• Tentang UGM
  • Faperta
  • IT Center
  • Perpustakaan
  • LPPM
  • Bahasa Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
Fakultas Pertanian
Departemen Perikanan
  • Profil
    • Tentang Kami
    • Struktur Organisasi
    • Staff Dosen
    • Staff Kependidikan
    • KERJA SAMA
  • Akademik
    • Program Studi Akuakultur
    • Program Studi Manajemen Sumberdaya Akuatik
    • Program Studi Teknologi Hasil Perikanan
    • Program Studi Magister Ilmu Perikanan
    • Program Studi Doktor Ilmu Perikanan dan Kelautan Tropis
  • Berita
  • Fasilitas
    • Laboratorium
    • Inkubator Mina Bisnis
    • delifiZ
  • Penjaminan Mutu
  • TUK
  • Organisasi
    • KMIP
    • Selam Perikanan
    • Bahari Pers
  • Download
    • Prosedur Persuratan
    • Prosedur Akademik Sarjana
    • Prosedur Akademik Pascasarjana
    • Informasi
  • Beranda
  • SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi
  • SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi
  • hal. 6
Arsip:

SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi

Inovasi Anak Bangsa: Solusi Biosekuriti Tambak Udang Berbasis Mikroorganisme Laut

Berita Kamis, 26 Februari 2026

Yogyakarta – Inovasi bioteknologi kelautan kembali menjadi sorotan dalam SINTECH Webinar “Integrated Blue Innovation of Shrimp Production UGM” yang digelar pada 26 Februari 2026. Dalam kegiatan ini, startup blue biotech AQUBETA memaparkan terobosan teknologi probiotik alami untuk meningkatkan produktivitas sekaligus biosekuriti budidaya udang di Indonesia.

Industri akuakultur, khususnya budidaya udang vaname, masih menghadapi tantangan besar akibat penyakit mematikan seperti Vibriosis dan AHPND. Penyakit tersebut dapat menurunkan hasil panen hingga 30% bahkan menyebabkan kematian massal dalam semalam. Kondisi ini berdampak pada kerugian miliaran dolar secara global serta menjadi salah satu penyebab utama kegagalan budidaya udang.

Founder & CEO PT. AQUBETA DIPO JAYA, Muhammad Syaifudien Bahry, menjelaskan bahwa perusahaannya menghadirkan pendekatan berbasis mikroorganisme laut sebagai alternatif ramah lingkungan pengganti antibiotik dan bahan kimia berbahaya. Startup ini telah menjangkau lebih dari 5.000 petambak ikan dan udang di lebih dari 30 wilayah Indonesia, dengan area tambak mencapai 150 hektare dan lebih dari 15 kemitraan B2B sejak produk mulai dipasarkan pada 2023.

Teknologi unggulan AQUBETA memanfaatkan fungi laut Trichoderma reesei dan konsorsium bakteri Bacillus untuk menekan populasi bakteri Vibrio, meningkatkan kualitas air, serta memperkuat sistem imun udang. Uji coba pada tambak terdampak AHPND menunjukkan populasi Vibrio dapat ditekan hanya dalam satu minggu, dengan tingkat kelangsungan hidup panen meningkat hingga 60%.

Produk yang dikembangkan meliputi ANTI V-PRO, AQU PROFEED, dan AQU BACILLUS yang diklaim efektif membunuh patogen, meningkatkan biomassa, memperbaiki pencernaan, serta menjaga kesehatan ekosistem tambak. Selain menawarkan produk, AQUBETA juga membuka kolaborasi riset, distribusi, hingga konsultasi teknis bagi mitra B2B dan B2G.

Inovasi ini diharapkan menjadi langkah penting menuju revolusi blue biotechnology di Indonesia, sekaligus memperkuat ketahanan sektor perikanan melalui teknologi berkelanjutan. Kegiatan ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, kegiatan ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG  4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, SDG 8 Pekerjaan layan dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan), dan SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Riset Perikanan UGM Ungkap Waktu Terbaik Pemantauan Kualitas Air Sistem Budidaya Nila Merah

Berita Rabu, 18 Februari 2026

Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada kembali mencatatkan publikasi ilmiah internasional melalui penelitian berjudul The Diurnal Trend of Water Quality in the Semi-Outdoor Recirculating Aquaculture System for the Red Tilapia (Oreochromis sp.) Production yang dimuat dalam Egyptian Journal of Aquatic Biology and Fisheries. Penelitian ini dipimpin oleh Dr. Ega Adhi Wicaksono bersama tim peneliti.

Seiring pertumbuhan populasi global, kebutuhan protein terus meningkat sehingga akuakultur menjadi solusi penting untuk ketahanan pangan. Namun, sistem budidaya konvensional membutuhkan air dalam jumlah besar, sementara ketersediaan air di banyak wilayah semakin terbatas. Sistem Recirculating Aquaculture System (RAS) hadir sebagai alternatif hemat air, tetapi standar operasional pemantauan kualitas air di sistem ini masih terbatas.

Penelitian ini bertujuan mengkaji pola harian (diurnal) kualitas air pada sistem RAS semi-outdoor untuk budidaya nila merah. Pengukuran dilakukan setiap tiga jam selama 24 jam untuk memantau berbagai parameter penting seperti total ammonia nitrogen (TAN), amonia tak terionisasi (NH3), oksigen terlarut, defisit oksigen, pH, dan suhu.

Hasil penelitian menunjukkan adanya pola perubahan kualitas air yang jelas sepanjang hari. Nilai TAN, oksigen terlarut, dan pH cenderung lebih tinggi pada pagi hari (06.00–09.00), sedangkan suhu dan defisit oksigen meningkat pada sore hingga malam hari (18.00–21.00).

Berdasarkan temuan tersebut, waktu terbaik untuk melakukan pemantauan kualitas air pada RAS semi-outdoor diperkirakan pada pukul 09.00 dan 18.00. Rekomendasi ini menjadi langkah penting dalam penyusunan standar operasional pemantauan kualitas air untuk meningkatkan efisiensi dan keberlanjutan produksi akuakultur. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi rujukan bagi pengembangan teknologi budidaya ikan yang lebih hemat air, produktif, dan berkelanjutan di masa depan.

Penelitian ini sekaligus menegaskan kontribusi riset Departemen Perikanan UGM dalam penguatan pengelolaan sumber daya laut berbasis sains di Indonesia. Publikasi ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, prestasi ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG  4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, SDG 8 Pekerjaan layan dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan), dan SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Magister Ilmu Perikanan UGM Gelar Seminar Inspiratif Kiat Sukses Raih Beasiswa LPDP

Berita Selasa, 10 Februari 2026

Yogyakarta – Program Studi Magister Ilmu Perikanan, Departemen Perikanan Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan seminar inspiratif bertajuk “Menggapai Gelar M.Sc. di Magister Ilmu Perikanan UGM dengan Beasiswa LPDP” pada Selasa, 10 Februari 2026 secara daring melalui Zoom Meeting. Kegiatan ini terbuka bagi mahasiswa dan masyarakat umum yang tertarik melanjutkan studi pascasarjana dengan dukungan beasiswa.

Seminar menghadirkan tiga narasumber yang merupakan alumni sekaligus awardee LPDP, yaitu Ahmad Pariansyah, Al Fajar Alam, dan Lupi Nugraheni. Ketiganya berbagi pengalaman mengenai perjalanan akademik, proses seleksi beasiswa, hingga strategi mempersiapkan diri untuk studi di Magister Ilmu Perikanan UGM.

Dalam sesi pemaparan, narasumber menekankan pentingnya persiapan sejak dini, mulai dari penguatan rekam jejak akademik, pengalaman organisasi dan riset, hingga penyusunan esai dan wawancara. Peserta juga mendapatkan gambaran nyata mengenai kehidupan perkuliahan pascasarjana, peluang riset, serta prospek karier di bidang perikanan setelah lulus.

Antusiasme peserta terlihat dari banyaknya pertanyaan yang diajukan terkait tips lolos seleksi LPDP, pemilihan topik riset, serta strategi menyeimbangkan studi dan pengembangan diri. Kegiatan ini diharapkan dapat memotivasi generasi muda untuk melanjutkan pendidikan tinggi dan berkontribusi pada pembangunan sektor perikanan berkelanjutan.

Melalui seminar ini, Program Studi Magister Ilmu Perikanan UGM berkomitmen untuk terus mendorong akses pendidikan lanjutan serta memperluas kesempatan bagi calon mahasiswa untuk meraih beasiswa dan mengembangkan kapasitas akademik di bidang perikanan. Kegiatan ini juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), dan SDG 17 Kemitraan untuk mencapai tujuan. Melalui berbagi pengalaman dan motivasi untuk melanjutkan studi pascasarjana dengan beasiswa, seminar ini mendorong peningkatan akses pendidikan tinggi serta pengembangan sumber daya manusia unggul yang siap berkontribusi pada pembangunan sektor perikanan dan kelautan berkelanjutan.

Tenaga Kependidikan Departemen Perikanan UGM Ikuti Pelatihan Budidaya Maggot untuk Pengolahan Limbah Organik

Berita Selasa, 10 Februari 2026

Yogyakarta – Upaya penguatan kompetensi tenaga kependidikan terus dilakukan Departemen Perikanan UGM melalui pelatihan budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF) sebagai solusi pengolahan limbah organik dan pengembangan pakan alternatif berkelanjutan. Kegiatan ini memanfaatkan materi handbook workshop budidaya BSF yang aplikatif dan berbasis praktik lapangan.

Pelatihan ini menekankan pentingnya pengelolaan sampah organik, mengingat lebih dari 50% sampah di Indonesia merupakan limbah mudah busuk seperti sisa makanan rumah tangga, kantin, dan restoran. Tanpa pengolahan yang tepat, limbah tersebut berisiko menularkan penyakit. Budidaya maggot BSF menjadi solusi melalui proses biokonversi, yaitu pemanfaatan larva serangga untuk mengubah limbah organik menjadi biomassa bernilai tinggi sebagai sumber protein dan lemak pakan hewan.

 

Kegiatan pelatihan juga memperkenalkan praktik budidaya BSF yang telah dikembangkan di Teaching Farm PIAT UGM sejak 2018. Farm ini memanfaatkan sisa makanan dari Rumah Sakit Akademik UGM, rumah sakit, kantin fakultas, hingga laboratorium sebagai bahan baku pakan maggot. Program ini bertujuan menciptakan pembelajaran inovatif sekaligus mendukung pengelolaan limbah kampus secara berkelanjutan.

Peserta pelatihan mempelajari siklus hidup BSF mulai dari fase telur, larva, prepupa, pupa, hingga lalat dewasa, serta teknik operasional farm seperti penetasan telur, pemeliharaan, hingga pemanenan maggot. Dalam praktiknya, 1 gram telur BSF dapat menghasilkan minimal 1 kg maggot dalam waktu sekitar 16–18 hari. Maggot segar dapat dijual Rp5.000–8.000/kg, sedangkan maggot kering mencapai Rp40.000–50.000/kg, membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.

Selain meningkatkan kapasitas teknis tenaga kependidikan, pelatihan ini diharapkan memperkuat peran kampus sebagai pusat inovasi pengelolaan limbah, ketahanan pakan, dan kewirausahaan berbasis lingkungan. Budidaya maggot BSF dinilai memiliki potensi besar untuk mendukung sistem pertanian dan peternakan yang lebih berkelanjutan di masa depan. Kegiatan ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, kegiatan ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG  4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, SDG 8 Pekerjaan layan dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan), dan SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Inovasi Riset Perikanan Antar wilayah, Dosen Perikanan UGM Diganjar Best Dissertation PKSPL IPB University

Berita Senin, 9 Februari 2026

Dosen Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada, Mukti Aprian, kembali menorehkan prestasi membanggakan di tingkat nasional. Ia menerima penghargaan dari PKSPL IPB University, sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi akademik dan pengembangan ilmu perikanan.

Penghargaan ini menjadi bukti pengakuan institusi pendidikan tinggi terhadap kiprah Mukti Aprian dalam bidang riset dan pengembangan tata kelola perikanan. Selama ini, ia dikenal aktif menghasilkan karya ilmiah yang berfokus pada pengelolaan perikanan berbasis data, teknologi pemantauan kapal, serta kebijakan perikanan berkelanjutan di Indonesia.

Penghargaan tersebut diberikan atas disertasi berjudul “Indeks Pergerakan Perikanan sebagai Transformasi Spasial Lintas Wilayah Pengelolaan Perikanan”. Capaian ini menjadi pengakuan atas kontribusi ilmiah Mukti Aprian dalam pengembangan riset tata kelola perikanan berbasis pendekatan spasial dan data.

Disertasi tersebut mengangkat konsep indeks pergerakan perikanan sebagai pendekatan baru untuk memahami dinamika aktivitas perikanan lintas wilayah pengelolaan. Pendekatan ini dinilai penting untuk mendukung perumusan kebijakan perikanan yang lebih adaptif, terintegrasi, dan berbasis bukti ilmiah.

Prestasi tersebut juga mempertegas peran Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan ilmu pengetahuan yang berdampak luas bagi sektor kelautan dan perikanan nasional. Kolaborasi lintas perguruan tinggi, termasuk dengan IPB, menjadi bagian penting dalam memperkuat jejaring riset dan inovasi di bidang perikanan.

Mukti Aprian menyampaikan bahwa penghargaan ini merupakan hasil kerja bersama berbagai pihak yang terlibat dalam penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Menurutnya, pengembangan ilmu perikanan membutuhkan kolaborasi kuat antara akademisi, pemerintah, dan pelaku industri agar kebijakan yang dihasilkan berbasis bukti ilmiah.

Prestasi ini diharapkan menjadi kontribusi penting bagi penguatan kebijakan perikanan berkelanjutan di Indonesia. Publikasi ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, prestasi ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG  4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, SDG 8 Pekerjaan layan dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan), dan SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Riset UGM Ungkap Potensi Rumput Laut sebagai Bahan Alami Anti-Jerawat

Berita Kamis, 5 Februari 2026

Kabar membanggakan datang dari Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada melalui publikasi terbaru mengenai pemanfaatan rumput laut sebagai bahan alami perawatan kulit. Penelitian berjudul In Vitro Anti-Acne Activity and Bioactive Compound Analysis of Sargassum cristaefolium Ethanolic Extract from Teluk Awur Jepara dipublikasikan dalam Journal of Multidisciplinary Applied Natural Science Vol. 5 No. 2 (2025) oleh Theresia Adven Dea Kristiani bersama Prof. Amir Husni dan Prof. Alim Isnansetyo.

Jerawat merupakan salah satu gangguan kulit yang paling umum terjadi, terutama pada remaja, dan sering menimbulkan dampak fisik maupun psikologis. Penelitian ini berfokus pada potensi rumput laut Sargassum cristaefolium dari Teluk Awur, Jepara, sebagai kandidat bahan aktif anti-jerawat berbasis alam yang lebih aman dan minim efek samping.

Hasil uji in vitro menunjukkan ekstrak etanol rumput laut tersebut efektif menghambat pertumbuhan bakteri penyebab jerawat, yaitu Cutibacterium acnes, Staphylococcus epidermidis, dan Staphylococcus aureus. Selain itu, ekstrak juga mampu melisis sebagian sel bakteri, menandakan aktivitas antibakteri yang menjanjikan.

Tak hanya itu, penelitian juga menemukan aktivitas antioksidan yang signifikan melalui uji DPPH dan ABTS. Analisis kimia menunjukkan kandungan fenol total sebesar 14,17 mg GAE/g serta kandungan sulfat 10,99%. Uji LC-MS mengidentifikasi berbagai senyawa bioaktif penting, seperti karotenoid, terpenoid, steroid, flavonoid, chromenol, dan asam lemak yang dikenal memiliki aktivitas antioksidan dan antibakteri.

Temuan ini membuka peluang pengembangan bahan baku kosmetik dan farmasi berbasis sumber daya laut Indonesia. Penelitian tersebut menegaskan potensi besar rumput laut sebagai inovasi produk perawatan kulit alami sekaligus memperkuat kontribusi riset perikanan UGM dalam bidang bioteknologi kelautan. Publikasi ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, prestasi ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG  4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, SDG 8 Pekerjaan layan dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan), dan SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Turun ke Lapangan di Kabupaten Cilacap, Dosen dan Mahasiswa Perikanan UGM Perkuat Riset Ketahanan Kota Pesisir

Berita Rabu, 4 Februari 2026

Cilacap – Dosen dan mahasiswa Departemen Perikanan Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada melaksanakan kegiatan penelitian lapangan di wilayah pesisir Cilacap sebagai bagian dari riset bertajuk Ketahanan Pangan di Era Perubahan Iklim: Indeks Pergerakan Perikanan sebagai Instrumen Adaptasi Kota-Kota Pesisir Indonesia. Penelitian ini merupakan bagian dari Riset Equity-Program World Class Academic Excellence. Kegiatan ini menjadi langkah penting dalam pengumpulan data dan penguatan kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan di daerah pesisir.

Penelitian ini dipimpin oleh Dr. Mukti Aprian, S.Kel., M.Si (Han) bersama tim peneliti lintas institusi dan mahasiswa pascasarjana. Fokus utama riset adalah mengkaji ketahanan kota pesisir terhadap perubahan iklim melalui pendekatan sistem sosial-ekologi perikanan, pengelolaan pesisir terpadu, serta pembangunan berbasis data dan partisipasi masyarakat.

Selama kegiatan di Kabupaten Cilacap, tim peneliti melakukan wawancara mendalam dan diskusi dengan narasumber yang kompeten dari berbagai sektor, seperti Dinas Kelautan dan Perikanan, Bappeda, pelabuhan perikanan, aparat keamanan laut, komunitas nelayan, pelaku usaha perikanan, hingga tokoh masyarakat setempat. Pertemuan ini menjadi sarana penting untuk menggali data faktual mengenai kondisi ekosistem pesisir, dinamika sosial-ekonomi masyarakat nelayan, serta tantangan adaptasi terhadap perubahan iklim.

Interaksi langsung dengan para pemangku kepentingan memberikan gambaran komprehensif mengenai tantangan yang dihadapi kota pesisir, mulai dari perubahan pola penangkapan ikan, tekanan pembangunan wilayah pesisir, hingga risiko kenaikan muka air laut dan abrasi. Data yang diperoleh diharapkan mampu memperkaya penyusunan indeks ketahanan kota pesisir berbasis bukti ilmiah.

Keterlibatan mahasiswa dalam penelitian lapangan juga menjadi pengalaman pembelajaran berharga, karena mereka terlibat langsung dalam proses wawancara, observasi, serta pengumpulan data sosial-ekologi. Pengalaman ini diharapkan dapat meningkatkan kapasitas mahasiswa dalam melakukan riset interdisipliner dan memahami permasalahan nyata di masyarakat pesisir.

Melalui kegiatan ini, Departemen Perikanan UGM menegaskan komitmennya untuk menghasilkan penelitian yang berdampak nyata bagi penguatan kebijakan pengelolaan pesisir dan perikanan berkelanjutan di Indonesia.

Penelitian ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 Pendidikan Berkualitas, SDG 8 Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim), SDG 14 (Ekosistem Laut), serta  SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan). Kolaborasi antara akademisi, pemerintah, dan masyarakat pesisir menjadi langkah strategis dalam membangun ketahanan kota pesisir yang adaptif, berkelanjutan, dan berbasis data ilmiah.

Mangrove Asia Tenggara Terancam Aktivitas Manusia: Temuan Riset Global Dibahas di SINNTECH Webinar #33 UGM

Berita Rabu, 28 Januari 2026

Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali menghadirkan diskusi ilmiah internasional melalui SINNTECH Webinar #33. Webinar yang digelar pada 28 Januari 2026 ini menghadirkan peneliti dari Xiamen University, Ngo Thuy Hao, yang memaparkan riset terbaru mengenai dampak aktivitas manusia terhadap ekosistem mangrove di Asia Tenggara.

Dalam pemaparannya, Hao menjelaskan bahwa kawasan Asia Tenggara merupakan salah satu wilayah dengan luas mangrove terbesar di dunia. Namun, ekosistem penting ini kini menghadapi tekanan besar akibat berbagai aktivitas manusia seperti ekspansi tambak, pertanian, pembangunan infrastruktur, serta pencemaran nutrien dari daratan.

Melalui pendekatan pemetaan spasial dan model analisis Cumulative Human Impact (CHI), penelitian ini memetakan tingkat tekanan manusia terhadap mangrove di berbagai negara Asia Tenggara. Hasilnya menunjukkan bahwa hanya sekitar 18,6% kawasan mangrove yang masih tergolong utuh, sementara sebagian besar lainnya telah terpapar berbagai tekanan aktivitas manusia.

Menariknya, beberapa negara seperti Indonesia, Malaysia, Myanmar, Kamboja, dan Timor Leste masih menunjukkan tingkat tekanan kumulatif yang relatif rendah. Hal ini memberikan peluang besar untuk upaya konservasi dan restorasi sebelum ekosistem tersebut mengalami kerusakan yang tidak dapat dipulihkan.

Penelitian ini juga mengungkap bahwa ekspansi tambak akuakultur menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi degradasi mangrove di kawasan ini, diikuti oleh konversi lahan pertanian, pembangunan jalan, dan polusi nutrien.

Melalui SINNTECH Webinar #33, mahasiswa dan peserta mendapatkan wawasan penting tentang bagaimana pendekatan sains data, pemodelan spasial, dan kolaborasi internasional dapat digunakan untuk memahami sekaligus melindungi ekosistem pesisir yang vital bagi keberlanjutan lingkungan dan ketahanan pangan global. Kegiatan ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, kegiatan ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG  4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, SDG 8 Pekerjaan layan dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan), dan SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Peneliti UGM Ungkap Identitas Gurita Bernilai Ekonomi Tinggi di Perairan Bengkulu

Berita Kamis, 22 Januari 2026

Kolaborasi dosen dan mahasiswa Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada kembali menghasilkan publikasi ilmiah internasional. Penelitian berjudul Morphological, Morphometric, and Molecular Identification of Octopus cyanea in the Waters of Kaur District, Bengkulu Province, Indonesia dipublikasikan dalam jurnal Biodiversitas Volume 26 Nomor 6 (Juni 2025) oleh Ahmad Pariansyah, M.Sc., Dr. Ratih Ida Adharini, Dr. Dini Wahyu Kartika Sari, dan Dr. Eko Hardianto.

Gurita merupakan komoditas perikanan bernilai ekonomi tinggi yang melimpah di perairan Kabupaten Kaur, Provinsi Bengkulu. Penelitian ini bertujuan memastikan identitas spesies gurita melalui pendekatan terpadu yang menggabungkan analisis morfologi, morfometrik, dan molekuler.

Sebanyak 68 sampel gurita berhasil dikumpulkan dari perairan Kaur, terdiri atas 20 jantan dan 48 betina. Identifikasi lapangan menunjukkan seluruh sampel merupakan Octopus cyanea, yang memiliki ciri khas mantel berbentuk oval, corong berbentuk huruf W, dua baris pengisap pada setiap lengan, serta pola warna cokelat-putih dengan bintik mata semu (ocelli). Analisis morfometrik juga mengungkap bahwa gurita betina memiliki rasio ukuran tubuh relatif lebih besar dibandingkan jantan pada beberapa parameter penting.

Validasi molekuler menggunakan gen Cytochrome c Oxidase Subunit I (COI) menunjukkan kecocokan 100% dengan data GenBank, memperkuat kepastian identitas spesies. Analisis filogenetik dan jarak genetik menunjukkan populasi gurita dari Kaur memiliki kekerabatan erat dengan populasi dari Jayapura, Buton, Wakatobi, Madagaskar, India, hingga Jepang, menandakan distribusi geografis yang luas.

Temuan ini menjadi dasar ilmiah penting untuk mendukung strategi konservasi dan pengelolaan perikanan gurita secara berkelanjutan. Penelitian ini sekaligus menegaskan kontribusi riset Departemen Perikanan UGM dalam penguatan pengelolaan sumber daya laut berbasis sains di Indonesia. Publikasi ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, prestasi ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG  4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, SDG 8 Pekerjaan layan dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan), dan SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Dari Data Kapal ke Kebijakan: Temuan Baru untuk Masa Depan Perikanan Indonesia

Berita Jumat, 16 Januari 2026

Salah satu dosen Departemen Perikanan, Mukti Aprian bersama tim peneliti berhasil mempublikasikan artikel ilmiah berjudul Institutionalizing Indonesia’s Commercial Fisheries: Insights From Fleet Dynamics and Vessel Monitoring Systems. Penelitian ini ditulis bersama Luky Adrianto, Mennofatria Boer, Fery Kurniawan, dan Riza Y. Setiawan.

Riset ini menyoroti tantangan besar dalam tata kelola perikanan komersial Indonesia, khususnya terkait lemahnya integrasi hasil monitoring, control, and surveillance (MCS) ke dalam proses kebijakan. Selama beberapa dekade, investasi pada sistem pemantauan perikanan terus meningkat, namun ekspansi armada komersial—baik di perairan nasional maupun lintas batas—masih berlangsung tanpa pengawasan strategis yang memadai.

Penelitian ini menggunakan pendekatan rapid assessment yang menggabungkan pengetahuan berbasis komunitas, teknologi vessel monitoring system (VMS), serta data sekunder. Analisis dilakukan dengan berbagai metode mutakhir, seperti social–ecological network analysis, principal component analysis, self-organizing maps, hingga geographic information systems (GIS). Pendekatan integratif ini memungkinkan peneliti mengidentifikasi peluang pengambilan keputusan berbasis data secara lebih komprehensif.

Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan yang jelas antara perikanan berorientasi industri dan perikanan berbasis komunitas. Selain itu, terjadi pergeseran bertahap nelayan tradisional menuju operasi komersial tanpa regulasi yang memadai. Riset juga menyoroti masih rendahnya pemanfaatan hasil penelitian ilmiah dalam kebijakan, serta kesenjangan sosial-ekonomi antara pemilik modal dan awak kapal.

Temuan penting lainnya menunjukkan bahwa kebijakan saat ini cenderung berfokus pada perikanan skala kecil, sementara sektor industri-komersial belum memiliki pengawasan strategis yang kuat. Regulasi yang seragam untuk berbagai tipe perikanan dinilai menghambat respons adaptif terhadap dinamika sektor.

Melalui penelitian ini, tim penulis mengusulkan pembentukan otoritas tata kelola khusus yang mampu mengelola perikanan komersial dan komunitas secara terintegrasi, adaptif, berbasis bukti, serta inklusif secara sosial. Publikasi ini diharapkan menjadi kontribusi penting bagi penguatan kebijakan perikanan berkelanjutan di Indonesia. Publikasi ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, publikasi ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG  4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, SDG 8 Pekerjaan layan dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan), dan SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

1…45678
Universitas Gadjah Mada

Departemen Perikanan Fakultas Pertanian

Universitas Gadjah Mada
Gedung A4, Jl. Flora, Bulaksumur,Yogyakarta, 55281
 +62274-551218
 fish@ugm.ac.id

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY