• Tentang UGM
  • Faperta
  • IT Center
  • Perpustakaan
  • LPPM
  • Bahasa Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
Fakultas Pertanian
Departemen Perikanan
  • Profil
    • Tentang Kami
    • Struktur Organisasi
    • Staff Dosen
    • Staff Kependidikan
    • KERJA SAMA
  • Akademik
    • Program Studi Akuakultur
    • Program Studi Manajemen Sumberdaya Akuatik
    • Program Studi Teknologi Hasil Perikanan
    • Program Studi Magister Ilmu Perikanan
    • Program Studi Doktor Ilmu Perikanan dan Kelautan Tropis
  • Berita
  • Fasilitas
    • Laboratorium
    • Inkubator Mina Bisnis
    • delifiZ
  • Penjaminan Mutu
  • TUK
  • Organisasi
    • KMIP
    • Selam Perikanan
    • Bahari Pers
  • Download
    • Prosedur Persuratan
    • Prosedur Akademik Sarjana
    • Prosedur Akademik Pascasarjana
  • Beranda
  • SDG 14: Ekosistem Lautan
  • SDG 14: Ekosistem Lautan
  • hal. 9
Arsip:

SDG 14: Ekosistem Lautan

Dosen Perikanan UGM Publikasikan Riset Genetika Populasi Kerang Darah untuk Strategi Konservasi Sumber Daya Perikanan

Berita Jumat, 6 Maret 2026

Kabar membanggakan datang dari Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada. Dosen perikanan Eko Hardianto, Ph.D berhasil mempublikasikan artikel ilmiah berjudul Population Genetics of the Blood Cockle, Tegillarca granosa (Linnaeus, 1758): A Study of Spatial Genetic Structure Across the Indonesian Archipelago (DOI: 10.1111/maec.70017). Publikasi ini disusun bersama dosen UGM lainnya yaitu, Prof. Eko Setyobudi, Dr. Ratih Ida Adharini, dan Dr. Susanti Mugi Lestari. Publikasi ini menjadi kontribusi penting bagi pengelolaan sumber daya kerang darah di Indonesia.

Kerang darah (Tegillarca granosa) merupakan komoditas kerang yang memiliki nilai ekonomi tinggi sekaligus berperan penting dalam ekosistem pesisir Asia. Melalui penelitian ini, tim peneliti menelusuri keragaman genetik, sejarah biogeografi, serta struktur populasi spesies tersebut di wilayah kepulauan Indonesia.

Penelitian dilakukan pada lima lokasi berbeda di Indonesia dengan menganalisis variasi sekuens DNA mitokondria dari 200 individu. Hasilnya menunjukkan tingkat keragaman genetik yang tinggi, yang mengindikasikan potensi adaptasi dan ketahanan spesies terhadap perubahan lingkungan. Namun demikian, analisis varians molekuler mengungkap adanya perbedaan genetik yang signifikan antar populasi di berbagai lokasi.

Temuan ini menunjukkan bahwa penyebaran dan aliran gen antar populasi kerang darah relatif terbatas. Kondisi tersebut diduga mendorong terjadinya adaptasi lokal yang dipengaruhi oleh faktor biologis, oseanografi, dan kondisi geografis masing-masing wilayah.

Hasil penelitian ini memberikan dasar ilmiah penting bagi perumusan strategi konservasi dan pengelolaan sumber daya kerang darah secara berkelanjutan. Informasi mengenai struktur genetik populasi dinilai krusial untuk mendukung kebijakan pengelolaan perikanan berbasis ekosistem serta menjaga keberlanjutan komoditas perikanan pesisir di masa depan.

Publikasi ini sekaligus menegaskan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam menghasilkan riset berkualitas yang berdampak nyata bagi pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan Indonesia.

Publikasi ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, prestasi ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG  4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, SDG 8 Pekerjaan layan dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan), dan SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Podcast Perikanan UGM Bahas Dampak Perubahan Iklim terhadap Laut Global

Berita Jumat, 6 Maret 2026

Yogyakarta, 6 Maret 2026 — Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada kembali menghadirkan diskusi ilmiah melalui podcast bertajuk “The Impact of Climate Change on Our Oceans”. Episode ini menghadirkan Prof. Qinhua Fang sebagai narasumber, dengan Dr. Faizal Rachman sebagai host.

 

Dalam perbincangan tersebut, Prof. Fang mengulas bagaimana perubahan iklim telah membawa dampak signifikan terhadap ekosistem laut global. Kenaikan suhu laut, pengasaman samudra, serta perubahan pola arus menjadi faktor utama yang memengaruhi kehidupan biota laut dan keseimbangan ekosistem.

Ia menekankan bahwa laut berperan sebagai penyerap utama karbon dioksida di bumi. Namun, peningkatan emisi gas rumah kaca dalam beberapa dekade terakhir membuat kemampuan laut dalam menjaga keseimbangan iklim semakin tertekan. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh ekosistem, tetapi juga oleh manusia yang bergantung pada sumber daya laut, seperti nelayan dan industri perikanan.

Diskusi juga menyoroti ancaman terhadap keanekaragaman hayati laut, termasuk kerusakan terumbu karang dan perubahan distribusi spesies ikan akibat suhu yang semakin meningkat. Kondisi ini berpotensi mengganggu rantai pasok pangan global, khususnya sektor perikanan yang menjadi sumber protein utama bagi jutaan orang.

Sementara itu, Dr. Faizal Rachman menambahkan bahwa tantangan perubahan iklim menuntut pendekatan lintas disiplin, mulai dari sains, kebijakan, hingga peran masyarakat. Adaptasi dan mitigasi menjadi kunci untuk menjaga keberlanjutan sumber daya laut di masa depan.

Podcast ini juga menyoroti pentingnya kolaborasi global dalam menghadapi krisis iklim. Upaya konservasi, pengelolaan perikanan berkelanjutan, serta pengurangan emisi menjadi langkah strategis yang perlu dilakukan secara bersama-sama.

Melalui diskusi ini, Departemen Perikanan UGM kembali menegaskan perannya sebagai ruang dialog ilmiah yang menghubungkan isu global dengan perspektif akademik dan praktis. Podcast ini tidak hanya memberikan wawasan, tetapi juga mendorong kesadaran akan pentingnya menjaga laut sebagai sistem kehidupan yang vital.

Sejalan dengan itu, isu yang diangkat dalam podcast ini juga berkaitan erat dengan agenda Sustainable Development Goals, khususnya SDG 13 (Climate Action), SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, SDG 4 Pendidikan Berkualitas, dan SDG 14 (Life Below Water). Pemahaman terhadap dampak perubahan iklim di laut menjadi langkah awal dalam merumuskan kebijakan dan aksi nyata untuk menjaga keberlanjutan ekosistem laut dan kehidupan manusia yang bergantung padanya.

link youtube:

The Impact of Climate Change on Our Oceans

Faperta UGM dan Woogene B&G Korea Jalin Kerja Sama Vaksin Marikultur

Berita Selasa, 3 Maret 2026

Fakultas Pertanian UGM resmi menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan perusahaan bioteknologi asal Korea Selatan, Woogene B&G, pada Kamis (26/2/2026). Penandatanganan ini menjadi tonggak penting dalam penguatan kolaborasi internasional di bidang bioteknologi perikanan dan kesehatan ikan, khususnya untuk mendukung pengembangan industri marikultur nasional yang berdaya saing global. Kerja sama tersebut merupakan tindak lanjut dari kunjungan delegasi Woogene B&G ke kampus Universitas Gadjah Mada pada Desember 2025 lalu. Dalam pertemuan itu, kedua belah pihak membahas potensi transfer teknologi dan riset bersama terkait pengendalian penyakit pada komoditas budidaya laut bernilai ekonomi tinggi. Penyakit viral, terutama yang disebabkan oleh Iridovirus, selama ini menjadi salah satu faktor pembatas produktivitas kerapu dan kakap putih di berbagai sentra budidaya Indonesia. Kolaborasi ini akan dikawal secara teknis oleh tim peneliti Departemen Perikanan di bawah pimpinan Prof. Dr. Ir. Alim Isnansetyo, M.Sc., yang memiliki rekam jejak panjang dalam riset kesehatan ikan dan pengembangan vaksin. Sinergi antara pimpinan fakultas, peneliti, serta mitra industri diharapkan mampu menjembatani kebutuhan akademik dan implementasi teknologi di lapangan. Pendekatan ini dinilai strategis untuk memastikan hasil riset tidak berhenti pada publikasi ilmiah, melainkan benar-benar diadopsi oleh pelaku usaha budidaya.

Selama lima tahun ke depan, fokus utama kerja sama adalah pengembangan dan uji aplikasi vaksin Iridovirus untuk kerapu dan kakap putih. Tahapan kegiatan meliputi penelitian dasar, formulasi vaksin, uji efikasi di laboratorium, hingga uji lapang di unit-unit budidaya laut. Selain itu, program ini juga mencakup pelatihan teknis bagi dosen, mahasiswa, serta praktisi perikanan guna memperkuat kapasitas sumber daya manusia dalam bidang bioteknologi akuakultur.

Inovasi vaksin ini diharapkan mampu menekan angka kematian ikan akibat infeksi virus, meningkatkan tingkat kelangsungan hidup (survival rate), serta memperbaiki performa produksi. Dampak jangka panjangnya adalah peningkatan efisiensi usaha, stabilitas pasokan ikan konsumsi, dan penguatan ketahanan pangan nasional. Dengan dukungan teknologi mutakhir dari Woogene B&G dan basis riset kuat dari Fakultas Pertanian UGM, kerja sama ini diharapkan menjadi model kemitraan strategis antara perguruan tinggi dan industri global dalam mendorong transformasi sektor perikanan Indonesia menuju praktik yang lebih modern, sehat, dan berkelanjutan. Kegiatan ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, kegiatan ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan), serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) dengan memperkuat jejaring dan kolaborasi akademik.

Rahasia Budidaya Udang Berkelanjutan Dibongkar di SINNTECH Webinar #34 UGM

Berita Kamis, 26 Februari 2026

Departemen perikanan Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali menghadirkan diskusi ilmiah internasional melalui SINNTECH Webinar #34 yang membahas masa depan industri akuakultur, khususnya budidaya udang yang berkelanjutan. Dalam webinar pada 28 Februari 2026 ini, pakar kesehatan organisme akuatik dari Universiti Putra Malaysia, Prof. Dr. Murni Marlina Abd Karim, memaparkan strategi Integrated Health Management (IHM) sebagai pendekatan kunci untuk menjaga kesehatan udang sekaligus meningkatkan produktivitas budidaya.

Industri budidaya udang merupakan salah satu sektor akuakultur paling bernilai di dunia karena memasok sebagian besar konsumsi udang global. Namun, tingginya produktivitas juga diikuti risiko penyakit yang besar, seperti White Spot Syndrome Virus, Acute Hepatopancreatic Necrosis Disease (AHPND), dan berbagai infeksi lainnya yang dapat menyebabkan kerugian ekonomi signifikan bagi pembudidaya.

Dalam pemaparannya, Prof. Murni menekankan bahwa pengelolaan kesehatan udang tidak cukup hanya dengan pengobatan saat penyakit muncul. Sebaliknya, diperlukan pendekatan holistik yang mempertimbangkan interaksi antara lingkungan, patogen, dan kondisi organisme budidaya. Konsep Integrated Health Management menekankan pencegahan melalui biosekuriti yang ketat, pengelolaan kualitas air, nutrisi yang tepat, serta sistem pemantauan kesehatan secara berkala.

Ia juga menjelaskan berbagai inovasi teknologi yang mulai banyak diterapkan dalam budidaya modern, seperti penggunaan probiotik, prebiotik, imunostimulan, serta teknologi biofloc yang mampu meningkatkan kesehatan udang sekaligus menjaga kualitas lingkungan budidaya. Pendekatan ini tidak hanya mengurangi ketergantungan pada antibiotik dan bahan kimia, tetapi juga mendukung keberlanjutan industri akuakultur dalam jangka panjang.

Melalui SINNTECH Webinar #34, mahasiswa dan peserta mendapatkan wawasan global mengenai pentingnya inovasi ilmiah dan manajemen kesehatan terpadu dalam menghadapi tantangan budidaya udang modern. Diskusi ini sekaligus membuka peluang kolaborasi riset internasional untuk mendukung ketahanan pangan berbasis sektor perikanan dan kelautan.

Kegiatan ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, kegiatan ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG  4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, SDG 8 Pekerjaan layan dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan), dan SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Inovasi Anak Bangsa: Solusi Biosekuriti Tambak Udang Berbasis Mikroorganisme Laut

Berita Kamis, 26 Februari 2026

Yogyakarta – Inovasi bioteknologi kelautan kembali menjadi sorotan dalam SINTECH Webinar “Integrated Blue Innovation of Shrimp Production UGM” yang digelar pada 26 Februari 2026. Dalam kegiatan ini, startup blue biotech AQUBETA memaparkan terobosan teknologi probiotik alami untuk meningkatkan produktivitas sekaligus biosekuriti budidaya udang di Indonesia.

Industri akuakultur, khususnya budidaya udang vaname, masih menghadapi tantangan besar akibat penyakit mematikan seperti Vibriosis dan AHPND. Penyakit tersebut dapat menurunkan hasil panen hingga 30% bahkan menyebabkan kematian massal dalam semalam. Kondisi ini berdampak pada kerugian miliaran dolar secara global serta menjadi salah satu penyebab utama kegagalan budidaya udang.

Founder & CEO PT. AQUBETA DIPO JAYA, Muhammad Syaifudien Bahry, menjelaskan bahwa perusahaannya menghadirkan pendekatan berbasis mikroorganisme laut sebagai alternatif ramah lingkungan pengganti antibiotik dan bahan kimia berbahaya. Startup ini telah menjangkau lebih dari 5.000 petambak ikan dan udang di lebih dari 30 wilayah Indonesia, dengan area tambak mencapai 150 hektare dan lebih dari 15 kemitraan B2B sejak produk mulai dipasarkan pada 2023.

Teknologi unggulan AQUBETA memanfaatkan fungi laut Trichoderma reesei dan konsorsium bakteri Bacillus untuk menekan populasi bakteri Vibrio, meningkatkan kualitas air, serta memperkuat sistem imun udang. Uji coba pada tambak terdampak AHPND menunjukkan populasi Vibrio dapat ditekan hanya dalam satu minggu, dengan tingkat kelangsungan hidup panen meningkat hingga 60%.

Produk yang dikembangkan meliputi ANTI V-PRO, AQU PROFEED, dan AQU BACILLUS yang diklaim efektif membunuh patogen, meningkatkan biomassa, memperbaiki pencernaan, serta menjaga kesehatan ekosistem tambak. Selain menawarkan produk, AQUBETA juga membuka kolaborasi riset, distribusi, hingga konsultasi teknis bagi mitra B2B dan B2G.

Inovasi ini diharapkan menjadi langkah penting menuju revolusi blue biotechnology di Indonesia, sekaligus memperkuat ketahanan sektor perikanan melalui teknologi berkelanjutan. Kegiatan ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, kegiatan ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG  4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, SDG 8 Pekerjaan layan dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan), dan SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Fisheries Talks UGM Angkat Peran Anak dalam Menjaga Laut Sejak Dini

Berita Senin, 23 Februari 2026

Yogyakarta — Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada kembali menghadirkan episode terbaru Fisheries Talks melalui kanal YouTube Media Perikanan UGM. Pada episode kali ini, diskusi mengangkat tema pentingnya menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan laut sejak usia dini.

Dipandu oleh Annisa Yustisia, podcast ini menghadirkan dua narasumber muda inspiratif, yakni Anak Agung Ayuna Putri Indari dan Komang Adhisthanaya Sarasvati Kalyani Adilananda. Keduanya berbagi pengalaman sekaligus pandangan tentang pentingnya mengenalkan isu kelautan kepada anak-anak sejak dini.

Dalam perbincangan tersebut, Ayuna menekankan bahwa generasi muda memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan laut. Edukasi sejak usia anak-anak dinilai mampu membentuk kebiasaan positif, seperti tidak membuang sampah sembarangan dan lebih peduli terhadap lingkungan sekitar.

Sementara itu, Komang menyoroti pentingnya pendekatan edukasi yang menyenangkan dan mudah dipahami anak-anak. Menurutnya, kegiatan seperti kampanye lingkungan, permainan edukatif, hingga keterlibatan langsung di alam dapat membantu menumbuhkan rasa cinta terhadap laut.

Diskusi ini juga menggarisbawahi bahwa isu lingkungan laut tidak hanya menjadi tanggung jawab orang dewasa atau pemerintah, tetapi juga dapat dimulai dari langkah kecil oleh anak-anak. Perubahan perilaku sederhana, jika dilakukan secara kolektif, dapat memberikan dampak besar bagi keberlanjutan ekosistem laut.

Melalui episode ini, Fisheries Talks tidak hanya menjadi ruang berbagi cerita inspiratif, tetapi juga sarana edukasi yang mendorong kesadaran publik akan pentingnya menjaga laut sejak dini. Kehadiran narasumber muda menjadi bukti bahwa generasi penerus memiliki potensi besar untuk menjadi agen perubahan di masa depan.

Sejalan dengan itu, tema yang diangkat juga mendukung agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 14 (Life Below Water), SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, dan SDG 4 (Quality Education). Edukasi lingkungan sejak dini menjadi kunci dalam membentuk generasi yang sadar akan pentingnya menjaga ekosistem laut secara berkelanjutan.

 

link youtube:

Belajar Peduli Laut Sejak Usia Dini Bersama Duta Kids dari Forum Maritim Bali

Mengintip Kehidupan Bulu Babi: Studi UGM Perkuat Konservasi Pesisir Yogyakarta

Berita Jumat, 20 Februari 2026

Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada kembali menghasilkan publikasi ilmiah kolaboratif antara mahasiswa dan dosen mengenai keanekaragaman bulu babi di pesisir selatan Yogyakarta. Penelitian berjudul Investigating the Diversity of Sea Urchins (Echinoidea) in Yogyakarta, Indonesia Using Molecular Approaches, Abundance, and Ecological Index dilakukan oleh Putri Ayu Hia bersama Dr. Ratih Ida Adharini, Prof. Eko Setyobudi, dan Dr. Eko Hardianto.

Bulu babi merupakan invertebrata laut yang berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem intertidal serta berfungsi sebagai bioindikator kesehatan lingkungan pesisir. Penelitian ini berfokus pada kawasan Pantai Ngrumput, Yogyakarta, untuk mengkaji keanekaragaman, kelimpahan, serta identifikasi spesies bulu babi melalui pendekatan ekologi dan molekuler berbasis DNA barcoding.

Pengambilan sampel dilakukan pada November–Desember 2023 menggunakan metode transek kuadrat 1×1 meter. Analisis molekuler menargetkan gen mtDNA COI untuk memastikan identifikasi spesies secara akurat. Hasil penelitian mengidentifikasi empat spesies utama bulu babi, yaitu Echinometra oblonga, Echinometra mathaei, Heterocentrotus trigonarius, dan Stomopneustes variolaris.

Secara ekologis, kelimpahan bulu babi tercatat mencapai 74,14 individu per meter persegi. Indeks keanekaragaman berada pada kategori sedang (1,07), indeks keseragaman tinggi (0,83), serta indeks dominansi rendah (0,23). Temuan ini menunjukkan komunitas bulu babi di lokasi penelitian relatif stabil dan seimbang.

Analisis pola sebaran menunjukkan beberapa spesies memiliki distribusi mengelompok, sementara lainnya menunjukkan kombinasi pola seragam dan mengelompok. Kelimpahan tertinggi ditemukan pada jarak 30 meter dari garis pantai, menandakan zona tersebut menjadi habitat optimal bagi bulu babi.

Pendekatan DNA barcoding menghasilkan sekuens sepanjang 630 bp dan analisis filogenetik yang menguatkan identifikasi morfologi. Penelitian ini memberikan dasar ilmiah penting bagi pengelolaan ekosistem pesisir dan konservasi sumber daya laut di Yogyakarta. Publikasi ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, prestasi ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG  4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan), dan SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Riset Perikanan UGM Ungkap Waktu Terbaik Pemantauan Kualitas Air Sistem Budidaya Nila Merah

Berita Rabu, 18 Februari 2026

Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada kembali mencatatkan publikasi ilmiah internasional melalui penelitian berjudul The Diurnal Trend of Water Quality in the Semi-Outdoor Recirculating Aquaculture System for the Red Tilapia (Oreochromis sp.) Production yang dimuat dalam Egyptian Journal of Aquatic Biology and Fisheries. Penelitian ini dipimpin oleh Dr. Ega Adhi Wicaksono bersama tim peneliti.

Seiring pertumbuhan populasi global, kebutuhan protein terus meningkat sehingga akuakultur menjadi solusi penting untuk ketahanan pangan. Namun, sistem budidaya konvensional membutuhkan air dalam jumlah besar, sementara ketersediaan air di banyak wilayah semakin terbatas. Sistem Recirculating Aquaculture System (RAS) hadir sebagai alternatif hemat air, tetapi standar operasional pemantauan kualitas air di sistem ini masih terbatas.

Penelitian ini bertujuan mengkaji pola harian (diurnal) kualitas air pada sistem RAS semi-outdoor untuk budidaya nila merah. Pengukuran dilakukan setiap tiga jam selama 24 jam untuk memantau berbagai parameter penting seperti total ammonia nitrogen (TAN), amonia tak terionisasi (NH3), oksigen terlarut, defisit oksigen, pH, dan suhu.

Hasil penelitian menunjukkan adanya pola perubahan kualitas air yang jelas sepanjang hari. Nilai TAN, oksigen terlarut, dan pH cenderung lebih tinggi pada pagi hari (06.00–09.00), sedangkan suhu dan defisit oksigen meningkat pada sore hingga malam hari (18.00–21.00).

Berdasarkan temuan tersebut, waktu terbaik untuk melakukan pemantauan kualitas air pada RAS semi-outdoor diperkirakan pada pukul 09.00 dan 18.00. Rekomendasi ini menjadi langkah penting dalam penyusunan standar operasional pemantauan kualitas air untuk meningkatkan efisiensi dan keberlanjutan produksi akuakultur. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi rujukan bagi pengembangan teknologi budidaya ikan yang lebih hemat air, produktif, dan berkelanjutan di masa depan.

Penelitian ini sekaligus menegaskan kontribusi riset Departemen Perikanan UGM dalam penguatan pengelolaan sumber daya laut berbasis sains di Indonesia. Publikasi ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, prestasi ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG  4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, SDG 8 Pekerjaan layan dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan), dan SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Gaet Perkumpulan Penggiat Maritim Bali, Departemen Perikanan UGM Berupaya Membangun Kapasitas Pemuda Maritim

Berita Jumat, 13 Februari 2026

Departemen perikanan melalui Fakultas Pertanian menjalin kerjasama dengan Perkumpulan Penggiat Maritim Bali. Perjanjian ini bermaksud untuk menyelaraskan program kegiatan bersama dalam upaya meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan kompetensi dosen dan mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada dalam kegiatan yang meliputi pembelajaran praktik kerja lapangan, penelitian, studi independen, kewirausahaan, dan/atau membina desa.

Kegiatan yang dihadiri oleh Dekan Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (Jaka Widada) dan Ketua Perkumpulan Penggiat Maritim Bali (Adil Darme Yase), menghasilkan beberapa rencana aksi. Salah satu yang menjadi sorotan adalah penyelenggaraan kegiatan bersama yang meliputi pembelajaran, Praktik Kerja Lapangan (PKL), penelitian kolaboratif, studi independen, kewirausahaan berbasis kemaritiman, pengabdian kepada masyarakat, pembinaan desa pesisir, serta implementasi Tridharma Perguruan Tinggi lainnya.

Kerjasama ini juga berupaya untuk pengembangan pendidikan dan pembinaan generasi muda maritim, termasuk pembinaan Anak-anak Duta Maritim Bali dalam peningkatan kapasitas penelitian kemaritiman, kepemimpinan, wawasan kebangsaan maritim, serta literasi kelautan dan perikanan. Kegiatan ini juga mencakup pembinaan siswa sekolah dasar hingga menengah dalam rangka menanamkan kesadaran maritim sejak dini.

Melalui kerjasama yang intensif juga diharapkan tersediannya n sarana dan prasarana untuk mendukung kegiatan pendidikan, penelitian, inovasi, kewirausahaan, dan pengabdian masyarakat di bidang kemaritiman, termasuk laboratorium, fasilitas lapangan, pusat studi, dan lokasi pembelajaran berbasis pesisir. Kegiatan sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, kegiatan ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan), serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) dengan memperkuat jejaring dan kolaborasi akademik.

Mahasiswa Magister Ilmu Perikanan Raih Best Presenter pada 18th International Conference on Computer Research and Development (ICCRD) 2026

Berita Jumat, 13 Februari 2026

Lupi Nugraheni, mahasiswa Program Studi Magister Ilmu Perikanan, Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, meraih best oral presentation award pada 18th International Conference on Computer Research and Development (ICCRD) 2026 yang diselenggarakan pada 23–25 Januari 2026 di Singapura.

ICCRD merupakan konferensi internasional tahunan yang menjadi forum pertukaran hasil riset dan pengembangan di bidang teknologi komputer, khususnya artificial intelligence (AI) dan komputasi. Konferensi ini diikuti oleh peneliti, akademisi, dan mahasiswa dari berbagai negara. ICCRD 2026 membahas pengembangan machine learning, intelligent computing, dan teknologi artificial intelligence (AI), serta berbagai topik terkait, seperti algoritma, sistem komputer, dan rekayasa perangkat lunak.

Dalam konferensi tersebut, Lupi mempresentasikan penelitian berjudul “A Random Forest Model-Based Detection of Threshold Effects in Environmental Drivers of Scad Distribution in the Western Waters of Sumatra”. Penelitian ini mengusung pendekatan multidisipliner yang mengintegrasikan ilmu perikanan, oseanografi, dan machine learning untuk menganalisis pengaruh faktor lingkungan terhadap distribusi ikan layang serta memprediksi zona potensi penangkapan ikan. Penelitian ini merupakan bagian dari tesis yang disusun dengan bimbingan Dr.rer.nat. Riza Yuliratno Setiawan, S.Kel.,M.Sc. dan Prof.Dr.Ir. Djumanto, M.Sc., serta didukung pendanaan dari Beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).

Selain sebagai ajang presentasi ilmiah, ICCRD 2026 juga menjadi sarana penguatan jejaring akademik internasional. Selama kegiatan berlangsung, Lupi berkesempatan bertemu dan berdiskusi tidak hanya dengan mahasiswa dan peneliti dari berbagai negara, tetapi juga dengan sesama mahasiswa Indonesia, termasuk mahasiswa dari Universitas Diponegoro dan Universitas Negeri Yogyakarta. Kegiatan sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, kegiatan ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan), serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) dengan memperkuat jejaring dan kolaborasi akademik.

1…7891011…13
Universitas Gadjah Mada

Departemen Perikanan Fakultas Pertanian

Universitas Gadjah Mada
Gedung A4, Jl. Flora, Bulaksumur,Yogyakarta, 55281
 +62274-551218
 fish@ugm.ac.id

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY