• Tentang UGM
  • Faperta
  • IT Center
  • Perpustakaan
  • LPPM
  • Bahasa Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
Fakultas Pertanian
Departemen Perikanan
  • Profil
    • Tentang Kami
    • Struktur Organisasi
    • Staff Dosen
    • Staff Kependidikan
    • KERJA SAMA
  • Akademik
    • Program Studi Akuakultur
    • Program Studi Manajemen Sumberdaya Akuatik
    • Program Studi Teknologi Hasil Perikanan
    • Program Studi Magister Ilmu Perikanan
    • Program Studi Doktor Ilmu Perikanan dan Kelautan Tropis
  • Berita
  • Fasilitas
    • Laboratorium
    • Inkubator Mina Bisnis
    • delifiZ
  • Penjaminan Mutu
  • TUK
  • Organisasi
    • KMIP
    • Selam Perikanan
    • Bahari Pers
  • Download
    • Prosedur Persuratan
    • Prosedur Akademik Sarjana
    • Prosedur Akademik Pascasarjana
    • Informasi
  • Beranda
  • SDG 14: Ekosistem Lautan
  • SDG 14: Ekosistem Lautan
  • hal. 9
Arsip:

SDG 14: Ekosistem Lautan

Publikasi Internasional Perikanan UGM: Limbah Spirulina Disulap Jadi Bahan Pakan Bernilai Tinggi

Berita Senin, 27 April 2026

Yogyakarta — Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada kembali mencatatkan kontribusi ilmiah di tingkat global melalui publikasi terbaru di jurnal internasional Discover Food.

Penelitian berjudul “Nutritional improvement of Spirulina (Arthrospira platensis) by-product through simultaneous fermentation with Bacillus subtilis (T2A) & (T3P1), and Lactococcus formosensis (JAL 11)” ini ditulis oleh Dr. Rani Yuwanita, Prof. Alim Isnansetyo, Dr. Siti Ari Budhiyanti, serta Dr. Indah Istiqomah. Dr Rani sendiri merupakan dosen Universitas Brawijaya yang baru saja menyelesaikan pendidikan Doktor di Departemen Perikanan UGM.

Riset ini mengangkat potensi besar limbah mikroalga Spirulina (Arthrospira platensis), khususnya hasil samping ekstraksi fikosianin, sebagai bahan baku pakan berkelanjutan. Selama ini, limbah Spirulina diketahui kaya akan protein, asam amino, asam lemak, mineral, dan senyawa fenolik, namun masih memiliki kendala pada aspek aroma, tekstur, dan kualitas nutrisi yang belum optimal.

Untuk mengatasi hal tersebut, tim peneliti mengembangkan pendekatan fermentasi simultan menggunakan bakteri Bacillus subtilis (T2A dan T3P1) serta Lactococcus formosensis (JAL 11). Ketiga mikroorganisme ini merupakan koleksi dari Laboratorium Kesehatan Ikan dan Lingkungan, Departemen Perikanan UGM, yang dikenal mampu menghasilkan enzim ekstraseluler seperti protease untuk meningkatkan kualitas bahan pangan dan pakan.

Dalam eksperimennya, limbah Spirulina difermentasi pada suhu 30°C selama 2, 4, dan 6 hari dalam kondisi mikroanaerob. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fermentasi memberikan dampak signifikan terhadap kualitas produk, baik dari sisi nutrisi maupun karakteristik sensorik.

Pertumbuhan bakteri mencapai titik optimal pada hari keempat dengan jumlah lebih dari 2,9 × 10⁹ CFU per gram. Pada fase ini, terjadi peningkatan nyata pada aroma, warna, dan tekstur limbah Spirulina, yang sebelumnya dikenal memiliki bau khas yang kurang disukai.

Dari sisi nutrisi, fermentasi selama empat hari terbukti paling efektif. Kandungan protein meningkat hingga 67,61 persen bobot kering, atau naik sekitar 5,42 persen dibandingkan sebelum fermentasi. Selain itu, terjadi peningkatan signifikan pada berbagai asam amino penting seperti arginin, glisin, isoleusin, metionin, valin, fenilalanin, prolin, dan serin.

Tak hanya itu, profil asam lemak esensial juga mengalami perbaikan, termasuk peningkatan senyawa seperti linoleat, palmitoleat, hingga docosahexaenoate (DHA) yang penting bagi pertumbuhan dan kesehatan organisme akuatik.

Menariknya, proses fermentasi ini tidak memberikan perubahan signifikan terhadap kadar lemak dan kadar air, sehingga kualitas dasar bahan tetap terjaga. Di saat yang sama, fermentasi berhasil mengurangi aroma tidak sedap (off-flavour) yang selama ini menjadi kendala utama pemanfaatan limbah Spirulina.

Sejalan dengan itu, penelitian ini juga berkontribusi pada agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, SDG 4 Pendidikan Berkualitas, SDG 9 Industry Innovation and Infrastructure, SDG 12 (Responsible Consumption and Production) dan SDG 14 (Life Below Water). Pemanfaatan limbah Spirulina menjadi produk bernilai tambah mencerminkan prinsip efisiensi sumber daya dan ekonomi sirkular, sekaligus mendukung pengembangan sistem perikanan yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Secara keseluruhan, penelitian ini menyimpulkan bahwa fermentasi simultan mampu meningkatkan nilai gizi, memperbaiki profil asam amino dan asam lemak, serta menghasilkan tekstur dan aroma yang lebih baik.

Temuan ini membuka peluang besar bagi pemanfaatan limbah industri mikroalga sebagai bahan baku pakan alternatif yang lebih efisien dan ramah lingkungan. Selain mendukung prinsip ekonomi sirkular, inovasi ini juga berpotensi mengurangi ketergantungan pada bahan pakan konvensional.

Publikasi ini sekaligus menegaskan peran aktif akademisi UGM dalam mengembangkan solusi berbasis bioteknologi untuk menjawab tantangan keberlanjutan di sektor perikanan dan pangan global.

 

Dari Daun Kelor hingga Limbah Bulu Ayam: SinnTech #36 UGM Kupas Inovasi Pakan Ikan Masa Depan

Berita Jumat, 24 April 2026

Berita (±380 kata):

Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada kembali menghadirkan diskusi ilmiah yang segar dan relevan melalui SinnTech Webinar #36 bertema “Fish Feed Innovation: Variation of Fish Feed From Nutritional Sources” pada Jumat, 24 April 2026. Webinar ini menjadi ruang inspiratif bagi mahasiswa dan praktisi untuk memahami masa depan industri akuakultur melalui inovasi pakan ikan.

Menghadirkan dua narasumber internasional dan nasional, yakni Ts. Dr. Sairatul Dahlianis Ishak dan Dr. Desy Putri Handayani, S.Pi. webinar ini menyoroti bagaimana dunia akuakultur sedang mengalami transformasi besar, khususnya dalam pemanfaatan bahan baku alternatif pengganti tepung ikan (fish meal).

Dalam pemaparannya, Dr. Desy Putri Handayani menjelaskan bahwa tren global saat ini bergerak menuju penggunaan bahan berbasis nabati dan limbah organik sebagai sumber protein pakan. Contohnya, daun kelor (Moringa) yang difermentasi terbukti mampu meningkatkan sistem imun ikan serta kualitas darah, menjadikannya alternatif yang murah dan berkelanjutan.

Tak hanya itu, inovasi lain yang tak kalah menarik adalah pemanfaatan limbah bulu ayam yang diolah secara bioteknologi menjadi sumber asam amino bernilai tinggi. Teknologi enzimatik seperti keratinase mampu mengubah limbah ini menjadi bahan pakan potensial, membuka peluang ekonomi sekaligus mengurangi limbah industri.

Diskusi juga menyoroti peran rumput laut sebagai bahan tambahan pakan fungsional. Senyawa seperti alginat dari alga coklat terbukti mampu meningkatkan sistem imun ikan dan udang, sekaligus meningkatkan efisiensi pakan.

Sementara itu, Ts. Dr. Sairatul Dahlianis Ishak menekankan pentingnya inovasi formulasi pakan yang tidak hanya berfokus pada nutrisi, tetapi juga keberlanjutan dan efisiensi biaya produksi. Pergeseran menuju protein alternatif dinilai menjadi solusi untuk mengurangi ketergantungan pada sumber daya laut yang terbatas.

Webinar ini menunjukkan bahwa masa depan akuakultur tidak lagi bergantung pada sumber konvensional, tetapi pada kreativitas dan inovasi dalam memanfaatkan sumber daya yang tersedia.

Kegiatan ini sejalan dengan SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, SDG 4: Pendidikan Berkualitas, SDG 2 (Zero Hunger) melalui peningkatan produksi pangan berkelanjutan, SDG 12 (Responsible Consumption and Production) melalui pemanfaatan limbah dan bahan alternatif, serta SDG 14 (Life Below Water) dalam menjaga keberlanjutan ekosistem laut.

Bagi mahasiswa, SinnTech #36 bukan sekadar webinar—tetapi jendela menuju masa depan industri perikanan yang inovatif, ramah lingkungan, dan penuh peluang.

Dua Dosen Muda Perikanan UGM Resmi Raih Jabatan Lektor, Perkuat Kiprah Akademik dan Riset

Berita Jumat, 24 April 2026

Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada kembali mencatatkan capaian membanggakan melalui peningkatan karier akademik dosen muda. Dua dosen, yakni Dr. Olivia Yofananda, S.TP. dan Dr. drh. Nur Lailatul Fitrotun Nikmah, resmi memperoleh jabatan fungsional Lektor sebagai bentuk pengakuan atas dedikasi mereka dalam bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Dr. Olivia Yofananda merupakan dosen dengan latar belakang teknologi pangan yang berfokus pada pengolahan hasil perikanan. Risetnya banyak menyoroti inovasi produk berbasis sumber daya laut, termasuk pengembangan pangan fungsional yang memiliki nilai tambah bagi kesehatan dan industri. Kontribusinya tidak hanya dalam publikasi ilmiah, tetapi juga dalam mendorong hilirisasi hasil riset agar lebih aplikatif.

Sementara itu, Dr. drh. Nur Lailatul Fitrotun Nikmah, yang memiliki latar belakang kedokteran hewan, dikenal aktif dalam bidang kesehatan ikan dan penyakit akuatik. Penelitiannya mencakup identifikasi patogen, termasuk studi molekuler penyakit ikan yang berdampak pada sektor budidaya perikanan. Kiprahnya turut berkontribusi dalam meningkatkan ketahanan sektor akuakultur melalui pendekatan ilmiah berbasis kesehatan ikan.

Pencapaian jabatan fungsional Lektor ini menjadi tonggak penting dalam perjalanan karier akademik keduanya. Selain menunjukkan kualitas dan produktivitas sebagai dosen, capaian ini juga memperkuat posisi Departemen Perikanan UGM sebagai pusat pengembangan ilmu yang unggul dan inovatif.

Lebih jauh, kontribusi keilmuan yang dikembangkan oleh kedua dosen ini juga selaras dengan tujuan pembangunan berkelanjutan, khususnya SDG 2 (Zero Hunger) melalui penguatan ketahanan pangan berbasis perikanan, SDG 3 (Good Health and Well-being) melalui riset kesehatan ikan dan keamanan pangan, SDG 4 Pendidikan Berkualitas, serta SDG 14 (Life Below Water) dalam mendukung pengelolaan sumber daya laut yang berkelanjutan. Dengan demikian, capaian ini tidak hanya berdampak pada institusi, tetapi juga pada kontribusi nyata bagi pembangunan global.

Perikanan UGM Jajaki Kolaborasi Strategis dengan PT Agrinas Jaladri Nusantara (Persero) untuk Penguatan Sektor Perikanan dan Kelautan

Berita Jumat, 24 April 2026

Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada terus memperluas jejaring kolaborasi dengan dunia industri melalui penjajakan kerja sama bersama PT Agrinas Jaladri Nusantara (Persero). Pertemuan ini dilaksanakan pada Jumat, 24 April 2026 sebagai langkah awal dalam membangun sinergi antara akademisi dan pelaku industri perikanan.

Kegiatan tersebut dihadiri langsung oleh Ketua Departemen Perikanan UGM, Prof. Alim Isnansetyo, serta diikuti oleh jajaran pengurus Departemen Perikanan dan para ketua program studi di lingkungan departemen. Kehadiran unsur pimpinan ini menunjukkan keseriusan institusi dalam mendorong kerja sama strategis yang berdampak luas bagi pengembangan pendidikan, riset, dan inovasi.

Dalam diskusi, kedua pihak membahas berbagai potensi kolaborasi, mulai dari penguatan riset terapan, pengembangan inovasi produk perikanan, hingga peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Sinergi ini diharapkan mampu menjawab tantangan sektor perikanan yang semakin kompleks di era modern.

Perwakilan dari PT Agrinas Jaladri Nusantara (Persero) menyampaikan komitmennya untuk bekerja sama dengan perguruan tinggi dalam menghadirkan solusi berbasis teknologi dan inovasi. Dukungan akademik dinilai penting untuk meningkatkan daya saing industri sekaligus menjaga keberlanjutan sumber daya perikanan.

Pertemuan ini juga membuka peluang bagi mahasiswa untuk terlibat langsung dalam kegiatan industri melalui program magang, penelitian kolaboratif, serta pengembangan kewirausahaan berbasis perikanan. Hal ini menjadi nilai tambah dalam mempersiapkan lulusan yang siap menghadapi dunia kerja.

Kolaborasi ini diharapkan dapat menjadi jembatan antara dunia pendidikan dan industri, sehingga inovasi yang dihasilkan tidak hanya kuat secara akademik, tetapi juga aplikatif dan berdampak nyata bagi masyarakat.

Melalui inisiatif ini, Departemen Perikanan UGM kembali menegaskan perannya sebagai institusi yang adaptif dan kolaboratif, sekaligus berkontribusi pada pencapaian SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, SDG 4 Pendidikan Berkualitas, SDG 14 (Ekosistem Laut) dan SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) dalam mendukung pembangunan sektor perikanan yang berkelanjutan.

Mahasiswa Pascasarjana Perikanan UGM Bersinar di Wisuda, Torehkan Prestasi Akademik Membanggakan

Berita Jumat, 24 April 2026

Yogyakarta — Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada turut berbangga dalam pelaksanaan wisuda pascasarjana periode III Tahun Akademik 2025/2026. Sejumlah mahasiswa dari bidang perikanan tidak hanya berhasil menyelesaikan studi, tetapi juga mencatatkan prestasi akademik yang menonjol.

Salah satu capaian membanggakan diraih oleh Rafi Sukma Aulia yang dinobatkan sebagai lulusan termuda dari Program Magister Ilmu Perikanan. Ia berhasil menyelesaikan studi dengan IPK 3,92 pada usia 22 tahun 4 bulan 24 hari—sebuah pencapaian yang mencerminkan dedikasi dan konsistensi akademik sejak dini.

Prestasi lainnya datang dari Anggi Putri Pertiwi yang menjadi lulusan tercepat Program Magister Ilmu Perikanan. Dengan IPK 3,96, ia mampu menyelesaikan studinya hanya dalam waktu 1 tahun 5 bulan 3 hari, menunjukkan efisiensi dan fokus tinggi dalam menyelesaikan pendidikan pascasarjana.

Selain itu, kontribusi dari bidang perikanan juga ditunjukkan oleh Rani Yuwanita yang menyelesaikan Program Studi Doktor Ilmu Pertanian dalam waktu 3 tahun 6 bulan 12 hari. Capaian ini menjadi bukti bahwa bidang perikanan memiliki peran penting dalam pengembangan ilmu lintas disiplin, khususnya dalam konteks pertanian dan sumber daya hayati.

Prestasi para lulusan ini mencerminkan kualitas pendidikan dan pembinaan akademik di Departemen Perikanan UGM yang terus berkomitmen menghasilkan lulusan unggul dan berdaya saing global. Tidak hanya kuat secara akademik, para lulusan juga dibekali kemampuan riset dan pemahaman terhadap isu-isu strategis di sektor perikanan.

Momentum wisuda ini menjadi awal dari kontribusi nyata para lulusan dalam pembangunan sektor perikanan berkelanjutan, baik di tingkat nasional maupun global. Dengan bekal ilmu dan pengalaman, mereka diharapkan mampu menjadi agen perubahan dalam menghadapi tantangan seperti ketahanan pangan, perubahan iklim, dan pengelolaan sumber daya perairan.

Sejalan dengan itu, capaian ini juga mendukung agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 4 (Quality Education) dan SDG 14 (Life Below Water). Lulusan perikanan UGM diharapkan menjadi motor penggerak dalam mewujudkan pengelolaan sumber daya laut yang berkelanjutan berbasis ilmu pengetahuan dan inovasi.

Dokumentasi: Unit Media Faperta UGM

Pelabuhan Perikanan Indonesia Siap, tapi Belum Optimal? Studi UGM Ungkap Tantangan Implementasi Kebijakan Penangkapan Ikan Terukur

Berita Kamis, 23 April 2026

Sebuah studi terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Maritime Technology and Research mengungkap fakta menarik tentang kesiapan pelabuhan perikanan Indonesia dalam mendukung implementasi Kebijakan Penangkapan Ikan Terukur. Penelitian ini dilakukan oleh Basoeki, Seruni Salsabila Putri, (alumni Departemen Perikanan UGM) serta dua akademisi dari Universitas Gadjah Mada, yaitu Prof. Suadi dan Prof. Djumanto.

Penelitian ini berfokus pada dua pelabuhan perikanan utama di Indonesia, yaitu Pelabuhan Perikanan Samudera Nizam Zachman dan Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap. Kedua pelabuhan ini dinilai memiliki peran strategis dalam mendukung transformasi sistem pengelolaan perikanan dari berbasis input menjadi berbasis kuota (output control).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari sisi infrastruktur fisik, kedua pelabuhan sebenarnya sudah sangat memadai. Tingkat ketersediaan fasilitas mencapai 93% di Nizam Zachman dan 86% di Cilacap, yang masuk kategori “sangat memadai”. Namun, temuan menarik muncul ketika aspek kualitas layanan dianalisis.

Melalui pendekatan Customer Satisfaction Index (CSI), tingkat kepuasan pengguna hanya berada pada kisaran 69,8% hingga 70,4%, yang berarti masih dalam kategori “cukup puas”. Artinya, terdapat kesenjangan antara kesiapan fasilitas fisik dan efektivitas layanan yang dirasakan oleh para pelaku perikanan.

Lebih lanjut, analisis Importance-Performance Analysis (IPA) mengidentifikasi sejumlah titik krusial yang perlu segera diperbaiki, seperti kecepatan pengurusan dokumen, kapasitas pelabuhan, serta fasilitas tambat kapal (mooring infrastructure). Faktor-faktor ini dinilai menjadi hambatan utama dalam implementasi kebijakan penangkapan ikan terukur.

Penelitian ini menegaskan bahwa keberhasilan kebijakan tidak hanya bergantung pada pembangunan fisik, tetapi juga pada efisiensi operasional dan kualitas layanan di lapangan. Tanpa perbaikan pada aspek tersebut, implementasi kebijakan berpotensi tidak berjalan optimal.

Temuan ini menjadi penting dalam mendorong reformasi tata kelola pelabuhan perikanan di Indonesia. Selain itu, studi ini juga berkontribusi pada SDG 4 Pendidikan berkualitas, SDG 14 (Ekosistem Laut) melalui pengelolaan perikanan berkelanjutan serta SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) dengan peningkatan kualitas infrastruktur dan layanan sektor perikanan nasional.

 

Dari Rumput Laut ke Produk Masa Depan: Mata Kuliah Ini Ubah Cara Pandang Mahasiswa Perikanan UGM

Berita Kamis, 23 April 2026

Siapa sangka, “rumput laut” yang sering dianggap bahan sederhana ternyata menjadi kunci industri masa depan? Di Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada, hal ini dikupas secara mendalam melalui mata kuliah Teknologi Industri Tumbuhan Laut. Mata kuliah ini yang tidak hanya mengajarkan pengolahan, tetapi juga membuka wawasan tentang potensi besar sumber daya laut.

Mata kuliah ini mengajak mahasiswa melihat tumbuhan laut dari perspektif yang berbeda: bukan sekadar komoditas, melainkan bahan baku inovasi global. Mahasiswa diajak memahami bagaimana rumput laut dapat diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah, mulai dari pangan, bahan kesehatan (nutraceutical), hingga potensi energi terbarukan.

Yang membuat mata kuliah ini unik adalah pendekatan pembelajarannya. Tidak hanya teori, mahasiswa aktif terlibat dalam diskusi kasus, proyek kelompok, hingga adu argumentasi ilmiah. Metode Student-Centered Learning berbasis proyek membuat mahasiswa benar-benar “berpikir seperti industri”, bukan sekadar menghafal konsep.

Dalam perkuliahan, mahasiswa juga mempelajari komposisi kimia rumput laut, seperti protein, peptida, asam amino, dan karbohidrat yang menjadi dasar pengembangan produk. Mereka kemudian diajak masuk ke tahap lebih lanjut: ekstraksi biomolekul dan analisis senyawa bioaktif yang berpotensi untuk industri pangan dan kesehatan.

Menariknya lagi, mata kuliah ini mengaitkan rumput laut dengan isu global seperti ketahanan pangan dan keberlanjutan. Rumput laut diposisikan sebagai solusi masa depan karena sifatnya yang ramah lingkungan dan memiliki nilai ekonomi tinggi.

Dengan pengampu seperti Prof. Amir Husni dan Dr. R.A. Siti Ari Budhiyanti, mahasiswa mendapatkan pengalaman belajar yang kuat secara akademik sekaligus relevan dengan kebutuhan industri.

Bagi calon mahasiswa, mata kuliah ini menunjukkan bahwa kuliah perikanan bukan hanya tentang ikan—tetapi juga tentang inovasi, industri, dan solusi global berbasis laut. Jika kamu ingin belajar hal yang aplikatif, berdampak, dan punya peluang karier luas, kelas ini bisa jadi salah satu alasan kuat memilih Perikanan UGM. 

Lebih jauh, pembelajaran dalam mata kuliah ini juga selaras dengan tujuan pembangunan berkelanjutan, khususnya SDG 2 (Zero Hunger) melalui pengembangan sumber pangan alternatif bergizi, SDG 4 Pendidikan Berkualitas, SDG 12 (Responsible Consumption and Production) melalui pemanfaatan sumber daya laut secara efisien dan bernilai tambah, serta SDG 14 (Life Below Water) dalam mendorong pengelolaan ekosistem laut yang berkelanjutan. Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya belajar untuk industri, tetapi juga berkontribusi pada solusi global bagi masa depan bumi.

Prodi Manajemen Sumberdaya Akuatik UGM Bahas Kurikulum Baru yang Lebih Fleksibel dan Adaptif

Berita Kamis, 23 April 2026

Yogyakarta – Program Studi Manajemen Sumberdaya Akuatik, Departemen Perikanan Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada menggelar rapat penyesuaian kurikulum yang dipimpin oleh Ketua Prodi MSA, Dr. Ratih Ida Adharini, S.Pi., M.Si. Rapat terkait kurikulum ini merupakan tindak lanjut Peraturan Rektor Nomor 19 Tahun 2025. Kegiatan ini menjadi langkah penting untuk memastikan proses pembelajaran tetap relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, kebutuhan dunia kerja, serta tantangan lingkungan masa depan.

Dalam suasana diskusi yang hangat dan kolaboratif, para dosen membahas penyusunan kurikulum yang lebih fleksibel dan memberi ruang bagi mahasiswa untuk memperluas kompetensi lintas bidang. Kurikulum yang diperbarui dirancang agar mahasiswa tidak hanya kuat secara akademik, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir kritis, kolaboratif, dan siap menghadapi persoalan nyata di sektor perairan dan lingkungan.

Penyesuaian kurikulum ini juga membuka peluang pembelajaran yang lebih beragam, mulai dari penguatan mata kuliah inti, pilihan lintas disiplin, hingga kesempatan belajar di luar program studi. Langkah ini diharapkan mampu menghadirkan pengalaman belajar yang lebih dinamis dan relevan bagi mahasiswa.

Upaya pembaruan kurikulum ini sejalan dengan komitmen mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya  SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) dan SDG 14 (Ekosistem Laut). Melalui kurikulum yang adaptif dan berorientasi keberlanjutan, Prodi Manajemen Sumberdaya Akuatik UGM berharap dapat menyiapkan lulusan yang mampu berkontribusi dalam pengelolaan sumber daya perairan yang bertanggung jawab dan berkelanjutan.

Refleksi Perikanan UGM di Hari Bumi 2026: Saatnya Kembali Mendengar Laut

Berita Rabu, 22 April 2026

Yogyakarta, 22 April 2026 — Momentum Hari Bumi tahun ini menjadi lebih dari sekadar peringatan tahunan di lingkungan Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada. Di tengah meningkatnya krisis lingkungan global, kalangan akademisi perikanan UGM memanfaatkan momen ini untuk merefleksikan kembali arah pembangunan sektor perikanan—yang dinilai semakin menjauh dari akar persoalan sebenarnya.

Isu perikanan hari ini tidak lagi sesederhana soal produksi dan peningkatan hasil tangkapan. Kerusakan ekosistem laut, praktik penangkapan berlebih, hingga pencemaran menjadi tantangan nyata yang berdampak langsung pada keberlanjutan sumber daya dan kehidupan masyarakat pesisir.

Di sisi lain, perubahan iklim memperparah situasi. Pola musim yang tidak menentu dan kondisi laut yang semakin sulit diprediksi membuat nelayan berada dalam posisi rentan. Namun, dalam banyak kasus, suara mereka justru belum sepenuhnya terakomodasi dalam kebijakan.

Dr.rer.nat. Riza Yuliratno Setiawan, S.Kel., M.Sc. menilai bahwa pendekatan perikanan modern perlu dikaji ulang. Menurutnya, selama ini fokus yang terlalu besar pada aspek teknis dan produksi membuat dimensi sosial cenderung terpinggirkan.

“Perikanan bukan hanya soal sumber daya, tetapi juga tentang manusia dan relasi sosial di dalamnya. Ketika aspek ini diabaikan, maka solusi yang dihasilkan seringkali tidak menyentuh akar masalah,” ujarnya.

Refleksi ini mengarah pada satu kesadaran penting: keberlanjutan perikanan tidak bisa dicapai tanpa keseimbangan antara ekologi dan sosial. Pendekatan berbasis ekosistem perlu berjalan seiring dengan penguatan partisipasi masyarakat, khususnya nelayan sebagai aktor utama di lapangan.

Di lingkungan kampus, gagasan ini mulai diterjemahkan ke dalam berbagai aktivitas. Mahasiswa didorong untuk lebih dekat dengan realitas pesisir, tidak hanya melalui penelitian, tetapi juga melalui pengabdian masyarakat dan kolaborasi lintas sektor. Harapannya, ilmu yang dihasilkan tidak berhenti pada publikasi, tetapi mampu memberi dampak nyata.

Sejalan dengan itu, refleksi ini juga berkaitan erat dengan agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 4 Pendidikan Berkualitas, SDG 8 Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, serta SDG 14 tentang kehidupan bawah laut (Life Below Water). Pengelolaan perikanan yang berkelanjutan menjadi bagian penting dalam upaya menjaga ekosistem laut, sekaligus memastikan kesejahteraan masyarakat pesisir. Dalam konteks ini, kontribusi akademisi, pemerintah, dan masyarakat menjadi kunci untuk mencapai target pembangunan berkelanjutan secara menyeluruh.

Pada akhirnya, Hari Bumi 2026 menjadi pengingat bahwa laut bukan sekadar ruang eksploitasi, melainkan sistem kehidupan yang harus dijaga bersama. Dari ruang-ruang diskusi di kampus hingga kehidupan sehari-hari nelayan di pesisir, refleksi ini menegaskan satu hal: masa depan perikanan bergantung pada kemampuan semua pihak untuk kembali mendengar—dan merawat—laut dengan lebih bijak.

Mahasiswa Perikanan UGM Pelajari Statistika sebagai Fondasi Riset dan Permodelan Perikanan

Berita Rabu, 22 April 2026

Yogyakarta – Mahasiswa Departemen Perikanan Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada tidak hanya mempelajari ilmu perikanan secara biologis dan teknis, tetapi juga dibekali kemampuan analisis data melalui mata kuliah statistika. Pembelajaran ini menjadi fondasi penting dalam memahami metodologi penelitian serta pengembangan permodelan di bidang perikanan dan kelautan.

Mata kuliah statistika diberikan sebagai dasar pemahaman metode ilmiah dan penelitian kuantitatif yang relevan dengan bidang  perikanan. Mahasiswa mempelajari statistika deskriptif untuk menggambarkan karakteristik data, serta statistika inferensial yang digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan dan pengujian hipotesis secara kuantitatif.

Dalam proses pembelajaran, mahasiswa juga dikenalkan pada konsep probabilitas, teori pencuplikan (sampling), distribusi peluang, hingga analisis hubungan antarvariabel seperti regresi dan korelasi. Kemampuan ini sangat penting dalam menganalisis data hasil penelitian, merancang percobaan, serta menyusun laporan ilmiah yang objektif dan berbasis bukti.

Pendekatan pembelajaran dilakukan secara partisipatif dan berbasis kasus, di mana mahasiswa mengerjakan tugas individu maupun kelompok yang berkaitan dengan permasalahan nyata di sektor  perikanan. Penggunaan perangkat lunak statistik juga diperkenalkan untuk mendukung kemampuan analisis data secara modern dan aplikatif.

Melalui pembelajaran statistika, mahasiswa diharapkan mampu berpikir logis, kritis, dan sistematis dalam memecahkan masalah perikanan, mulai dari analisis produksi, pengelolaan sumber daya, hingga permodelan sistem perikanan berkelanjutan. Bekal ini menjadi kunci penting dalam menghasilkan lulusan yang siap melakukan riset, inovasi, dan pengambilan keputusan berbasis data di masa depan. Pembelajaran statistika ini juga berkontribusi pada pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur), serta tujuan SDG 14 (Ekosistem Laut). Kemampuan analisis data dan permodelan yang dimiliki mahasiswa diharapkan mampu mendukung pengambilan keputusan berbasis sains dalam pengelolaan sumber daya perikanan yang berkelanjutan serta mendorong inovasi di sektor kelautan dan perikanan.

1…7891011…18
Universitas Gadjah Mada

Departemen Perikanan Fakultas Pertanian

Universitas Gadjah Mada
Gedung A4, Jl. Flora, Bulaksumur,Yogyakarta, 55281
 +62274-551218
 fish@ugm.ac.id

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY