Puncak HUT ke-63 Departemen Perikanan UGM Hadirkan Orasi Ilmiah tentang Transformasi Strategis Perikanan Budi Daya Indonesia
Berita Senin, 7 September 2026
Yogyakarta, 1 September 2026 — Puncak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-63 Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada (UGM) menjadi momentum untuk merefleksikan perjalanan sekaligus membahas masa depan sektor perikanan Indonesia. Salah satu agenda utama dalam perayaan tersebut adalah Orasi Ilmiah bertajuk “Perikanan Budi Daya Indonesia Berkelanjutan, Inovatif, Mendunia: Transformasi Strategis Menuju Indonesia Emas 2045.”
Orasi ilmiah disampaikan oleh Rokhmad Mohammad Rofiq, S.Pi., M.App.Sc., Kepala Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar Sukabumi. Dalam paparannya, ia menempatkan perikanan budi daya sebagai sektor strategis yang memiliki peran penting dalam mendukung ketahanan pangan, pertumbuhan ekonomi, dan agenda ekonomi biru Indonesia.
Rokhmad menekankan bahwa masa depan perikanan budi daya Indonesia tidak cukup hanya berorientasi pada peningkatan produksi. Transformasi perlu diarahkan pada sistem budi daya yang lebih produktif, berkelanjutan, inovatif, dan mampu bersaing di tingkat global.
Menurut materi orasi, transformasi tersebut mencakup pergeseran dari ekspansi kawasan menuju produktivitas berbasis daya dukung ekosistem, dari ketergantungan input menuju penguatan kapabilitas domestik, serta dari sekadar adopsi teknologi menuju pembangunan ekosistem inovasi.
Teknologi dalam konteks tersebut tidak dipandang sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai pengungkit kemampuan pelaku perikanan dalam menghadapi perubahan. Pemanfaatan teknologi perlu didukung kemampuan untuk membaca perubahan, menangkap peluang, dan melakukan transformasi dalam sistem produksi.
Transformasi juga perlu terjadi pada cara melihat keberhasilan sektor perikanan. Pengembangan perikanan tidak cukup hanya diukur berdasarkan jumlah produksi, tetapi juga berdasarkan nilai ekonomi, lapangan kerja, efisiensi, dan manfaat yang dihasilkan bagi masyarakat.
Karena itu, pengembangan budi daya perlu terhubung dengan keseluruhan rantai nilai, mulai dari pakan dan produksi, panen, pengolahan, rantai dingin, hingga pemasaran. Pendekatan value-chain-based development menjadi penting agar komoditas perikanan mampu menghasilkan nilai tambah yang lebih besar dan memiliki daya saing di pasar global.
Pada saat yang sama, orientasi menuju pasar dunia harus diikuti dengan peningkatan standar kualitas, keamanan pangan, traceability, keberlanjutan, serta konsistensi pasokan.
Salah satu pesan penting dalam orasi adalah bahwa peningkatan produktivitas tidak dapat dipisahkan dari keberlanjutan ekosistem. Pengembangan perikanan budi daya harus memperhatikan daya dukung lingkungan, kualitas air, penyakit, limbah, serta keberadaan ekosistem pendukung.
Transformasi juga membutuhkan kolaborasi berbagai pihak. Pemerintah, pelaku usaha, pembudidaya, perguruan tinggi, peneliti, lembaga pembiayaan, dan masyarakat perlu membangun ekosistem yang saling mendukung. Dalam pendekatan ini, pemerintah tidak hanya berperan sebagai regulator, tetapi juga sebagai strategic orchestrator yang mempertemukan berbagai kepentingan dan sumber daya.
Bagi Departemen Perikanan UGM, gagasan yang disampaikan dalam orasi ilmiah tersebut menjadi relevan dengan peran perguruan tinggi dalam menyiapkan sumber daya manusia perikanan yang adaptif dan inovatif.
Mahasiswa dan akademisi perikanan perlu memiliki kemampuan untuk memahami persoalan secara lebih luas—tidak hanya mengenai produksi ikan, tetapi juga teknologi, ekonomi, lingkungan, rantai nilai, kebijakan, dan kebutuhan masyarakat. Perspektif lintas bidang tersebut menjadi semakin penting untuk menghadapi kompleksitas sektor perikanan di masa depan.
Puncak HUT ke-63 Departemen Perikanan UGM melalui orasi ilmiah ini sekaligus menjadi momentum untuk menegaskan kembali komitmen Departemen Perikanan dalam mengembangkan pendidikan, penelitian, dan inovasi yang mendukung transformasi sektor kelautan dan perikanan Indonesia.
Orasi ilmiah ini sejalan dengan SDG 2 (Tanpa Kelaparan), SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), SDG 9 (Industri, Inovasi dan Infrastruktur), SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim), SDG 14 (Ekosistem Lautan), dan SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan), melalui penguatan perikanan budi daya yang produktif, inovatif, berkelanjutan, dan kolaboratif menuju Indonesia Emas 2045.