• Tentang UGM
  • Faperta
  • IT Center
  • Perpustakaan
  • LPPM
  • Bahasa Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
Fakultas Pertanian
Departemen Perikanan
  • Profil
    • Tentang Kami
    • Struktur Organisasi
    • Staff Dosen
    • Staff Kependidikan
    • KERJA SAMA
  • Akademik
    • Program Studi Akuakultur
    • Program Studi Manajemen Sumberdaya Akuatik
    • Program Studi Teknologi Hasil Perikanan
    • Program Studi Magister Ilmu Perikanan
    • Program Studi Doktor Ilmu Perikanan dan Kelautan Tropis
  • Berita
  • Fasilitas
    • Laboratorium
    • Inkubator Mina Bisnis
    • delifiZ
  • Penjaminan Mutu
  • TUK
  • Organisasi
    • KMIP
    • Selam Perikanan
    • Bahari Pers
  • Download
    • Prosedur Persuratan
    • Prosedur Akademik Sarjana
    • Prosedur Akademik Pascasarjana
    • Informasi
  • Beranda
  • SDG 14: Ekosistem Lautan
  • SDG 14: Ekosistem Lautan
  • hal. 7
Arsip:

SDG 14: Ekosistem Lautan

Belajar dari Laut Jawa: Mahasiswa Magang Berdampak UGM Ungkap Dinamika Penangkapan Ikan dan Tantangan Keberlanjutan

Berita Selasa, 19 Mei 2026

Yogyakarta — Program Magang Berdampak tidak hanya memberikan pengalaman kerja bagi mahasiswa, tetapi juga menghadirkan ruang belajar langsung mengenai realitas sektor perikanan Indonesia. Pengalaman tersebut dirasakan oleh Gondoyoni David Ananto Putro, mahasiswa Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, selama menjalani kegiatan magang yang berfokus pada aktivitas penangkapan ikan dan analisis hasil tangkapan Jaring Tarik Berkantong (JTB) di kawasan Laut Jawa.

Selama kegiatan magang, David berkesempatan mempelajari secara langsung pola produksi hasil tangkapan kapal JTB, dinamika musim penangkapan, hingga tantangan pengelolaan sumber daya perikanan yang semakin kompleks. Pengalaman lapangan tersebut membawanya memahami bahwa aktivitas penangkapan ikan tidak hanya berkaitan dengan produksi, tetapi juga menyangkut keberlanjutan stok sumber daya ikan di masa depan.

“Ketika melihat data dan kondisi lapangan secara langsung, saya menyadari bahwa sektor perikanan memiliki dinamika yang sangat kompleks. Di balik tingginya hasil tangkapan, ada tantangan besar terkait bagaimana sumber daya tetap dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan,” ungkap David.

Selama pengamatan, David menemukan bahwa hasil tangkapan kapal JTB sepanjang periode 2025–2026 menunjukkan pola produksi yang berfluktuasi mengikuti musim penangkapan. Puncak produksi tercatat terjadi pada beberapa periode tertentu seperti Februari, Agustus–September, dan awal tahun 2026. Menariknya, komposisi hasil tangkapan didominasi oleh ikan swanggi (Priacanthus tayenus) dengan proporsi mencapai sekitar 45% dari total tangkapan. Sementara jenis ikan lain seperti kapas-kapas, pasir-pasir, kuniran, dan kurisi memberikan kontribusi lebih kecil terhadap total produksi.

David menjelaskan bahwa dominasi ikan swanggi menunjukkan tingginya aktivitas penangkapan ikan demersal sekaligus tingginya permintaan pasar terhadap komoditas tersebut. Namun, hasil ini juga memunculkan pertanyaan penting mengenai tekanan penangkapan yang terjadi pada sumber daya perikanan. Ia juga mempelajari indikator Catch Per Unit Effort (CPUE), yang menggambarkan efisiensi hasil tangkapan dibandingkan upaya penangkapan. Dari hasil analisis, nilai CPUE swanggi menunjukkan fluktuasi yang cukup tinggi dan dipengaruhi oleh musim penangkapan. Puncak produktivitas terjadi pada bulan Maret, mengalami penurunan pada Mei, kemudian kembali meningkat pada Agustus hingga September.

Pengalaman tersebut semakin membuka pandangan David mengenai pentingnya pengelolaan sumber daya berbasis data. Ia menemukan bahwa beberapa wilayah penangkapan telah menghadapi tekanan eksploitasi yang tinggi, ditandai dengan penurunan stok ikan, ukuran ikan yang semakin kecil, hingga lokasi penangkapan yang semakin jauh dari pantai. Menurut David, pengalaman lapangan menjadi pelajaran penting bahwa keberhasilan sektor perikanan tidak hanya diukur dari besarnya hasil tangkapan, tetapi juga kemampuan menjaga keseimbangan antara kebutuhan ekonomi dan keberlanjutan sumber daya.

“Kami belajar bahwa pengelolaan perikanan membutuhkan kolaborasi banyak pihak. Nelayan, pemerintah, pelabuhan, dan akademisi memiliki peran yang sama pentingnya untuk menjaga sumber daya tetap tersedia bagi generasi mendatang,” tambahnya.

Melalui Program Magang Berdampak, mahasiswa memperoleh kesempatan melihat bagaimana teori di ruang kelas bertemu dengan realitas lapangan. Pengalaman tersebut menjadi bekal penting untuk membentuk lulusan yang tidak hanya memahami ilmu perikanan secara akademik, tetapi juga peka terhadap tantangan nyata sektor perikanan Indonesia. Kegiatan ini juga mendukung agenda global Sustainable Development Goals khususnya SDG 4 (Quality Education), SDG 14 (Life Below Water), dan SDG 17 (Partnerships for the Goals). Penguatan pengalaman lapangan dan pemahaman pengelolaan perikanan berkelanjutan menjadi bagian penting dalam mencetak generasi masa depan yang adaptif dan berdampak.

Belajar di Tengah Ombak: Mahasiswa Magang Berdampak UGM Ungkap Pentingnya Keselamatan Kerja Awak Kapal Perikanan

Berita Selasa, 19 Mei 2026

Yogyakarta — Pengalaman belajar tidak selalu berlangsung di ruang kelas. Bagi Azzahra Qanita Rafifah, mahasiswa Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, Program Magang Berdampak menjadi kesempatan untuk melihat langsung dinamika kehidupan di atas kapal perikanan sekaligus memahami pentingnya aspek keselamatan kerja bagi awak kapal.

Selama menjalani kegiatan magang, Azzahra melakukan pengamatan dan pembelajaran mengenai keselamatan kerja pada kapal perikanan jala jatuh berkapal (cast net). Pengalaman lapangan tersebut membawanya pada satu kesimpulan penting: aktivitas penangkapan ikan bukan hanya soal hasil tangkapan, tetapi juga menyangkut keselamatan para pekerja di laut.

Menurut Azzahra, kehidupan di atas kapal menghadirkan tantangan yang berbeda dibandingkan pekerjaan pada umumnya. Kondisi cuaca yang tidak menentu, gelombang tinggi, serta aktivitas kerja yang berlangsung di ruang terbatas menciptakan risiko yang harus dihadapi setiap awak kapal.

“Magang membuat saya memahami bahwa nelayan dan awak kapal bekerja dalam situasi yang penuh tantangan. Ada risiko yang mungkin tidak terlihat oleh masyarakat, tetapi sangat nyata dirasakan di lapangan,” ungkap Azzahra.

Dari hasil wawancara selama kegiatan magang, ditemukan bahwa cuaca ekstrem dan human error menjadi faktor utama yang memengaruhi kecelakaan kerja di kapal perikanan. Ombak tinggi dan kondisi cuaca buruk disebut sebagai tantangan terbesar selama proses penangkapan ikan berlangsung.

Selain faktor alam, berbagai kecelakaan kerja juga pernah dialami awak kapal, mulai dari terkena garda, terjepit tali tambang, hingga kerusakan mesin kapal ketika beroperasi di laut.

Menariknya, Azzahra juga menemukan bahwa meskipun sebagian besar awak kapal telah mengikuti pelatihan keselamatan, penerapan penggunaan alat pelindung diri masih belum sepenuhnya optimal. Beberapa awak kapal menganggap penggunaan life jacket dapat menghambat mobilitas dan aktivitas kerja saat proses penangkapan berlangsung.

Namun dari sisi fasilitas, kapal-kapal yang diamati telah menunjukkan kesiapan alat komunikasi keselamatan. Ketersediaan radio VHF dan radio MF pada kapal perikanan yang diamati telah memenuhi kriteria sesuai ketentuan yang berlaku dengan tingkat kesesuaian mencapai 100 persen.

Pengalaman tersebut membuka pandangan Azzahra bahwa keselamatan kerja perlu dipandang sebagai bagian penting dalam sistem perikanan berkelanjutan. Menurutnya, teknologi dan perlengkapan keselamatan harus diiringi dengan budaya disiplin dan kesadaran bersama.

“Keselamatan bukan sekadar aturan, tetapi kebiasaan yang perlu dibangun. Karena keberhasilan melaut tidak hanya soal kembali membawa hasil tangkapan, tetapi juga pulang dengan selamat,” tambahnya.

Melalui Program Magang Berdampak, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengalaman teknis, tetapi juga belajar memahami berbagai aspek sosial, keselamatan, dan tantangan nyata yang dihadapi sektor perikanan Indonesia.

Kegiatan ini juga mendukung agenda global Sustainable Development Goals khususnya SDG 3 (Good Health and Well-being), SDG 8 (Decent Work and Economic Growth), SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, serta SDG 14 (Life Below Water). Penguatan budaya keselamatan kerja menjadi bagian penting dalam menciptakan sektor perikanan yang produktif, aman, dan berkelanjutan.

Departemen Perikanan UGM Matangkan Persiapan SEMNASKAN XXIII, Perkuat Ruang Kolaborasi Riset Perikanan Nasional

Berita Selasa, 19 Mei 2026

Yogyakarta — Komitmen memperkuat diseminasi ilmu pengetahuan dan kolaborasi riset bidang perikanan dan kelautan terus dilakukan Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada. Salah satu langkah strategis tersebut diwujudkan melalui pelaksanaan rapat review pemakalah persiapan Seminar Nasional Tahunan XXIII Hasil Penelitian Perikanan dan Kelautan (SEMNASKAN-UGM XXIII) yang diselenggarakan pada Selasa, 19 Mei 2026 di Ruang 202 Departemen Perikanan UGM.

Rapat ini dipimpin oleh Ketua Panitia kegiatan dan Ketua Sesi Naskah Susana Endah Ratnawati, S.Pi., M.Si., Ph.D. dan Dr. Ega Adhi Wicaksono, S.Pi, dihadiri dosen, guru besar, panitia, serta sivitas akademika yang terlibat dalam penyelenggaraan seminar tahunan tersebut. Forum ini menjadi momentum penting untuk memastikan berbagai aspek pelaksanaan SEMNASKAN XXIII dapat berjalan optimal.

SEMNASKAN sendiri telah menjadi agenda ilmiah tahunan Departemen Perikanan UGM sejak tahun 2003 dan berkembang sebagai ruang strategis untuk mempertemukan akademisi, peneliti, mahasiswa, pemerintah, hingga praktisi perikanan dalam mendiseminasikan hasil penelitian dan memperkuat jejaring kolaborasi.

Tahun 2026, SEMNASKAN XXIII mengangkat tema besar mengenai Blue Foods: Potensi dan Pengelolaan Berkelanjutan Sistem Pangan Biru Berbasis Perairan Lokal. Tema ini menyoroti besarnya potensi pangan akuatik Indonesia sekaligus pentingnya pengelolaan sumber daya secara berkelanjutan. Sebagai negara kepulauan dengan kekayaan sumber daya laut dan perikanan yang sangat besar, Indonesia dinilai memiliki peluang strategis dalam pengembangan blue food berbasis inovasi, teknologi, dan keberlanjutan. Konsep tersebut tidak hanya berkaitan dengan produksi pangan, tetapi juga menyentuh aspek ekonomi, kesehatan, industri, hingga pengembangan masyarakat pesisir.

Menariknya, SEMNASKAN XXIII juga akan menghadirkan berbagai kelas dan bidang kajian yang mencakup akuakultur, manajemen sumber daya akuatik, penangkapan ikan, sosial ekonomi perikanan, mikrobiologi, mutu dan keamanan produk perikanan, hingga pangan fungsional berbasis sumber daya akuatik. Pendekatan multidisiplin ini diharapkan mampu memperkaya diskusi dan memperluas peluang kolaborasi antarpeneliti.

Melalui rapat ini, Departemen Perikanan UGM menunjukkan bahwa seminar ilmiah bukan sekadar agenda tahunan, tetapi ruang penting dalam membangun ekosistem riset yang hidup dan berdampak. Persiapan yang matang diharapkan dapat menghadirkan forum ilmiah yang tidak hanya menghasilkan publikasi, tetapi juga solusi nyata bagi pengembangan sektor perikanan Indonesia.

Kegiatan ini juga sejalan dengan agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 9 (Industry, Innovation and Infrastructure), SDG 14 (Life Below Water), dan SDG 17 (Partnerships for the Goals). Penguatan jejaring riset dan diseminasi ilmu pengetahuan menjadi langkah penting dalam membangun sektor perikanan yang inovatif dan berkelanjutan.

Dosen Perikanan UGM Berbagi Keahlian Vaksinasi Ikan, Dorong Penguatan Kesehatan Ikan Air Tawar di Sleman

Berita Selasa, 19 Mei 2026

Sleman — Upaya meningkatkan kesehatan ikan budidaya dan memperkuat kapasitas pelaku sektor perikanan terus dilakukan melalui penguatan pengetahuan dan keterampilan di lapangan. Dosen Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, Dr. drh. Nur Lailatul Fitrotun Nikmah, menjadi narasumber dalam Pelatihan Vaksinasi Pada Ikan Air Tawar yang diselenggarakan oleh Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan Kabupaten Sleman pada 23 April 2026.

Kegiatan pelatihan yang berlangsung selama dua jam pelajaran tersebut menjadi bagian dari upaya peningkatan kapasitas sumber daya manusia di sektor budidaya perikanan, khususnya dalam pengendalian penyakit dan peningkatan kesehatan ikan air tawar. Dalam pemaparannya, Dr. Laila menekankan bahwa kesehatan ikan menjadi salah satu faktor penting yang menentukan keberhasilan budidaya. Meningkatnya intensitas budidaya sering kali diikuti dengan meningkatnya risiko munculnya penyakit yang dapat menyebabkan kerugian ekonomi bagi pembudidaya.

Menurutnya, vaksinasi merupakan salah satu pendekatan preventif yang dapat dilakukan untuk meningkatkan ketahanan ikan terhadap penyakit tertentu. Pendekatan ini dinilai lebih efektif dalam jangka panjang karena membantu menekan potensi serangan penyakit sebelum wabah terjadi.

“Pencegahan selalu lebih baik dibandingkan penanganan ketika penyakit sudah menyebar. Dalam budidaya modern, kesehatan ikan perlu dipandang sebagai investasi jangka panjang,” jelasnya dalam sesi pelatihan.

Selain menjelaskan konsep dasar vaksinasi, peserta juga memperoleh pemahaman mengenai prinsip penerapan vaksin pada ikan air tawar, strategi pengendalian penyakit, serta pentingnya menjaga kualitas lingkungan budidaya sebagai bagian dari sistem kesehatan ikan secara menyeluruh. Dr. Laila juga menyoroti bahwa keberhasilan vaksinasi tidak hanya bergantung pada metode pemberian vaksin, tetapi juga dipengaruhi berbagai faktor lain seperti kondisi ikan, kualitas air, manajemen pemeliharaan, hingga ketepatan waktu pemberian perlakuan.

Pelatihan ini menjadi ruang diskusi yang interaktif antara narasumber dan peserta. Berbagai pengalaman lapangan, tantangan penyakit pada budidaya ikan, hingga praktik pengelolaan kesehatan ikan menjadi topik yang banyak dibahas selama kegiatan berlangsung. Keterlibatan dosen Departemen Perikanan UGM dalam kegiatan ini menunjukkan komitmen perguruan tinggi dalam mendukung pengembangan sektor perikanan melalui pendidikan dan transfer pengetahuan kepada masyarakat serta pemangku kepentingan di lapangan.

Kegiatan ini juga sejalan dengan agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 2 (Zero Hunger), SDG 3 (Good Health and Well-being), SDG 4 Pendidikan Berkualitas, SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, dan SDG 14 (Life Below Water). Penguatan kesehatan ikan dan peningkatan kapasitas pembudidaya menjadi bagian penting dalam mendukung sistem perikanan yang produktif dan berkelanjutan.

Mahasiswa Perikanan UGM Diajak Turun Langsung Jaga Ikan Lokal Melalui Aksi Penebaran Benih di Embung Lembah UGM

Berita Senin, 18 Mei 2026

Yogyakarta — Upaya menjaga keberlanjutan sumber daya ikan lokal tidak hanya dilakukan melalui riset dan kebijakan, tetapi juga melalui aksi nyata di lapangan. Dalam semangat konservasi dan kepedulian terhadap ekosistem perairan darat, mahasiswa Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada diajak berpartisipasi dalam kegiatan Penebaran Ikan dalam Rangka Konservasi In Situ Ikan Lokal yang diselenggarakan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Daerah Istimewa Yogyakarta pada Senin, 18 Mei 2026. Kegiatan ini juga merupakan rangkaian dari Dies Natalis ke-63 Departemen Perikanan.

Kegiatan yang berlangsung di Embung Lembah UGM tersebut menjadi bagian dari upaya pelestarian dan pemulihan sumber daya ikan lokal di perairan umum daratan melalui pendekatan konservasi in situ, yaitu pelestarian spesies langsung di habitat alaminya. Sejak pagi hari, mahasiswa Perikanan UGM dijadwalkan terlibat dalam kegiatan penebaran benih ikan sebagai bentuk kontribusi nyata terhadap upaya menjaga keseimbangan ekosistem perairan. Kegiatan ini tidak hanya menjadi agenda lingkungan, tetapi juga ruang pembelajaran bagi mahasiswa untuk melihat secara langsung praktik konservasi sumber daya perikanan di lapangan.

Penebaran benih ikan lokal memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan populasi spesies asli perairan. Berbagai tekanan seperti perubahan lingkungan, degradasi habitat, hingga aktivitas manusia dapat memengaruhi keberadaan ikan lokal di perairan umum. Melalui kegiatan konservasi seperti ini, upaya pemulihan populasi dan pelestarian keanekaragaman hayati perairan dapat diperkuat.

Bagi mahasiswa Perikanan UGM, kegiatan ini juga menjadi pengalaman berharga karena mempertemukan aspek akademik dengan praktik nyata konservasi. Pembelajaran mengenai ekologi, pengelolaan sumber daya perairan, hingga keberlanjutan lingkungan tidak hanya dipahami secara teoritis di kelas, tetapi juga diwujudkan melalui keterlibatan langsung di lapangan.

Selain menjadi bentuk aksi konservasi, kegiatan ini juga memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah dalam menjaga sumber daya perikanan lokal. Keterlibatan mahasiswa diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran generasi muda akan pentingnya menjaga ekosistem perairan sebagai bagian dari masa depan lingkungan Indonesia. Semangat menjaga ikan lokal bukan sekadar tentang menambah populasi ikan di perairan, tetapi juga menjaga keseimbangan ekosistem dan warisan biodiversitas yang dimiliki Indonesia.

Kegiatan ini juga mendukung agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 14 (Life Below Water) SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, dan SDG 15 (Life on Land). Pelestarian keanekaragaman hayati dan pengelolaan sumber daya perairan berkelanjutan menjadi langkah penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem untuk generasi mendatang.

KMIP Perikanan UGM Gelar Pelepasliaran Tukik di Pantai Goa Cemara, Wujud Kepedulian Mahasiswa terhadap Ekosistem Laut

Berita Senin, 18 Mei 2026

Yogyakarta — Komitmen mahasiswa terhadap pelestarian lingkungan kembali diwujudkan melalui aksi nyata. Keluarga Mahasiswa Ilmu Perikanan (KMIP) menggelar kegiatan pelepasliaran tukik di Pantai Goa Cemara pada Sabtu, 16 Mei 2026. Kegiatan ini menjadi salah satu agenda yang menggabungkan semangat konservasi, edukasi, dan kebersamaan mahasiswa Perikanan UGM.

Kegiatan pelepasliaran tukik berlangsung dengan antusiasme tinggi dari para peserta. Sejak pagi hari, mahasiswa terlibat dalam rangkaian kegiatan yang tidak hanya menghadirkan pengalaman lapangan, tetapi juga mengajak peserta memahami pentingnya menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir dan laut.

Sebagai organisasi mahasiswa di lingkungan Departemen Perikanan, KMIP terus mendorong berbagai kegiatan yang tidak hanya berfokus pada pengembangan akademik dan organisasi, tetapi juga membangun kepedulian sosial dan lingkungan. Pelepasliaran tukik dipilih karena memiliki makna penting dalam mendukung konservasi satwa laut yang kini menghadapi berbagai ancaman.

Penyu merupakan salah satu spesies yang memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem laut. Namun keberadaannya semakin terancam akibat kerusakan habitat, sampah laut, perubahan iklim, hingga aktivitas manusia. Melalui kegiatan ini, mahasiswa diajak melihat secara langsung bahwa menjaga keberlanjutan laut dimulai dari langkah-langkah sederhana yang dilakukan bersama.

Momen pelepasan tukik menuju laut juga menghadirkan pengalaman yang berkesan bagi peserta. Di tengah suasana Pantai Goa Cemara, mahasiswa tidak hanya menyaksikan proses pelepasliaran, tetapi juga merefleksikan pentingnya keterlibatan generasi muda dalam upaya konservasi lingkungan.

Bagi KMIP, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya membangun budaya organisasi yang aktif, peduli, dan berdampak. Mahasiswa tidak hanya belajar melalui ruang kelas, tetapi juga memperoleh pengalaman langsung mengenai isu-isu lingkungan dan konservasi sumber daya perikanan.

Melalui kegiatan seperti ini, KMIP menunjukkan bahwa organisasi mahasiswa dapat menjadi ruang tumbuh bagi lahirnya generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap keberlanjutan lingkungan.

Kegiatan ini juga sejalan dengan agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 14 (Life Below Water), SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, SDG 4 Pendidikan Berkualitas, dan SDG 15 (Life on Land). Keterlibatan mahasiswa dalam aksi konservasi menjadi langkah penting dalam menjaga ekosistem laut dan keanekaragaman hayati bagi masa depan yang lebih berkelanjutan.

Belajar Kebijakan Laut hingga Strategi Pembangunan Perikanan, Ini Serunya Mata Kuliah Fisheries and Marine Policy di Perikanan UGM

Berita Rabu, 13 Mei 2026

Yogyakarta — Sektor perikanan dan kelautan tidak hanya membutuhkan teknologi dan kemampuan produksi, tetapi juga kebijakan yang tepat untuk menjaga keberlanjutan sumber daya dan kesejahteraan masyarakat pesisir. Hal tersebut menjadi fokus utama dalam mata kuliah Fisheries and Marine Policy di Magister Ilmu Perikanan (MIP), Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada.

Mata kuliah wajib yang diajarkan pada semester pertama ini mengajak mahasiswa memahami bagaimana kebijakan perikanan dan kelautan dibentuk, diterapkan, hingga dievaluasi dalam konteks pembangunan nasional maupun global. Mata kuliah ini diampu oleh Prof. Djumanto dan Prof. Suadi.

Melalui mata kuliah ini, mahasiswa belajar berbagai teori pembangunan perikanan, posisi sektor perikanan dalam ekonomi nasional dan internasional, hingga strategi kebijakan pengelolaan sumber daya laut yang berkelanjutan. Tidak hanya membahas Indonesia, mahasiswa juga diajak melihat berbagai contoh pembangunan perikanan di negara-negara berbasis maritim seperti Jepang, Amerika, Eropa, dan negara-negara Asia lainnya.

Yang menarik, pembelajaran tidak hanya dilakukan melalui kuliah di kelas. Mahasiswa aktif mengikuti diskusi kelompok, presentasi, studi kasus, kuis, hingga analisis berbagai persoalan nyata di sektor perikanan dan kelautan. Pendekatan ini membuat mahasiswa belajar berpikir kritis terhadap isu-isu strategis seperti konflik sumber daya, tata kelola pesisir, pembangunan ekonomi maritim, hingga peran negara dan swasta dalam sektor perikanan.

Mahasiswa juga dikenalkan pada konsep kebijakan publik modern dan tata kelola laut internasional. Topik-topik seperti konservasi lintas batas laut, hukum laut internasional, hingga marine governance menjadi bagian penting dalam pembelajaran. Hal ini menunjukkan bahwa dunia perikanan modern sangat erat kaitannya dengan aspek sosial, politik, ekonomi, dan lingkungan secara global.

Selain memperkuat wawasan akademik, mata kuliah ini dirancang untuk membentuk kemampuan mahasiswa dalam merumuskan, menerapkan, dan mengevaluasi kebijakan perikanan secara logis, kritis, dan inovatif. Mahasiswa juga didorong untuk mampu bekerja dalam tim, membangun jejaring, serta berkontribusi dalam pengembangan masyarakat dan sektor perikanan Indonesia.

Bagi calon mahasiswa yang tertarik pada isu pembangunan pesisir, kebijakan publik, ekonomi kelautan, maupun tata kelola sumber daya laut, mata kuliah ini memberikan gambaran bahwa kuliah di Perikanan UGM tidak hanya belajar tentang ikan, tetapi juga memahami bagaimana kebijakan memengaruhi masa depan laut dan masyarakat pesisir.

Melalui pembelajaran ini, Departemen Perikanan UGM terus berupaya mencetak lulusan yang mampu berpikir strategis, adaptif, dan memiliki kepedulian terhadap keberlanjutan sektor perikanan dan kelautan Indonesia.

Mata kuliah ini juga mendukung agenda global Sustainable Development Goals, khususnya tujuan ke-4 (Quality Education), tujuan ke-14 (Life Below Water), dan tujuan ke-16 (Peace, Justice and Strong Institutions). Penguatan tata kelola dan kebijakan perikanan menjadi bagian penting dalam menciptakan pembangunan kelautan yang adil dan berkelanjutan.

Dosen Perikanan UGM: Melupakan Laut Berarti Mengabaikan Masa Depan Sosial Indonesia

Berita Rabu, 13 Mei 2026

Yogyakarta — Wacana mengenai memudarnya orientasi pembangunan maritim Indonesia kembali menjadi perhatian publik setelah muncul opini berjudul “Melupakan Laut, Menggadaikan Masa Depan” yang dimuat media nasional. Tulisan tersebut menyoroti bagaimana laut perlahan kehilangan posisi strategis dalam arah pembangunan Indonesia, padahal laut merupakan fondasi penting bagi identitas dan masa depan bangsa.
RMOL – Melupakan Laut, Menggadaikan Masa Depan

Menanggapi isu tersebut, dosen Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, Dr. Mukti Aprian, menilai bahwa persoalan terbesar Indonesia hari ini bukan semata-mata eksploitasi laut, melainkan cara pandang pembangunan yang mulai menjauh dari identitas maritim bangsa.

Menurut Dr. Mukti, laut selama ini terlalu sering diposisikan hanya sebagai sumber ekonomi dan ruang produksi. Padahal, laut memiliki dimensi sosial, budaya, ekologis, hingga politik yang sangat besar bagi kehidupan masyarakat Indonesia, terutama komunitas pesisir dan nelayan kecil.

“Ketika laut hanya dipahami sebagai komoditas ekonomi, maka yang hilang bukan hanya ekosistemnya, tetapi juga ruang hidup masyarakat pesisir, pengetahuan lokal, dan identitas maritim Indonesia,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa pembangunan sektor kelautan seharusnya tidak berhenti pada peningkatan produksi atau investasi semata. Menurutnya, kebijakan maritim perlu melihat laut sebagai ruang kehidupan yang memiliki hubungan erat dengan ketahanan pangan, budaya lokal, hingga keberlanjutan sosial masyarakat.

Dr. Mukti juga menyoroti bagaimana masyarakat pesisir sering menjadi kelompok yang paling terdampak ketika pembangunan tidak memperhatikan aspek sosial dan ekologis. Perubahan iklim, abrasi, pencemaran laut, hingga penurunan sumber daya ikan secara langsung memengaruhi kehidupan nelayan dan komunitas pesisir yang menggantungkan hidup dari laut.

Dalam pandangannya, Indonesia membutuhkan paradigma pembangunan maritim yang lebih manusiawi dan berkelanjutan. Ia menilai pendekatan sosial dalam ilmu perikanan menjadi semakin penting untuk memahami bagaimana masyarakat beradaptasi terhadap perubahan lingkungan, tekanan ekonomi, dan transformasi kebijakan di sektor kelautan.

“Laut bukan sekadar ruang geografis. Laut adalah ruang sosial. Di sana ada relasi budaya, ekonomi keluarga, solidaritas masyarakat, bahkan identitas komunitas yang terbentuk selama puluhan tahun,” jelasnya.

Sebagai akademisi yang menaruh perhatian pada kajian sosial perikanan dan masyarakat pesisir, Dr. Mukti Aprian juga menilai bahwa riset-riset sosial di bidang perikanan masih perlu diperkuat. Menurutnya, selama ini kajian kelautan lebih banyak didominasi pendekatan teknis dan produksi, sementara dinamika sosial masyarakat pesisir sering kurang mendapat perhatian.

Ia menekankan bahwa masa depan sektor kelautan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh teknologi, tetapi juga oleh kemampuan memahami manusia yang hidup di dalam sistem tersebut.

Selain itu, Dr. Mukti menilai generasi muda perlu mulai membangun kembali kesadaran maritim. Kampus, menurutnya, memiliki tanggung jawab penting dalam membentuk cara pandang baru terhadap laut, bukan sekadar sebagai sumber daya, tetapi sebagai bagian dari keberlanjutan kehidupan bangsa.

“Kalau laut rusak, dampaknya bukan hanya pada ikan atau ekosistem, tetapi juga pada ketahanan pangan, migrasi masyarakat pesisir, kemiskinan, hingga konflik sosial. Karena itu, menjaga laut sebenarnya adalah menjaga masa depan Indonesia,” tambahnya.

Melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat, Departemen Perikanan UGM terus mendorong pengembangan ilmu perikanan yang lebih inklusif, berkelanjutan, dan berpihak pada masyarakat pesisir.

Refleksi ini juga sejalan dengan agenda global Sustainable Development Goals, khususnya tujuan ke-13 (Climate Action), tujuan ke-14 (Life Below Water), dan tujuan ke-1 (No Poverty). Penguatan pembangunan maritim berbasis keberlanjutan dinilai menjadi langkah penting untuk menjaga ekologi laut sekaligus kesejahteraan masyarakat pesisir Indonesia.

Podcast Fisheries Talks Bahas Pentingnya Menjaga Ekosistem Laut Sejak Dini

Berita Rabu, 13 Mei 2026

Yogyakarta — Kesadaran menjaga laut dan lingkungan pesisir perlu ditanamkan sejak usia dini. Pesan tersebut menjadi fokus utama dalam episode terbaru Fisheries Talks by Media Perikanan UGM yang menghadirkan dua duta muda maritim Bali, yaitu Ni Putu Devika Wulandari dan Ni Putu Khenzie Dena Defika.

Dipandu oleh host Alya Putri Mezzaluna, podcast ini membahas berbagai isu terkait keberlanjutan ekosistem laut Indonesia serta pentingnya keterlibatan generasi muda dalam menjaga kelestarian lingkungan bahari.

Dalam perbincangan tersebut, kedua narasumber menyoroti bahwa laut Indonesia memiliki kekayaan hayati yang sangat besar sekaligus menghadapi berbagai ancaman seperti sampah plastik, pencemaran, hingga kerusakan ekosistem pesisir. Kesadaran masyarakat, terutama anak muda, dinilai menjadi faktor penting dalam menjaga masa depan laut Indonesia.

Podcast ini juga mengangkat bagaimana peran duta maritim tidak hanya sebatas ajang representasi, tetapi juga menjadi ruang edukasi untuk mengajak masyarakat lebih peduli terhadap laut dan lingkungan pesisir. Melalui media sosial, kampanye edukasi, hingga kegiatan lingkungan, generasi muda dinilai memiliki peluang besar untuk menyebarkan kesadaran konservasi laut secara lebih luas.

Diskusi berlangsung hangat dan inspiratif dengan berbagai cerita pengalaman narasumber selama terlibat dalam kegiatan edukasi kemaritiman di Bali. Mereka juga berbagi pandangan mengenai pentingnya membangun kebiasaan sederhana seperti mengurangi sampah plastik, menjaga kebersihan pantai, dan lebih mengenal kekayaan laut Indonesia.

Isu keberlanjutan ekosistem laut sendiri menjadi perhatian global mengingat laut memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan dan kehidupan manusia. Berbagai tantangan seperti pencemaran laut, kerusakan terumbu karang, dan eksploitasi sumber daya laut berlebihan menjadi ancaman serius bagi keberlanjutan ekosistem bahari.

Melalui podcast ini, Media Perikanan UGM berupaya menghadirkan ruang diskusi yang ringan namun edukatif agar isu kelautan semakin dekat dengan generasi muda. Kehadiran figur muda seperti Duta Maritim Bali diharapkan mampu menginspirasi mahasiswa dan masyarakat untuk lebih peduli terhadap laut Indonesia.

Video podcast dapat disaksikan melalui kanal YouTube berikut:
Fisheries Talks – Menjaga Keberlanjutan Ekosistem Laut Indonesia

Kegiatan ini juga mendukung agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 4 (Quality Education), SDG 13 (Climate Action), dan SDG 14 (Life Below Water). Edukasi dan keterlibatan generasi muda menjadi langkah penting dalam menjaga keberlanjutan ekosistem laut Indonesia untuk masa depan.

Podcast Perikanan UGM Angkat Kisah Mahasiswa Akuakultur Peraih Medali Perunggu PIMNAS 38

Berita Selasa, 12 Mei 2026

Yogyakarta — Prestasi mahasiswa Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada kembali menjadi inspirasi melalui tayangan podcast terbaru Media Perikanan UGM. Episode kali ini menghadirkan Mutiara Hanum, mahasiswa Program Studi Akuakultur UGM yang berhasil meraih medali perunggu pada ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) ke-38 tahun 2025.

Podcast dipandu oleh host Aurelie Firlana Salsabilla dan membahas perjalanan Mutiara Hanum dalam mengikuti Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) hingga berhasil membawa pulang prestasi nasional di ajang ilmiah paling bergengsi bagi mahasiswa Indonesia.

Dalam perbincangan tersebut, Mutiara berbagi cerita mengenai proses penyusunan ide, tantangan selama kompetisi, hingga pengalaman mengikuti PIMNAS 38. Ia juga menceritakan bagaimana kerja tim, konsistensi, dan dukungan lingkungan akademik menjadi faktor penting dalam perjalanan prestasinya.

Prestasi yang diraih Mutiara Hanum sebelumnya juga mendapat apresiasi dari Fakultas Pertanian UGM. Dalam ajang PIMNAS 38, Mutiara berhasil memperoleh Medali Perunggu kategori Poster pada cabang Program Kreativitas Mahasiswa Penerapan IPTEK (PKM-PI).

Tim yang diikuti Mutiara mengembangkan inovasi bertajuk SOLAQUA, sistem aerasi cerdas berbasis tenaga surya dan teknologi Internet of Things (IoT) untuk memantau kualitas air budidaya secara real-time. Inovasi tersebut dinilai mampu mendukung sistem akuakultur yang lebih efisien dan berkelanjutan.

Melalui podcast ini, Media Perikanan UGM tidak hanya menghadirkan cerita prestasi mahasiswa, tetapi juga membuka ruang inspirasi bagi mahasiswa lain agar berani mencoba, berkarya, dan terlibat dalam berbagai kompetisi ilmiah.

Suasana podcast berlangsung santai dan interaktif, membuat pengalaman mengikuti PIMNAS terasa dekat dan relevan bagi mahasiswa. Berbagai cerita di balik proses persiapan, dinamika lomba, hingga pengalaman bertemu mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia turut menjadi bagian menarik dalam episode tersebut.

Bagi mahasiswa baru maupun calon mahasiswa, podcast ini memberikan gambaran bahwa kuliah di Akuakultur UGM tidak hanya berfokus pada pembelajaran di kelas, tetapi juga membuka banyak peluang untuk berprestasi, berinovasi, dan mengembangkan solusi nyata bagi sektor perikanan dan lingkungan.

Video podcast dapat disaksikan melalui kanal YouTube berikut:
Podcast Mahasiswa Akuakultur UGM Tembus Perunggu PIMNAS 38

Kegiatan ini juga mendukung agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 4 (Quality Education), SDG 9 (Industry, Innovation and Infrastructure), dan SDG 14 (Life Below Water). Inovasi mahasiswa di bidang akuakultur berkelanjutan menjadi bagian penting dalam pengembangan teknologi perikanan yang ramah lingkungan dan berdampak bagi masyarakat.

1…56789…19
Universitas Gadjah Mada

Departemen Perikanan Fakultas Pertanian

Universitas Gadjah Mada
Gedung A4, Jl. Flora, Bulaksumur,Yogyakarta, 55281
 +62274-551218
 fish@ugm.ac.id

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY