Yogyakarta, 9 Oktober 2026 — Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada (UGM), berpartisipasi dalam kegiatan Sosialisasi Keamanan Pangan Produk Perikanan Budidaya dari Hulu hingga Hilir yang diselenggarakan pada Jumat (9/10/2026), pukul 13.00–16.00 WIB, di Ruang Gurami Lantai 2, Dinas Kelautan dan Perikanan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Kegiatan ini diikuti oleh perwakilan unit kerja budidaya perikanan, kelompok pembudidaya ikan, unit pembenihan rakyat, pelaku usaha perikanan, penyuluh perikanan, serta pengelola usaha budidaya ikan pada Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP). Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan kapasitas pelaku usaha perikanan dalam menerapkan sistem jaminan mutu dan keamanan hasil perikanan, mulai dari aspek budidaya hingga pengolahan dan pemasaran produk. Dalam rangkaian kegiatan tersebut, Departemen Perikanan UGM turut memperkenalkan pentingnya pencatatan digital dalam usaha perikanan melalui pemanfaatan aplikasi Banoo sebagai salah satu upaya mendukung pengelolaan usaha budidaya ikan yang lebih terencana dan efisien.
Kegiatan dibuka oleh Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan DIY, R. Hery Sulistio Hermawan, S.Pi., M.T., bersama Dra. Hj. Sri Muslimatun dari DPRD DIY. Kegiatan dilanjutkan dengan penyampaian materi mengenai pencatatan digital dan pengenalan fitur-fitur aplikasi BanooTM yang dapat dimanfaatkan oleh pelaku usaha budidaya ikan. Materi pertama disampaikan oleh Endah Prihatiningtyastuti, S.P., M.Si., M.Phil., Ph.D., dari Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian UGM, dengan judul “Sosialisasi Pencatatan Digital dalam Usaha Perikanan.” Dalam pemaparannya, dijelaskan tentang pentingnya pencatatan usaha sebagai bagian dari pengelolaan budidaya ikan. Praktik pencatatan manual yang masih banyak mengandalkan ingatan dan perkiraan dapat menimbulkan sejumlah kendala, seperti risiko kehilangan atau kerusakan catatan, ketidakakuratan perhitungan harga pokok produksi (HPP), serta tidak terpisahnya pencatatan keuangan rumah tangga dan operasional usaha. Selain itu, keterbatasan pencatatan juga dapat menyulitkan pembudidaya dalam memantau parameter penting selama siklus produksi, seperti Feed Conversion Ratio (FCR), Survival Rate (SR), dan kualitas air. Tanpa pencatatan yang memadai, evaluasi penggunaan pakan, tingkat kelangsungan hidup ikan, dan kondisi kolam menjadi kurang optimal karena sebagian informasi hanya didasarkan pada perkiraan.
Pencatatan keuangan yang belum tertata juga dapat menjadi kendala ketika pelaku usaha membutuhkan laporan untuk mengakses pembiayaan atau permodalan dari lembaga keuangan. Oleh karena itu, pemanfaatan teknologi digital diperkenalkan sebagai alternatif untuk membantu meningkatkan akurasi dan efisiensi pencatatan, mendukung pemantauan kegiatan budidaya, memperkuat ketertelusuran proses produksi (traceability), serta mempermudah pengelolaan usaha, termasuk ketika pembudidaya perlu memantau aktivitas dari jarak jauh. Sebagai salah satu rekomendasi untuk mendukung transformasi digital di sektor perikanan budidaya, Departemen Perikanan UGM memperkenalkan aplikasi BanooTM yang dirancang untuk membantu pembudidaya mengelola catatan kegiatan dan keuangan usaha secara lebih praktis melalui telepon genggam.
Materi kedua disampaikan oleh Azellia Alma Shafira, S.E., M.Sc., dari Departemen Manajemen, Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM, dengan judul “Panduan Pintar Aplikasi BanooTM untuk Budidaya Ikan.” Aplikasi BanooTM dikembangkan oleh Endah Prihatiningtyastuti, S.P., M.Si., M.Phil., Ph.D. bersama Azellia Alma Shafira, S.E., M.Sc., Fakhrudin Hary Santoso, S.Pi., Erlangga Pradipta, S.T., dan Nava Farah Aszahra, S.Tr.T. Sebelum memasuki sesi materi, peserta mengikuti pre-test untuk mengetahui pemahaman awal mengenai pencatatan digital dan penggunaan aplikasi. Selanjutnya, peserta diperkenalkan pada berbagai fitur BanooTM beserta pemanfaatannya dalam mendukung kegiatan budidaya dan pengelolaan keuangan usaha.
Secara umum, BanooTM dikembangkan untuk membantu pembudidaya merapikan pencatatan yang sebelumnya dilakukan secara manual agar dapat tersimpan lebih aman dan mudah diakses melalui telepon genggam. Aplikasi ini menyediakan sejumlah fitur yang mendukung kebutuhan perencanaan, pencatatan keuangan, pemantauan budidaya, hingga pengendalian peralatan kolam. Fitur Smart Plug berbasis Internet of Things (IoT) memungkinkan pengguna melakukan pengendalian peralatan dari jarak jauh, memantau penggunaan listrik, serta menerima notifikasi dan pengingat jadwal pengoperasian aerator. Fitur ini diharapkan dapat membantu pembudidaya mengelola penggunaan peralatan kolam secara lebih praktis. Fitur Kalkulator Budidaya membantu pengguna memperkirakan kebutuhan produksi sebelum memulai siklus budidaya. Melalui fitur ini, pembudidaya dapat melakukan estimasi kebutuhan pakan dan biaya benih, memproyeksikan volume panen serta harga jual, dan membandingkan total biaya dengan potensi pendapatan untuk memperkirakan keuntungan atau kerugian usaha. Sementara itu, fitur Mina Arta berfungsi sebagai buku kas digital untuk mencatat pemasukan dan pengeluaran serta membantu memisahkan arus kas usaha. Fitur ini juga mencakup pencatatan utang-piutang, rekapitulasi keuangan bulanan, perhitungan keuntungan secara otomatis, indikator kebutuhan penghematan, dan penyusunan laporan dalam format PDF. Dengan pencatatan yang lebih terstruktur, pembudidaya diharapkan dapat mengevaluasi kondisi keuangan dan mengambil keputusan usaha berdasarkan informasi yang tercatat. Adapun fitur Mina Candika merupakan fasilitas penjurnalan budidaya ikan yang membantu pengguna mencatat dan memantau perkembangan kolam secara lebih spesifik. Melalui pencatatan aktivitas budidaya secara berkala, pembudidaya dapat membangun dokumentasi siklus produksi yang lebih sistematis sebagai bahan evaluasi pengelolaan kolam.
Pengenalan berbagai fitur tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan pemahaman pelaku usaha mengenai pemanfaatan teknologi digital dalam mendukung pencatatan, perencanaan, dan pemantauan kegiatan budidaya ikan. Setelah penyampaian materi dan pengenalan aplikasi, kegiatan dilanjutkan dengan sesi diskusi dan tanya jawab. Peserta menyampaikan pertanyaan serta berbagi pengalaman mengenai kondisi dan kebutuhan pencatatan yang dihadapi dalam praktik budidaya ikan di lapangan. Diskusi ini juga menjadi ruang bagi peserta untuk memberikan saran dan masukan terkait pengembangan aplikasi BanooTM agar fitur-fitur yang tersedia semakin sesuai dengan kebutuhan dan kondisi nyata pelaku usaha perikanan. Masukan tersebut diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan dalam penyempurnaan aplikasi sehingga pemanfaatannya dapat mendukung pengelolaan usaha budidaya ikan secara lebih efektif.
Sebagai penutup, peserta mengikuti post-test untuk mengetahui pemahaman setelah mengikuti sosialisasi dan pengenalan aplikasi. Kegiatan kemudian diakhiri dengan sesi foto bersama. Melalui kegiatan ini, Departemen Perikanan UGM turut mendorong penguatan kapasitas pelaku usaha perikanan dalam memanfaatkan teknologi digital, khususnya untuk mendukung pencatatan usaha dan pengelolaan budidaya ikan. Penerapan pencatatan yang lebih tertata diharapkan dapat membantu pembudidaya meningkatkan efisiensi operasional, memperkuat pengelolaan keuangan, serta menyediakan informasi yang lebih baik untuk mendukung keberlanjutan usaha perikanan budidaya.
Kegiatan ini juga sejalan dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 2 (Tanpa Kelaparan) melalui dukungan terhadap penguatan sektor perikanan budidaya sebagai salah satu sumber pangan berkelanjutan; SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui peningkatan kapasitas pelaku usaha dalam mengelola kegiatan budidaya secara lebih efisien dan meningkatkan daya saing usaha; SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) melalui penerapan inovasi teknologi digital dan Internet of Things (IoT) dalam pengelolaan usaha perikanan; serta SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) melalui penguatan pencatatan, pemantauan, dan evaluasi proses produksi yang lebih terukur. Pemanfaatan aplikasi BanooTM diharapkan dapat mendorong transformasi digital sektor perikanan budidaya sekaligus mendukung praktik produksi yang lebih efisien, transparan, dan berkelanjutan.