• Tentang UGM
  • Faperta
  • IT Center
  • Perpustakaan
  • LPPM
  • Bahasa Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
Fakultas Pertanian
Departemen Perikanan
  • Profil
    • Tentang Kami
    • Struktur Organisasi
    • Staff Dosen
    • Staff Kependidikan
    • KERJA SAMA
  • Akademik
    • Program Studi Akuakultur
    • Program Studi Manajemen Sumberdaya Akuatik
    • Program Studi Teknologi Hasil Perikanan
    • Program Studi Magister Ilmu Perikanan
    • Program Studi Doktor Ilmu Perikanan dan Kelautan Tropis
  • Berita
  • Fasilitas
    • Laboratorium
    • Inkubator Mina Bisnis
    • delifiZ
  • Penjaminan Mutu
  • TUK
  • Organisasi
    • KMIP
    • Selam Perikanan
    • Bahari Pers
  • Download
    • Prosedur Persuratan
    • Prosedur Akademik Sarjana
    • Prosedur Akademik Pascasarjana
    • Informasi
  • Beranda
  • SDG 14: Ekosistem Lautan
  • SDG 14: Ekosistem Lautan
  • hal. 7
Arsip:

SDG 14: Ekosistem Lautan

Dosen Perikanan UGM Tinjau Mahasiswa Magang Berdampak di UPT P2SKP Tamperan Pacitan

Berita Senin, 11 Mei 2026

Pacitan — Komitmen Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada dalam mendukung pembelajaran berbasis pengalaman lapangan kembali diwujudkan melalui kunjungan dosen pembimbing ke lokasi Magang Berdampak mahasiswa di UPT Pengembangan Pelabuhan Perikanan Pantai dan Pengelolaan Sumberdaya Kelautan dan Perikanan Tamperan.

Kunjungan dilakukan oleh Prof. Djumanto sebagai bagian dari monitoring dan pendampingan mahasiswa peserta program magang yang tengah menjalani praktik langsung di kawasan pelabuhan perikanan Tamperan, Pacitan.

Dalam kegiatan tersebut, Prof. Djumanto meninjau berbagai aktivitas mahasiswa selama mengikuti program magang, mulai dari pengelolaan pelabuhan perikanan, aktivitas pendaratan ikan, tata kelola hasil perikanan, hingga dinamika pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan di tingkat lapangan.

Program Magang Berdampak menjadi salah satu upaya Departemen Perikanan UGM dalam memperkuat pengalaman praktis mahasiswa agar mampu memahami kondisi nyata sektor perikanan. Melalui keterlibatan langsung di instansi dan unit kerja perikanan, mahasiswa diharapkan dapat menghubungkan teori perkuliahan dengan praktik profesional di lapangan.

Selain melakukan monitoring, kunjungan ini juga menjadi ruang diskusi antara dosen pembimbing, mahasiswa, dan pihak UPT terkait pengembangan kompetensi mahasiswa serta tantangan sektor perikanan tangkap dan pengelolaan pelabuhan perikanan saat ini.

UPT P2SKP Tamperan Pacitan sendiri merupakan salah satu kawasan strategis perikanan tangkap di pesisir selatan Jawa Timur yang memiliki aktivitas perikanan cukup dinamis. Lingkungan ini menjadi tempat belajar yang penting bagi mahasiswa untuk memahami sistem pengelolaan pelabuhan, distribusi hasil tangkapan, hingga interaksi sosial-ekonomi masyarakat nelayan.

Melalui program magang ini, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengalaman teknis, tetapi juga belajar mengenai komunikasi profesional, adaptasi lingkungan kerja, serta pentingnya kolaborasi dalam pengelolaan sektor perikanan dan kelautan.

Departemen Perikanan UGM terus mendorong pembelajaran yang adaptif dan kontekstual agar lulusan memiliki kesiapan menghadapi dunia kerja dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan sektor perikanan Indonesia.

Informasi mengenai UPT P2SKP Tamperan Pacitan dapat diakses melalui:
UPT P2SKP Tamperan Pacitan

Kegiatan ini juga mendukung agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 4 (Quality Education), SDG 8 (Decent Work and Economic Growth), SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, dan SDG 14 (Life Below Water). Pembelajaran berbasis pengalaman lapangan menjadi bagian penting dalam menciptakan sumber daya manusia unggul di bidang perikanan dan kelautan yang berkelanjutan.

Prodi Manajemen Sumberdaya Akuatik Departemen Perikanan Tampil di Media Resmi Universitas, Tunjukkan Peran Strategis Menjaga Ekosistem Perairan

Berita Senin, 11 Mei 2026

Yogyakarta — Program Studi Manajemen Sumberdaya Akuatik (MSA), Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada kembali mendapat sorotan melalui liputan media resmi universitas yang tayang pada kanal Instagram UGM. Melalui tayangan video singkat tersebut, Prodi MSA diperkenalkan sebagai program studi yang berfokus pada pengelolaan sumber daya perairan dan keberlanjutan ekosistem akuatik di Indonesia.

Liputan ini menampilkan berbagai aktivitas akademik dan praktik lapangan mahasiswa dalam mempelajari pengelolaan lingkungan perairan, konservasi, hingga pemanfaatan sumber daya akuatik secara berkelanjutan. Kehadiran Prodi MSA dalam media resmi universitas menjadi bagian dari upaya memperkenalkan dunia perikanan dan lingkungan perairan kepada masyarakat luas, khususnya calon mahasiswa.

Sebagai salah satu program studi di Departemen Perikanan UGM, MSA memiliki fokus pembelajaran yang tidak hanya berkaitan dengan ikan dan perairan, tetapi juga bagaimana menjaga keseimbangan ekosistem di tengah tantangan perubahan lingkungan, pencemaran, dan eksploitasi sumber daya alam.

Mahasiswa MSA dibekali dengan berbagai kompetensi, mulai dari pengelolaan habitat perairan, konservasi sumber daya akuatik, pengendalian pencemaran, hingga pemanfaatan teknologi dalam pengelolaan lingkungan perairan. Pembelajaran juga didukung dengan kegiatan praktikum dan observasi lapangan agar mahasiswa memahami kondisi nyata ekosistem perairan di Indonesia.

Dalam tayangan tersebut, suasana pembelajaran yang aktif dan kolaboratif turut menjadi sorotan. Mahasiswa terlihat terlibat dalam berbagai kegiatan akademik yang mendorong kemampuan analisis, pemecahan masalah, dan pengelolaan sumber daya berbasis keberlanjutan.

Liputan media resmi universitas ini menjadi momentum penting bagi Prodi MSA untuk menunjukkan bahwa bidang perikanan modern tidak hanya berbicara tentang produksi, tetapi juga tentang menjaga keseimbangan lingkungan dan masa depan sumber daya air.

Keberadaan program studi ini juga semakin relevan di tengah meningkatnya perhatian global terhadap isu perubahan iklim, degradasi ekosistem, dan keberlanjutan sumber daya alam. Lulusan MSA memiliki peluang berkarier di bidang konservasi, pengelolaan lingkungan, penelitian, pemerintahan, hingga sektor industri berbasis lingkungan.

Video liputan resmi tersebut dapat disaksikan melalui akun Instagram resmi UGM berikut:
Instagram Reels Prodi Manajemen Sumberdaya Akuatik UGM

Kehadiran Prodi MSA dalam media resmi universitas juga mendukung agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 4 (Quality Education), SDG 13 (Climate Action), dan SDG 14 (Life Below Water). Pendidikan berbasis keberlanjutan menjadi langkah penting dalam menyiapkan generasi muda yang mampu menjaga masa depan ekosistem perairan Indonesia.

Dosen Departemen Perikanan UGM Berikan Pelatihan Keamanan Pangan Hasil Perikanan di PPP Gesing

Berita Senin, 11 Mei 2026

Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada kembali berkontribusi dalam peningkatan kapasitas masyarakat pesisir melalui kegiatan pelatihan keamanan pangan hasil perikanan yang dilaksanakan di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Gesing, Gunungkidul, pada 7 April 2026. Kegiatan ini menghadirkan Ir. Mgs. Muhammad Prima Putra, S.Pi., M.Sc., Ph.D. sebagai narasumber utama yang memberikan materi terkait pentingnya menjaga mutu dan keamanan hasil perikanan sejak proses penangkapan hingga distribusi.

Dalam pemaparannya, Dr. Prima menekankan bahwa mutu ikan sangat ditentukan oleh cara penanganan sejak awal. Ia menjelaskan pentingnya penerapan metode penangkapan ikan yang benar agar kualitas ikan tetap terjaga dan tidak mengalami kerusakan fisik maupun penurunan mutu. Selain itu, penanganan ikan di atas kapal juga menjadi perhatian utama, termasuk kebersihan wadah, sanitasi alat, serta penanganan yang cepat dan tepat setelah ikan ditangkap.

Tidak hanya itu, penggunaan rantai dingin (cold chain) dari atas kapal hingga proses pelelangan ikan turut menjadi poin penting yang disampaikan dalam pelatihan tersebut. Menurutnya, penerapan suhu dingin secara konsisten mampu memperlambat kerusakan ikan dan menjaga kesegaran bahan baku sehingga aman untuk dikonsumsi masyarakat. “Mutu ikan tidak dapat ditingkatkan, tetapi hanya bisa dipertahankan. Oleh karena itu, penanganan yang baik menjadi kunci utama,” tegasnya kepada peserta.

Dr. Prima juga mengingatkan peserta terkait potensi bahaya pangan yang khas pada produk perikanan, seperti keberadaan alergen dan toksin tertentu yang dapat membahayakan kesehatan apabila tidak ditangani dengan baik. Melalui pelatihan ini, masyarakat diharapkan semakin waspada dan memiliki kepedulian untuk menjaga kualitas bahan baku ikan agar tetap aman dan bermutu tinggi.

Kegiatan ini diprakarsai oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta bekerja sama dengan Komisi D DPRD Kabupaten Gunungkidul. Pelatihan dihadiri oleh nelayan serta istri nelayan di kawasan PPP Gesing yang antusias mengikuti diskusi dan sesi tanya jawab selama kegiatan berlangsung.

Melalui kegiatan ini, diharapkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat pesisir terhadap keamanan pangan hasil perikanan semakin meningkat sehingga mampu mendukung penyediaan produk perikanan yang aman, bermutu, dan berdaya saing. Kegiatan pelatihan ini juga sejalan dengan agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 2 (Zero Hunger), SDG 3 (Good Health and Well-being), SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, dan SDG 14 (Life Below Water). Peningkatan kapasitas masyarakat pesisir dalam menjaga mutu dan keamanan pangan hasil perikanan menjadi langkah penting dalam mendukung ketahanan pangan, kesehatan masyarakat, serta pengelolaan sumber daya laut yang berkelanjutan.

Belajar Menjaga Masa Depan Perairan Indonesia Lewat Mata Kuliah Manajemen Sumberdaya Perairan UGM

Berita Jumat, 8 Mei 2026

Yogyakarta — Perubahan lingkungan, penurunan kualitas air, hingga ancaman terhadap ekosistem perairan menjadi tantangan besar yang dihadapi Indonesia saat ini. Menjawab tantangan tersebut, Program Studi Manajemen Sumberdaya Akuatik, Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada menghadirkan mata kuliah Manajemen Sumberdaya Perairan sebagai ruang belajar bagi mahasiswa untuk memahami pengelolaan ekosistem perairan secara berkelanjutan.

Mata kuliah wajib berbobot 2 SKS ini diampu dosen-dosen kompeten seperti Prof. Djumanto dan Prof. Eko Setyobudi. Perkuliahan dirancang tidak hanya membahas teori pengelolaan sumber daya perairan, tetapi juga mengajak mahasiswa memahami berbagai persoalan nyata yang terjadi di lapangan.

Mahasiswa akan mempelajari berbagai topik menarik, mulai dari karakter habitat perairan air tawar, payau, dan laut, pengelolaan kualitas air, pengendalian tumbuhan air, restorasi ekosistem, hingga pemanfaatan sumber daya perairan untuk ekowisata dan konservasi.

Yang membuat mata kuliah ini menarik adalah pendekatan pembelajarannya yang berbasis studi kasus (case-based learning). Mahasiswa tidak hanya mendengarkan kuliah di kelas, tetapi juga aktif berdiskusi, menganalisis permasalahan lingkungan perairan, serta mencari solusi pengelolaan yang berkelanjutan.

Melalui mata kuliah ini, mahasiswa diajak berpikir layaknya pengelola sumber daya perairan profesional. Mereka belajar bagaimana mengidentifikasi kondisi habitat, memahami hubungan antara kualitas lingkungan dan biota perairan, hingga menyusun alternatif solusi terhadap berbagai persoalan ekosistem perairan.

Selain memperkuat pemahaman ekologis, mahasiswa juga dikenalkan pada pentingnya pendekatan sosial dan keberlanjutan dalam pengelolaan sumber daya alam. Pengelolaan perairan modern tidak lagi hanya berfokus pada eksploitasi sumber daya, tetapi juga pada upaya menjaga keseimbangan ekologi dan manfaat jangka panjang bagi masyarakat.

Suasana pembelajaran dibuat interaktif melalui diskusi kelompok, presentasi, penugasan proyek, hingga analisis kasus nyata yang berkaitan dengan pengelolaan sumber daya perikanan dan kelautan di Indonesia. Pendekatan ini membantu mahasiswa mengembangkan kemampuan berpikir kritis, komunikasi, dan pemecahan masalah.

Bagi calon mahasiswa yang tertarik pada isu lingkungan, konservasi, dan keberlanjutan sumber daya alam, mata kuliah ini menjadi salah satu gambaran menarik tentang bagaimana dunia perikanan modern tidak hanya berbicara soal ikan, tetapi juga tentang menjaga ekosistem dan masa depan lingkungan perairan Indonesia.

Mata kuliah ini juga mendukung agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 6 (Clean Water and Sanitation), SDG 4 Pendidikan Berkualitas, SDG 13 (Climate Action), dan SDG 14 (Life Below Water). Pendidikan mengenai pengelolaan sumber daya perairan menjadi bagian penting dalam menciptakan generasi yang peduli terhadap keberlanjutan lingkungan dan ekosistem perairan.

Departemen Perikanan UGM Turut Ambil Bagian dalam Kegiatan “Grebeg Ikan Sapu-Sapu” di Bantul

Berita Kamis, 7 Mei 2026

Yogyakarta — Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada turut berpartisipasi dalam kegiatan “Grebeg Ikan Sapu-Sapu” yang diselenggarakan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Daerah Istimewa Yogyakarta pada Kamis, 7 Mei 2026 di kawasan Rawa Kalibayem.

Dalam kegiatan tersebut, Departemen Perikanan UGM diwakili oleh Prof. Alim Isnansetyo dan Dr. Riza Y. Setiawan. Kehadiran keduanya menjadi bagian dari dukungan akademisi terhadap upaya pengendalian spesies ikan invasif di perairan umum.

Kegiatan “Grebeg Ikan Sapu-Sapu” merupakan aksi kolaboratif yang melibatkan berbagai instansi, akademisi, serta masyarakat lokal untuk mengurangi populasi ikan sapu-sapu di kawasan rawa. Ikan sapu-sapu dikenal sebagai spesies invasif yang dapat mengganggu keseimbangan ekosistem perairan, termasuk merusak habitat alami dan berkompetisi dengan ikan lokal.

Acara diawali dengan apel persiapan dan sambutan dari Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan DIY sebelum peserta bersama-sama melakukan penangkapan ikan sapu-sapu di area rawa. Selain menjadi kegiatan pengendalian ekologi, agenda ini juga menjadi sarana edukasi mengenai pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem perairan darat.

Partisipasi Departemen Perikanan UGM dalam kegiatan ini mencerminkan komitmen perguruan tinggi dalam mendukung pengelolaan sumber daya perairan berbasis kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat. Pendekatan semacam ini dinilai penting untuk menjawab berbagai tantangan lingkungan yang semakin kompleks.

Melalui keterlibatan langsung di lapangan, sivitas akademika juga dapat memperkuat peran pengabdian kepada masyarakat sekaligus menghubungkan ilmu pengetahuan dengan praktik pengelolaan lingkungan yang nyata.

Kegiatan ini sejalan dengan agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 14 (Life Below Water),  SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, dan SDG 15 (Life on Land). Pengendalian spesies invasif menjadi langkah penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem perairan dan keberlanjutan keanekaragaman hayati lokal.

Belajar Menjadi Nelayan Modern: Mata Kuliah Praktik Teknik Penangkapan Ikan UGM Hadirkan Pengalaman Lapangan bagi Mahasiswa

Berita Rabu, 6 Mei 2026

Yogyakarta — Dunia perikanan tangkap tidak hanya dipelajari melalui teori di ruang kelas. Melalui mata kuliah Praktik Teknik Penangkapan Ikan, mahasiswa Program Studi Sumberdaya Akuatik, Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada diajak memahami langsung keterampilan dasar dalam teknik penangkapan ikan yang berkelanjutan.

Mata kuliah praktik berbobot 1 SKS ini menjadi salah satu pembelajaran penting bagi mahasiswa semester empat. Tidak hanya mengenalkan berbagai jenis alat tangkap, mahasiswa juga dibekali kemampuan teknis mulai dari merancang, merakit, hingga memperbaiki alat tangkap ikan secara langsung.

Berbeda dengan pembelajaran konvensional, mata kuliah ini menekankan pengalaman praktik sebagai inti pembelajaran. Mahasiswa diajak mengenal bahan dan alat penangkapan ikan, membuat webbing net, memperbaiki jaring rusak, menyambung jaring, hingga melakukan praktik penangkapan ikan secara langsung di lapangan.

Selain keterampilan teknis, mahasiswa juga diperkenalkan pada konsep perikanan berkelanjutan. Dalam proses pembelajaran, mahasiswa memahami bagaimana alat tangkap dapat dirancang agar lebih ramah lingkungan serta memperhatikan kondisi habitat ikan dan ekosistem perairan.

Menurut deskripsi mata kuliah, mahasiswa juga mempelajari hubungan antara habitat, biologi ikan target, dan teknik pengoperasian alat tangkap. Pendekatan ini penting agar kegiatan penangkapan ikan tidak hanya efektif, tetapi juga tetap menjaga keseimbangan sumber daya perikanan.

Pembelajaran dilakukan melalui pendekatan student-centered learning dengan kombinasi diskusi, proyek, presentasi, serta tugas praktik. Penilaian lebih banyak menitikberatkan pada tugas dan kuis praktik, yang mencapai 70 persen dari total penilaian mata kuliah.

Tidak hanya melatih keterampilan mahasiswa, mata kuliah ini juga menjadi ruang untuk memahami tantangan dunia perikanan tangkap modern. Mahasiswa didorong untuk berpikir kritis mengenai efisiensi alat tangkap, keberlanjutan sumber daya ikan, hingga pentingnya inovasi teknologi penangkapan ikan.

Melalui pembelajaran berbasis praktik ini, Departemen Perikanan UGM berupaya mencetak lulusan yang tidak hanya memahami teori, tetapi juga memiliki keterampilan lapangan dan kesadaran ekologis dalam pengelolaan perikanan.

Mata kuliah ini juga mendukung agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 4 (Quality Education), SDG 9 Industry Innovation and Infrastructure, dan SDG 14 (Life Below Water). Pendidikan perikanan berbasis praktik dan keberlanjutan menjadi langkah penting dalam menyiapkan sumber daya manusia yang mampu menjaga masa depan ekosistem perairan Indonesia.

Dosen Perikanan UGM Soroti Ancaman Mikroplastik terhadap Masa Depan Laut dalam Oceanology Talk Series BRIN

Berita Rabu, 6 Mei 2026

Yogyakarta — Isu pencemaran laut kembali menjadi perhatian serius dalam forum ilmiah nasional. Dosen Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, Sulistiowati, menjadi salah satu pembicara dalam kegiatan Oceanology Talk Series #4 yang diselenggarakan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional pada Rabu, 6 Mei 2026.

Dalam forum bertajuk “Anthropogenic Footprints: Heavy Metal and Plastic Stress in Marine Environments”, Dr. Sulistiowati membawakan materi berjudul “How Marine Debris and Microplastics are Compromising the Future of Our Oceans”. Materi tersebut mengangkat ancaman serius sampah laut dan mikroplastik terhadap keberlanjutan ekosistem perairan global.

Diskusi menyoroti bagaimana limbah plastik yang terus meningkat di laut tidak hanya mencemari lingkungan, tetapi juga masuk ke rantai makanan melalui organisme laut. Mikroplastik kini ditemukan di berbagai ekosistem, mulai dari sedimen, plankton, ikan, hingga produk konsumsi manusia, sehingga menjadi isu lingkungan sekaligus kesehatan yang semakin mendesak.

Dalam paparannya, Dr. Sulistiowati menekankan bahwa pencemaran mikroplastik merupakan persoalan lintas sektor yang membutuhkan pendekatan kolaboratif antara akademisi, pemerintah, industri, dan masyarakat. Menurutnya, perubahan perilaku konsumsi serta pengelolaan limbah yang lebih baik menjadi langkah penting dalam mengurangi tekanan terhadap laut.

Kegiatan yang berlangsung secara daring melalui Zoom ini juga menghadirkan peneliti dari Pusat Riset Oseanologi BRIN, termasuk Triyoni Purbonegoro yang membahas akumulasi logam berat pada lingkungan perairan. Forum ini menjadi ruang diskusi ilmiah mengenai dampak aktivitas manusia terhadap kesehatan ekosistem laut.

Keterlibatan dosen Perikanan UGM dalam forum nasional ini menunjukkan komitmen institusi dalam mendorong pengembangan ilmu pengetahuan yang responsif terhadap isu lingkungan global. Penelitian dan edukasi mengenai pencemaran laut dinilai semakin penting di tengah meningkatnya ancaman terhadap keberlanjutan sumber daya perairan.

Selain memperkuat jejaring akademik dan riset, partisipasi ini juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesadaran publik mengenai pentingnya menjaga laut dari ancaman sampah plastik dan limbah berbahaya lainnya.

Topik yang diangkat dalam forum ini juga sejalan dengan agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 14 (Life Below Water), SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, SDG 4: Pendidikan Berkualitas, dan 12 (Responsible Consumption and Production). Upaya mengurangi pencemaran laut menjadi langkah penting dalam menjaga keberlanjutan ekosistem perairan bagi generasi mendatang.

Dosen Perikanan UGM Inisiasi Kerja Sama Penelitian dan Pengabdian Masyarakat di Gunungkidul

Berita Selasa, 5 Mei 2026

Gunungkidul — Dosen Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada menginisiasi kerja sama penelitian dan pengabdian masyarakat di wilayah Gunungkidul sebagai bagian dari penguatan sinergi akademik dan pemberdayaan masyarakat pesisir.

Kegiatan ini dijalankan oleh tim dosen yang terdiri atas Dr. Endah Prihatiningtyastuti, Dr. Ratih Ida Adharini, dan Dr. Anes Dwi Jayanti. Selain menjadi langkah awal kolaborasi penelitian dan pengabdian, kegiatan ini juga diisi dengan diskusi bersama masyarakat dan pemangku kepentingan terkait pengembangan potensi wilayah pesisir dan perikanan.

Dalam diskusi tersebut, berbagai isu strategis dibahas, mulai dari pengelolaan sumber daya perairan, pemberdayaan masyarakat pesisir, penguatan kapasitas kelompok perikanan, hingga peluang pengembangan ekonomi berbasis sumber daya lokal. Pendekatan kolaboratif menjadi salah satu fokus utama agar program yang dijalankan tidak hanya berbasis penelitian akademik, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Tim dosen Perikanan UGM menekankan pentingnya integrasi antara penelitian dan pengabdian masyarakat sebagai bagian dari implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi. Melalui pendekatan partisipatif, masyarakat diharapkan tidak hanya menjadi objek program, tetapi juga menjadi bagian aktif dalam proses pengembangan dan pengambilan keputusan.

Selain membahas potensi pengembangan sektor perikanan, kegiatan ini juga menjadi ruang dialog untuk memahami tantangan lokal yang dihadapi masyarakat, termasuk isu keberlanjutan sumber daya, perubahan lingkungan, serta penguatan ketahanan sosial-ekonomi komunitas pesisir.

Kerja sama ini diharapkan dapat membuka peluang kolaborasi jangka panjang antara akademisi, masyarakat, dan pemerintah daerah dalam pengembangan riset terapan serta program pemberdayaan berbasis kebutuhan lokal.

Melalui kegiatan ini, Departemen Perikanan UGM kembali menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan ilmu pengetahuan yang tidak hanya berkembang di ruang akademik, tetapi juga berdampak langsung bagi masyarakat.

Inisiatif ini juga sejalan dengan agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 4 (Quality Education), SDG 8 (Decent Work and Economic Growth), SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, dan  SDG 14 (Life Below Water). Kolaborasi penelitian dan pengabdian masyarakat menjadi bagian penting dalam mendorong pembangunan wilayah pesisir yang berkelanjutan dan inklusif.

Dari Laut ke Ruang Sosial: Dosen Perikanan UGM Bahas Ketahanan Masyarakat Pesisir di Kuliah Umum Undiksha

Berita Selasa, 5 Mei 2026

Buleleng – Dosen Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, Dr. Mukti Aprian, S.Kel., M.Si (Han) menjadi narasumber dalam kegiatan Kuliah Umum Public Lecture Series #10 dan #11 yang diselenggarakan oleh Program Studi Pendidikan Sosiologi bersama Eurasia Foundation di Universitas Pendidikan Ganesha pada 5 Mei 2026.

Dalam kegiatan yang berlangsung di Auditorium Balingkang Confucius Institute Undiksha tersebut, Dr. Mukti Aprian akan menyampaikan materi bertajuk “Relasi antar Masyarakat Pesisir di Indonesia: Potensi Ketahanan Sosial dan Budaya Menuju Indonesia Emas”. Materi ini menyoroti pentingnya memahami masyarakat pesisir tidak hanya dari aspek ekonomi dan produksi, tetapi juga dari sisi sosial, budaya, dan relasi antar komunitas.

Dalam berbagai publikasinya, Dr. Mukti Aprian dikenal aktif mengangkat isu-isu sosial dalam sektor perikanan, termasuk dinamika masyarakat pesisir, hubungan sipil-militer dalam pengelolaan sumber daya laut, hingga perubahan orientasi riset perikanan modern yang dinilai semakin mengesampingkan aspek sosial. Salah satu kajiannya bahkan menyoroti bagaimana penelitian fleet dynamics perikanan global mengalami kecenderungan dominasi pendekatan ekonomi dan teknis, sementara dimensi sosial masyarakat nelayan perlahan memudar.

Menurutnya, sektor perikanan tidak dapat dipahami hanya melalui angka produksi atau efisiensi ekonomi semata. Di balik aktivitas perikanan terdapat relasi sosial, nilai budaya, solidaritas komunitas, hingga mekanisme adaptasi masyarakat dalam menghadapi perubahan lingkungan dan kebijakan.

Dalam beberapa penelitiannya, ia juga menekankan pentingnya pendekatan kolaboratif dan partisipatif dalam tata kelola sumber daya pesisir. Ketahanan sektor perikanan, menurutnya, tidak hanya bergantung pada kondisi ekologi laut, tetapi juga pada kekuatan relasi sosial masyarakat yang hidup di dalamnya.

Kehadiran Dr. Mukti Aprian sebagai pembicara di forum lintas disiplin ini menunjukkan bahwa ilmu perikanan memiliki keterkaitan erat dengan ilmu sosial dan humaniora. Selain Dr. Mukti, pembicara lainnya adalah Dr. phil. Geger Riyanto dari Program studi Antropologi Universitas Indonesia yang membawakan paparan dengan tema, “Kearifan Lokal Masyarakat Pesisir di Maluku.” Dengan hadirnya berbagai ahli di bidang yang berbeda, pendekatan multidisiplin dinilai semakin penting untuk menjawab tantangan kompleks di wilayah pesisir Indonesia.

Kegiatan kuliah umum ini diikuti oleh mahasiswa dan akademisi dari berbagai bidang ilmu, serta menghadirkan ruang diskusi mengenai masyarakat pesisir sebagai bagian penting dalam pembangunan nasional menuju Indonesia Emas 2045.

Sejalan dengan itu, gagasan yang diangkat dalam kuliah umum ini juga mendukung agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 14 (Life Below Water),  SDG 17  Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, SDG 4 Pendidikan Berkualitas, SDG 8 Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi ,dan SDG 11 (Sustainable Cities and Communities). Penguatan ketahanan sosial masyarakat pesisir menjadi bagian penting dalam menciptakan pengelolaan sumber daya laut yang berkelanjutan dan berkeadilan.

Fakultas Pertanian UGM dan FisTx Indonesia Tandatangani MoU Penguatan Inovasi Akuakultur Berkelanjutan

Berita Selasa, 5 Mei 2026

Yogyakarta — Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada resmi menjalin kerja sama strategis dengan FisTx Indonesia melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dalam upaya memperkuat inovasi dan pengembangan akuakultur berkelanjutan di Indonesia.

Kolaborasi ini menjadi langkah penting dalam mempertemukan dunia akademik dengan industri berbasis teknologi perikanan. Kerja sama diarahkan pada pengembangan riset, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, implementasi teknologi budidaya modern, hingga penguatan ekosistem akuakultur yang lebih adaptif dan berkelanjutan.

Sebagai perusahaan rintisan berbasis teknologi akuakultur, FisTx Indonesia dikenal aktif mengembangkan berbagai inovasi untuk mendukung produktivitas budidaya, khususnya sektor tambak udang dan perikanan modern. Perusahaan ini mengembangkan solusi seperti teknologi UV tambak, sistem budidaya terukur, pendampingan petambak, hingga pengelolaan kualitas air berbasis teknologi.

Dalam beberapa tahun terakhir, FisTx juga aktif memperkenalkan inovasi teknologi budidaya berkelanjutan, termasuk teknologi elektrolisis untuk meningkatkan kualitas air tambak dan mengurangi penggunaan bahan kimia dalam budidaya udang.

Melalui kerja sama ini, Fakultas Pertanian UGM berharap mahasiswa dan dosen dapat memperoleh ruang kolaborasi yang lebih luas dengan dunia industri, baik dalam bentuk penelitian terapan, program magang, pengembangan inovasi, maupun hilirisasi teknologi perikanan.

Kolaborasi antara perguruan tinggi dan industri dinilai semakin penting di tengah tantangan sektor akuakultur modern yang membutuhkan pendekatan multidisiplin dan berbasis teknologi. Integrasi ilmu pengetahuan dengan kebutuhan industri diharapkan mampu melahirkan solusi yang aplikatif dan berdampak langsung bagi masyarakat pembudidaya.

Selain mendukung pengembangan teknologi, kerja sama ini juga menjadi bagian dari upaya mendorong transformasi sektor perikanan menuju sistem budidaya yang lebih efisien, ramah lingkungan, dan berorientasi pada keberlanjutan.

Sejalan dengan itu, penandatanganan MoU ini juga mendukung agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 9 (Industry, Innovation and Infrastructure), SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, SDG 4 Pendidikan Berkualitas, SDG 8 Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomidan SDG 14 (Life Below Water). Sinergi antara perguruan tinggi dan industri menjadi langkah strategis dalam memperkuat inovasi akuakultur sekaligus menjaga keberlanjutan sumber daya perairan di masa depan.

1…56789…18
Universitas Gadjah Mada

Departemen Perikanan Fakultas Pertanian

Universitas Gadjah Mada
Gedung A4, Jl. Flora, Bulaksumur,Yogyakarta, 55281
 +62274-551218
 fish@ugm.ac.id

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY