Serupa Tapi Tak Sama: Mahasiswa UGM Ungkap Perbedaan Dua Spesies Cumi-Cumi Lewat Analisis DNA
Berita Kamis, 12 Maret 2026
Mahasiswa Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada (UGM), Dyah Ayu Sofiana Sukowati, melakukan penelitian mendalam mengenai karakteristik morfologi dan identifikasi molekuler cumi-cumi yang didaratkan di Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap, Kabupaten Cilacap. Penelitian ini bertujuan untuk memastikan identitas spesies cumi-cumi yang menjadi salah satu komoditas penting dalam perikanan tangkap di wilayah selatan Pulau Jawa.
Dalam penelitian tersebut, Dyah menganalisis sebanyak 360 sampel cumi-cumi yang terdiri dari 254 individu spesies Sthenoteuthis oualaniensis dan 106 individu Uroteuthis duvaucelii. Kedua spesies ini diteliti menggunakan pendekatan morfometrik, meristik, serta analisis molekuler berbasis gen COI (Cytochrome c Oxidase subunit I), yang umum digunakan dalam identifikasi genetik organisme laut.
Hasil analisis menunjukkan adanya perbedaan morfologi yang cukup jelas antara kedua spesies tersebut. Melalui metode Principal Component Analysis (PCA), beberapa karakter tubuh menjadi pembeda utama, seperti panjang mantel, lebar sirip, dan panjang lengan kedua. Selain itu, bentuk tubuh juga berbeda pada bagian lebar corong. Analisis meristik turut memperkuat temuan tersebut, khususnya melalui perbedaan bentuk dan jumlah gigi pada cincin penghisap (sucker) yang dimiliki kedua jenis cumi-cumi.
Penelitian yang dibimbing oleh Prof. Dr. Eko Setyobudi, S.Pi., M.Si. juga mengungkap perbedaan pola pertumbuhan antara kedua spesies. Spesies Sthenoteuthis oualaniensis cenderung menunjukkan pertumbuhan alometrik positif, di mana bagian tubuh tertentu berkembang lebih cepat dibandingkan panjang mantel. Sebaliknya, Uroteuthis duvaucelii menunjukkan pola pertumbuhan alometrik negatif.
Melalui analisis molekuler, Dyah menemukan bahwa sekuen genetik cumi-cumi yang diteliti memiliki kemiripan dengan populasi dari berbagai wilayah perairan internasional. Spesies Sthenoteuthis oualaniensis memiliki kesamaan genetik dengan populasi dari Samudra Hindia, Australia, dan China, sedangkan Uroteuthis duvaucelii memiliki kedekatan genetik dengan populasi dari Vietnam dan Indonesia.
Menurut Dyah, penelitian ini menunjukkan pentingnya pendekatan terpadu antara morfologi dan molekuler dalam memastikan identifikasi spesies laut secara akurat. Hasil riset ini diharapkan dapat mendukung pengelolaan sumber daya perikanan yang lebih berkelanjutan, khususnya bagi komoditas cumi-cumi yang memiliki nilai ekonomi tinggi bagi nelayan Indonesia. Penelitian ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, kegiatan ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, SDG 9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, dan SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan).