas tantangan besar dalam sektor akuakultur, khususnya serangan penyakit yang sering menyebabkan kerugian besar pada budidaya ikan dan udang. Penyakit seperti White Spot Syndrome Virus (WSSV) pada udang dan infeksi bakteri pada ikan diketahui dapat memicu kematian massal serta menurunkan produksi secara signifikan. Selama ini, pengendalian penyakit masih banyak bergantung pada penggunaan antibiotik dan bahan kimia, yang menimbulkan kekhawatiran terhadap resistensi dan dampak lingkungan.

Melalui penelitiannya, Dr. Woro menjelaskan bahwa alga laut mengandung berbagai senyawa bioaktif seperti polisakarida, pigmen, antioksidan, dan asam lemak yang mampu meningkatkan sistem imun organisme perairan. Senyawa-senyawa tersebut dapat merangsang respons imun, meningkatkan daya tahan terhadap infeksi, serta menjadi alternatif yang lebih ramah lingkungan dibandingkan bahan kimia sintetis. Ia juga mencontohkan beberapa jenis alga seperti Spirulina dan Caulerpa racemosa yang telah diuji mampu meningkatkan respons imun dan tingkat kelangsungan hidup ikan maupun udang setelah terinfeksi patogen.

Melalui diskusi ini, SINNTECH Webinar #32 tidak hanya memperkenalkan inovasi sains kelautan, tetapi juga membuka wawasan mahasiswa tentang bagaimana riset bioteknologi laut dapat berkontribusi pada keberlanjutan industri perikanan di masa depan. Kegiatan ini menjadi bukti bahwa kolaborasi akademik dapat menghasilkan solusi ilmiah yang berdampak nyata bagi sektor pangan dan lingkungan.Kegiatan ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, kegiatan ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG  4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, SDG 8 Pekerjaan layan dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan), dan SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Teknologi Vaksin Ikan Jadi Sorotan di SinnTech #31 UGM, Mahasiswa Diajak Kenal Inovasi Akuakultur

Berita Selasa, 6 Januari 2026

Departemen Perikanan Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada kembali menyelenggarakan kegiatan ilmiah populer SinnTech Webinar #31 yang menghadirkan diskusi menarik mengenai inovasi di bidang perikanan dan akuakultur. Webinar yang dilaksanakan pada 28 November 2025 ini mengangkat tema “Fish Vaccine Development for Sustainable Aquaculture” dan menghadirkan peneliti Desy Sugiani sebagai narasumber utama.

Kegiatan SinnTech kali ini menarik perhatian mahasiswa dan calon mahasiswa yang tertarik dengan dunia perikanan modern. Dalam pemaparannya, Desy menjelaskan bahwa vaksin ikan menjadi salah satu inovasi penting dalam mendukung sistem budidaya perikanan yang lebih sehat, produktif, dan berkelanjutan. Vaksin berperan memberikan kekebalan pada ikan sebelum terpapar penyakit, sehingga mampu mencegah infeksi dan wabah yang sering terjadi pada sistem budidaya dengan kepadatan tinggi.

Selain meningkatkan kesehatan ikan, penggunaan vaksin juga memiliki dampak besar terhadap lingkungan. Dengan adanya vaksin, penggunaan antibiotik dalam budidaya dapat dikurangi secara signifikan, sehingga dapat membantu menekan risiko antimicrobial resistance (AMR) yang menjadi isu global dalam kesehatan manusia dan hewan. Vaksin juga mendukung peningkatan kesejahteraan ikan serta meningkatkan tingkat kelangsungan hidup dalam proses pembenihan dan budidaya.

 

Dalam sesi diskusi, peserta juga diajak mengenal perkembangan teknologi vaksin ikan yang terus berkembang, mulai dari vaksin inaktif, vaksin hidup yang dilemahkan, vaksin subunit, vaksin DNA, hingga live vector vaccines. Masing-masing jenis vaksin memiliki keunggulan dan tantangan tersendiri dalam penerapannya pada berbagai spesies ikan budidaya.

Tak hanya membahas teknologi, webinar ini juga menyoroti kondisi pengembangan vaksin ikan di Indonesia. Saat ini beberapa vaksin telah terdaftar dan digunakan untuk melindungi ikan dari penyakit bakteri seperti Streptococcus dan Aeromonas, yang sering menjadi penyebab kerugian dalam industri budidaya. Proses registrasi vaksin sendiri berada di bawah pengawasan pemerintah melalui mekanisme pengujian dan sertifikasi sebelum dapat digunakan secara luas.

Bagi mahasiswa dan calon mahasiswa yang tertarik menekuni bidang perikanan, kegiatan SinnTech menjadi ruang belajar yang inspiratif untuk mengenal berbagai inovasi terbaru di dunia akuakultur. Melalui forum ini, Departemen Perikanan UGM berharap dapat mendorong generasi muda untuk berkontribusi dalam pengembangan teknologi perikanan yang mendukung ketahanan pangan dan keberlanjutan sumber daya perairan di masa depan.

Kegiatan ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, kegiatan ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG  4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, SDG 8 Pekerjaan layan dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan), dan SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Perikanan UGM Undang Ahli Australia Bahas Strategi Pengelolaan Perikanan Modern

Berita Senin, 17 November 2025

Yogyakarta, 17 November 2025 – Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali memperkuat perannya dalam pengembangan ilmu kelautan dan perikanan dengan menghadirkan Dr. Caleb Gardner, dosen dan peneliti dari University of Tasmania, Australia, dalam kuliah umum bertema Harvest Strategies (strategi pemanfaatan sumber daya perikanan).

Dalam paparannya, Dr. Gardner menekankan pentingnya strategi pengelolaan perikanan yang terukur, mencakup penentuan tujuan pengelolaan, indikator kinerja, serta aturan keputusan (decision rules) berbasis data. Ia menampilkan sejumlah contoh keberhasilan Australia, termasuk pengelolaan Southern Bluefin Tuna yang dalam 15 tahun terakhir menunjukkan peningkatan biomassa, penurunan bycatch, dan kenaikan keuntungan ekonomi.

Dr. Gardner juga menyoroti tantangan Indonesia dalam adopsi harvest strategy, mulai dari rendahnya literasi manajemen perikanan hingga ketiadaan sistem pelaporan status stok seperti yang digunakan di Australia. Ia menegaskan bahwa banyak asumsi yang selama ini berkembang—seperti anggapan bahwa perikanan liar pasti berujung overfishing atau bahwa akuakultur harus menggantikan perikanan tangkap—merupakan hambatan besar yang harus diluruskan melalui pendidikan dan kebijakan yang benar.

Dalam sesi diskusi, perhatian khusus diberikan pada pengelolaan lobster mutiara dan ikan-ikan karang di Indonesia. Dr. Gardner menilai bahwa strategi sederhana berbasis ukuran tangkap minimum, musim penutupan, serta pembatasan hari pendaratan dapat menjadi langkah awal yang realistis sambil menunggu sistem pemantauan stok diperkuat.

Kuliah umum ini dihadiri oleh mahasiswa, peneliti, dan praktisi perikanan, yang antusias berdiskusi mengenai cara mendorong penerapan harvest strategies di Indonesia. Kehadiran Dr. Gardner diharapkan membuka kolaborasi lebih luas antara UGM dan University of Tasmania dalam pengembangan ilmu perikanan berkelanjutan. Penyelenggaraan kegiatan ini sejalan dengan komitmen UGM dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan), serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) dengan memperkuat jejaring dan kolaborasi akademik.

Departemen Perikanan UGM Gelar Diseminasi Hasil Penelitian di Kegiatan Konsorsium Magister Ilmu Serumpun

Berita Rabu, 12 November 2025

Yogyakarta- 12 November 2025. Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada (UGM) menjadi tuan rumah kegiatan diseminasi hasil penelitian Konsorsium Magister Ilmu Serumpun Perikanan dan Kelautan pada 12 November 2025. Acara ini diikuti oleh tujuh program studi magister dari Universitas Diponegoro (Undip), Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), dan Universitas Airlangga (Unair), dengan total sekitar 70 peserta.

Kegiatan diseminasi ini bertujuan memperkuat kolaborasi akademik dan membuka ruang berbagi hasil penelitian lintas perguruan tinggi. Acara dibuka oleh Prof. Alim Isnanstyo selaku ketua departemen Perikanan UGM. Dalam sambutannya beliau menyampaikan ucapan terimakasih atas kehadiran peserta dari berbagai universitas, dan berharap menjadi sarana untuk membangun iklim riset yang optimal, terutama di pulau Jawa. Selanjutnya kegiatan diisi dengan perkenalan singkat ketujuh program studi yang bergabung dalam konsorsium. Penjelasan ini juga dimaksudkan untuk memberikan gambaran utuh program studi dan kemungkinan kerjasama program dan riset lebih lanjut ke depannya.

Dalam sesi utama, beberapa peserta turut memaparkan temuan penelitian masing-masing, mencakup topik pengelolaan sumber daya perikanan, konservasi ekosistem pesisir, serta inovasi budidaya berkelanjutan. Dari Prodi Magister Manajemen SD Perikanan FPIK Undip diwakili oleh dua mahasiswa, diantaranya Hanan Az Zahra yang menyampaikan tentang, “Analisis Biomassa, Karbon, dan Klorofil Nipah (Nypa fruticans) berdasarkan Data Lapangan, Citra Sentinel-2A, dan UAV di Pesisir Sumatera, Tanjung Jabung Barat, Pangkal Babu, Jambi.”  Prodi Magister Bioteknologi Perikanan dan Kelautan FPK Unair menjelaskan mengenai, “Analisis Potensi Limbah Fermentasi Minuman Probiotik Multistrain Sebagai Feed Additive pada Pakan Udang Vannamei.” Disampaikan oleh Cut Syarifah Zahara.

Melalui kegiatan ini, konsorsium berharap dapat meningkatkan kontribusi akademisi terhadap pengembangan ilmu perikanan dan kelautan di Indonesia serta memperluas jaringan kolaboratif antarprogram studi. Penyelenggaraan kegiatan ini sejalan dengan komitmen UGM dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan), serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) dengan memperkuat jejaring dan kolaborasi akademik.

SINNTECH #30 Angkat Manajemen Terumbu Karang dan Aksi Nyata Pengurangan Sampah Laut

Berita Rabu, 29 Oktober 2025

Yogyakarta, 29 Oktober 2025 – SINNTECH Webinar #30 menghadirkan dua perspektif penting dalam upaya penyelamatan ekosistem terumbu karang Indonesia, yaitu penerapan filsafat Jawa dalam manajemen terumbu karang oleh Namastra Probosunu (Departemen Perikanan UGM) serta analisis dilema ekonomi–ekologi konservasi terumbu karang di Jawa Timur oleh Dr. Nirmalasari Idha Wijaya.

Dalam paparannya, Namastra menjelaskan bahwa pengelolaan terumbu karang harus dilakukan secara terpadu melalui monitoring berkelanjutan, pendekatan ekosistem, serta pemanfaatan yang lestari. Ia menyoroti berbagai tantangan di lapangan seperti minimnya petugas terlatih, kurangnya data, rendahnya kesadaran publik, sampai lemahnya koordinasi antarinstansi.

Menariknya, Namastra memperkenalkan pendekatan filsafat Jawa dalam konservasi laut, mencakup konsep Manunggaling Kawula Gusti, Rukun, Budi Pekerti, hingga Memayu Hayuning Bawana. Nilai-nilai kearifan lokal ini dinilai mampu memperkuat etika lingkungan dan mendorong masyarakat menjaga keseimbangan alam.

Dr. Nirmalasari memaparkan kondisi terkini terumbu karang di berbagai lokasi di Jawa Timur, khususnya Gili Labak dan Gili Noko. Data menunjukkan terjadinya penurunan tutupan karang hidup akibat tekanan wisata, penangkapan ikan, dan degradasi alami. Gili Labak: Live coral cover menurun dari ±75% menjadi ±48%, dipengaruhi oleh aktivitas snorkeling, reef walking, hingga pembangunan fasilitas wisata yang tidak ramah lingkungan. Gili Noko: Dihadapkan pada peningkatan fenomena Dead Coral with Algae (DCA), dengan tutupan 29–48%, diperparah oleh limpasan nutrien, sampah laut, serta perubahan kualitas perairan.

Dalam sesi diskusi, beberapa rekomendasi strategis muncul, di antaranya 1) Restorasi berbasis komunitas; 2) Penetapan zona konservasi dan no-anchor area; 3) Transplantasi karang adaptif 3) Kontrol alga dan restocking ikan herbivora; 4) Penguatan ekowisata berkelanjutan dan edukasi masyarakat; dan 5) Pemanfaatan teknologi monitoring (IoT, drone, AI).

Kedua narasumber menekankan bahwa konservasi terumbu karang harus menggabungkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan nilai budaya, karena keberhasilan pelestarian ekosistem laut sangat bergantung pada perubahan perilaku manusia. Penyelenggaraan kegiatan ini sejalan dengan komitmen UGM dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan), serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) dengan memperkuat jejaring dan kolaborasi akademik.

Perikanan UGM Tingkatkan Kualitas Menulis Melalui Pelatihan Penulisan Manuskrip Sistematik Review dan Meta-Analisis

Berita Senin, 13 Oktober 2025

Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) menyelenggarakan kegiatan Pelatihan Teknik Penulisan Manuskrip Sistematik Review dan Meta-Analisis pada hari Senin, 13 Oktober 2025. Kegiatan ini diikuti oleh peserta dari kalangan mahasiswa program magister (S2) dan doktor (S3), serta dosen di Departemen Perikanan UGM. Pelatihan ini diisi oleh narasumber Bayu Satria Wiratama, S.Ked., M.P.H., Ph.D., FSRPH., dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan UGM yang memaparkan mengenai teknik penulisan manuskrip sistematik dan Prof. Dr. Abdul Rohman, S.F., M.Si., Apt. dari Fakultas Farmasi UGM, dengan paparan materi meta analisis. 

Peserta dibekali pemahaman mengenai cara mengecek kualitas jurnal, termasuk mengetahui indeksasi jurnal yang baik, serta menilai jurnal yang lebih kredibel berdasarkan faktor review dan jumlah sitasi. Selain itu, peserta juga memperoleh panduan dalam menentukan target publikasi yang tepat sesuai bidang ilmu, tips agar naskah karya tulis ilmiah dapat diterima (accepted), serta pemahaman mendalam mengenai analisis statistik dalam meta-analisis. Dengan adanya pelatihan ini, peserta diharapkan mampu menyusun dan mempublikasikan karya ilmiah berkualitas tinggi serta memahami proses analisis data secara lebih komprehensif hingga mampu menjawab inti permasalahan penelitian secara tepat.

Kegiatan ini memberikan manfaat besar bagi pengembangan kapasitas akademik di lingkungan Departemen Perikanan UGM, terutama dalam meningkatkan kualitas riset berbasis bukti ilmiah serta memperkuat kolaborasi antara dosen dan mahasiswa. Pelatihan ini juga mendorong peningkatan jumlah publikasi ilmiah bereputasi yang berkontribusi terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dan praktik perikanan berkelanjutan. Dengan adanya pelatihan ini, peserta diharapkan mampu menyusun dan mempublikasikan karya ilmiah berkualitas tinggi serta memahami proses analisis data secara lebih komprehensif hingga mampu menjawab inti permasalahan penelitian secara tepat. Penyelenggaraan kegiatan ini sejalan dengan komitmen UGM dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) dengan memperkuat jejaring dan kolaborasi akademik. Dengan adanya pelatihan ini, Departemen Perikanan UGM terus berupaya menjadi pusat unggulan dalam pendidikan dan penelitian yang berkontribusi nyata bagi pembangunan sektor perikanan di tingkat nasional maupun global.

Penulis : Annisa Yustisia

Editor : Nahla Alfiatunnisa

SinnTech #29: OceanKita dan UGM Perkuat Aksi Inovatif Kurangi Pencemaran Laut di Indonesia

Berita Selasa, 30 September 2025

Yogyakarta, 30 September 2025— Departemen perikanan UGM dan OceanKita, kembali menegaskan komitmennya dalam memerangi polusi plastik laut melalui rangkaian inovasi teknologi, edukasi, dan kolaborasi komunitas. Melalui program SinnTech #29 dengan tema, “From the Threat of Plastic Waste to the Hope for Marine Ecosystems: Synergy for the Future of Our Oceans.”

Jeanette Haulussy, S.Si selaku Co-founder & COO of OceanKita, menjelaskan mengenai “Sustainable Ocean: Innovation and Action Against Plastic Pollution.” Dijelaskan bahwa berbagai program dan teknologi telah dihadirkan untuk menjawab persoalan utama pencemaran laut di Indonesia. Teknologi pembersih laut seperti trawl-net, program edukasi Plastic Collage, permainan edukatif Sungai Card Game, hingga pengalaman langsung seperti rafting dan cleanup Ciliwung menjadi pendekatan yang menyeluruh untuk mendorong aksi perubahan. Salah satu program unggulan, Seribu Biru di Pulau Untung Jawa, mencatat dampak signifikan sejak diluncurkan pada Maret 2024: 12.460 sampah laut terkumpul, 397 pelajar mengikuti kelas edukasi, 355 relawan terlibat dalam aksi bersih pantai, 545 kg sampah terkelola, 200 mangrove ditanam dengan estimasi 19 tCO₂e penyerapan, dan Penggunaan kapal listrik menghasilkan reduksi emisi 10,3 tCO₂e. OceanKita juga tengah mengembangkan Marine Pollution Tracker, sistem pelacakan dan prediksi pencemaran laut berbasis data—pemenang pendanaan dari IPPIN Accelerator+ 2024 dan Seed Funding 2025, bekerja sama dengan Central Queensland University, Australia.

Dalam paparannya, Dr. Sulistiowati mengungkapkan bahwa marine debris kini ditemukan di seluruh lapisan perairan—mulai dari permukaan, kolom air, dasar laut, hingga pantai. Ia menjelaskan bahwa Indonesia termasuk dalam negara dengan kontribusi tinggi terhadap sampah laut global, terutama plastik. Marine debris berdampak langsung pada biota, seperti penyu yang terjerat, burung laut yang menelan plastik, serta terganggunya rantai makanan. Penelitian menunjukkan bahwa mikroplastik telah ditemukan di sedimen, mulut, dan saluran pencernaan ikan, serta berpotensi menimbulkan stres oksidatif, gangguan enzim, kerusakan sel, hingga risiko kesehatan pada manusia. Selain itu, mikroplastik terus masuk ke ekosistem melalui berbagai jalur—limbah domestik, industri, degradasi plastik besar, hingga aliran sungai. Proses transportasinya yang kompleks membuat mikroplastik dapat berpindah lokasi, berpaut pada organisme, dan memasuki rantai makanan.

SINNTECH #29 menegaskan bahwa permasalahan sampah laut tidak hanya diselesaikan lewat riset, tetapi membutuhkan integrasi tiga aspek: 1)Ilmu pengetahuan – memahami sumber, transportasi, dan dampak mikroplastik; 2) Teknologi – seperti trawl-net, monitoring berbasis data, dan edukasi digital; 3) Gerakan komunitas – pelibatan masyarakat pesisir, sekolah, dan relawan. Webinar ditutup dengan seruan bahwa perubahan dapat dimulai dari langkah kecil: mengurangi plastik sekali pakai, memilah sampah, hingga berkontribusi sebagai relawan pelestari lingkungan. Penyelenggaraan kegiatan ini sejalan dengan komitmen UGM dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 3 Kegidupan sehat dan sejahtera, SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, SDG 8 Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan), serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) dengan memperkuat jejaring dan kolaborasi akademik.

Sharing Session MTCRC 2025: Mahasiswa Magister Ilmu Perikanan UGM Antusias Kenali Instrumen Oseanografi dan Gali Ide Riset

BeasiswaBerita Rabu, 17 September 2025

Yogyakarta, 17 September 2025 – Departemen Perikanan UGM sebagai mitra Perguruan Tinggi Korea-Indonesia MTCRC telah menyelenggarakan “Sharing Session MTCRC 2025” yang bertempat di Ruang 2.02 Departemen Perikanan UGM. Acara yang mengangkat tema “Mengenal Instrumen Oseanografi (CTD, ADCP, dan MBES) serta Sharing Riset Mahasiswa” ini dihadiri oleh mahasiswa dan Dosen Magister Ilmu Perikanan. Acara dibuka dengan sambutan dan pemaparan program MTCRC di Magister Ilmu Perikanan UGM oleh Dr. Eko Setyobudi, yang memberikan gambaran umum mengenai program dan aktivitas mahasiswa awardee MTCRC Scholarship. Sesi utama diisi oleh dua alumni Awardee Beasiswa MTCRC, yaitu Qothrunnadaa Salsabiila dan Hana Cahya Maharani, yang menyampaikan pengalaman mengikuti Marine Equipment Training (MET) berbagai instrumen oseanografi yaitu CTD (Conductivity, Temperature, Depth), ADCP (Acoustic Doppler Current Profiler), dan MBES (Multibeam Echo Sounder). Materi yang disampaikan tidak hanya bersifat teoritis, namun juga disertai contoh aplikatif dari hasil riset lapangan, sehingga sangat membuka wawasan peserta mengenai pemanfaatan teknologi dalam penelitian perikanan dan kelautan.

Kegiatan ini mendukung Tujuan Global untuk Pembangunan Berkelanjutan pada point (4) Pendidikan Berkualitas, (8) Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, (9) Infrastruktur, Industri, dan Inovasi, (12) Konsumsi dan Produksi yang Bertanggungjawab, (13) Penanganan Perubahan Iklim, (14) Ekosistem Lautan, dan (17) Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

1…101112131415
Universitas Gadjah Mada

Departemen Perikanan Fakultas Pertanian

Universitas Gadjah Mada
Gedung A4, Jl. Flora, Bulaksumur,Yogyakarta, 55281
 +62274-551218
 fish@ugm.ac.id

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY