Mahasiswa Program Studi Akuakultur, Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), Vito Nathaniel Prabowo, berhasil menorehkan prestasi internasional melalui ajang International Youth Innovation Summit yang diselenggarakan di Malaysia. Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa Akuakultur angkatan 2024 ini berhasil meraih tiga penghargaan, yaitu Juara 1 Best Video Project, Juara 2 Best Project Innovation, dan Juara 3 Best Presentation.
Prestasi tersebut diraih Vito bersama tim INOVARTHA, sebuah tim lintas perguruan tinggi yang beranggotakan mahasiswa dari Universitas Gadjah Mada, Universitas Diponegoro, dan Universitas Brawijaya. Dalam tim tersebut, Vito Nathaniel Prabowo dari Fakultas Pertanian UGM berperan sebagai ketua kelompok. Ia berkolaborasi dengan Dinar Aulia Al-Ali dari Fakultas Peternakan UGM, Muhammad Ridho Syahputra dari Fakultas Teknik Universitas Diponegoro, serta Nindya Karonawitri dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya.
Melalui INOVARTHA, tim mengembangkan gagasan PADI (Platform Agri-Desa Inovatif) sebagai sebuah platform yang dirancang untuk mendukung penguatan ekosistem pertanian dan meningkatkan keterhubungan antara produsen di tingkat desa dengan rantai pasar. Gagasan tersebut dikembangkan melalui sejumlah fitur inovatif, di antaranya Harvest Aggregator Hub, Dashboard PANTAU, sistem grading dan pendampingan kualitas, serta akses pasar business-to-business (B2B).
Konsep yang dikembangkan INOVARTHA tidak hanya menempatkan teknologi sebagai sarana digitalisasi, tetapi juga sebagai instrumen untuk memperkuat konektivitas antarpelaku dalam rantai nilai pertanian. Melalui integrasi informasi produksi, pengelolaan hasil panen, pengendalian kualitas, dan akses pasar, PADI diarahkan untuk membantu menciptakan ekosistem yang lebih terhubung antara petani, pendamping, pengelola hasil, dan pasar.
Keberhasilan Vito dan tim dalam ajang internasional tersebut menunjukkan pentingnya kolaborasi lintas disiplin dan lintas perguruan tinggi dalam menghasilkan gagasan inovatif. Latar belakang anggota tim yang berasal dari bidang pertanian, peternakan, teknik, dan ekonomi dan bisnis memungkinkan pengembangan PADI dilakukan dengan perspektif yang lebih beragam, mulai dari aspek produksi dan teknologi hingga pengelolaan serta akses pasar.
Bagi Departemen Perikanan UGM, prestasi tersebut sekaligus menjadi bagian dari pengembangan kapasitas mahasiswa untuk berinovasi dan berkolaborasi dalam menjawab berbagai tantangan pembangunan. Meskipun gagasan yang dikembangkan berfokus pada ekosistem pertanian, pengalaman Vito dalam membangun inovasi, bekerja dalam tim multidisiplin, serta berkompetisi pada tingkat internasional merupakan kompetensi yang relevan dengan pengembangan sektor perikanan dan akuakultur yang semakin membutuhkan integrasi teknologi, kewirausahaan, dan pendekatan lintas sektor.
Prestasi Vito dan tim juga sejalan dengan komitmen terhadap Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 2 (Tanpa Kelaparan), SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur), serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan). Pengembangan PADI melalui pemanfaatan teknologi, penguatan rantai nilai, peningkatan akses pasar, dan kolaborasi lintas perguruan tinggi menunjukkan bagaimana inovasi mahasiswa dapat diarahkan untuk mendukung sistem pangan yang lebih terhubung, inklusif, dan berkelanjutan. Rangkaian prestasi ini sekaligus memperlihatkan peran generasi muda dalam membangun inovasi melalui kolaborasi dan pemanfaatan pengetahuan untuk menjawab tantangan pembangunan.