Yogyakarta — Perubahan iklim global ternyata tidak hanya dirasakan melalui peningkatan suhu atau perubahan musim. Di wilayah pesisir, dampaknya juga dapat terlihat dari perubahan pola penggunaan lahan yang memengaruhi aktivitas masyarakat. Hal inilah yang menjadi fokus penelitian skripsi Fauziah Dian Anindya, mahasiswa Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, melalui kajian berjudul “Dinamika Luas Penggunaan Lahan Tambak di Wilayah Pesisir Kabupaten Rembang Periode 2017–2025.”
Penelitian tersebut mengangkat isu menarik mengenai bagaimana lahan tambak di kawasan pesisir Kabupaten Rembang mengalami perubahan dari waktu ke waktu akibat kombinasi faktor lingkungan, iklim, hingga aktivitas manusia. Dengan memanfaatkan teknologi penginderaan jauh melalui citra Sentinel-2 dan analisis menggunakan Google Earth Engine, penelitian ini menunjukkan bagaimana data satelit dapat digunakan untuk membaca perubahan lanskap pesisir secara lebih cepat dan akurat.
Melalui pendekatan klasifikasi terbimbing (supervised classification), Fauziah menelusuri dinamika penggunaan lahan tambak garam dan tambak budidaya selama periode 2017–2025. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan luas tambak tidak terjadi secara acak, tetapi sangat dipengaruhi kondisi iklim global seperti El Niño–Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD).
Salah satu temuan menarik muncul pada tahun 2022 ketika luas tambak garam mengalami penurunan. Kondisi tersebut diduga dipengaruhi meningkatnya curah hujan akibat fenomena La Niña, yang menyebabkan proses produksi garam menjadi kurang optimal. Sebaliknya, ketika curah hujan menurun pada tahun 2023, luas tambak garam kembali meningkat.
Menariknya, pola berbeda justru terjadi pada tambak budidaya. Ketika tambak garam menurun, tambak budidaya menunjukkan kecenderungan meningkat. Temuan tersebut mengindikasikan adanya dinamika alih fungsi lahan yang dipengaruhi strategi adaptasi masyarakat pesisir terhadap kondisi lingkungan dan kebutuhan ekonomi.
Penelitian juga menemukan bahwa pada tahun 2019, luas tambak garam mengalami peningkatan yang diduga dipengaruhi fenomena IOD positif, yang berkaitan dengan kondisi curah hujan lebih rendah dan mendukung aktivitas produksi garam.
Menurut Fauziah, perubahan penggunaan lahan di wilayah pesisir tidak dapat dilepaskan dari interaksi kompleks antara faktor sosial-ekonomi, kebijakan, dan kondisi iklim global. Dinamika tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan wilayah pesisir memerlukan pendekatan yang adaptif dan berbasis data.
Kajian ini sekaligus memperlihatkan bagaimana ilmu perikanan saat ini berkembang jauh melampaui aktivitas budidaya dan penangkapan ikan. Teknologi satelit, analisis spasial, dan pemodelan iklim kini menjadi bagian penting dalam mendukung pengelolaan sumber daya perairan yang lebih berkelanjutan.
Penelitian Fauziah diharapkan dapat menjadi landasan ilmiah bagi perencanaan wilayah pesisir dan pengambilan kebijakan terkait pemanfaatan lahan tambak di masa mendatang, terutama di tengah tantangan perubahan iklim yang semakin dinamis.
Penelitian ini juga mendukung agenda Sustainable Development Goals khususnya tujuan ke-13 (Climate Action), tujuan ke-14 (Life Below Water), dan tujuan ke-15 (Life on Land) melalui penguatan basis data ilmiah untuk mendukung pengelolaan wilayah pesisir yang lebih adaptif, produktif, dan berkelanjutan.