Semarang, 23 Oktober 2026 – Prestasi membanggakan kembali diraih mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM). Dua mahasiswa Program Magister (S2) Ilmu Perikanan UGM, Putri Kumala Prabowo dan Alya Putri Mezzaluna, berhasil meraih Juara I Pentahelix Student Aquaculture Challenge 2026 dalam rangkaian kegiatan The International Conference on Aquaculture Indonesia (ICAI) 2026 yang diselenggarakan oleh Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) di Hotel Tentrem, Semarang pada 21-22 Oktober 2026. .
Dalam kompetisi tersebut, kedua mahasiswa tergabung dalam satu tim untuk mempresentasikan gagasan sekaligus hasil riset mengenai pemanfaatan bakteriofag sebagai solusi inovatif untuk mengatasi permasalahan penyakit pada budidaya udang. Riset ini dilaksanakan di bawah bimbingan Indah Istiqomah, S.Pi., M.Si., Ph.D., dosen UGM yang memiliki bidang keahlian mikrobiologi akuakultur.
Bakteriofag merupakan virus yang secara spesifik menginfeksi bakteri. Pemanfaatannya menjadi salah satu pendekatan yang menjanjikan dalam pengendalian bakteri patogen pada budidaya perikanan, khususnya udang, yang selama ini menghadapi tantangan penyakit dan kebutuhan akan strategi pengendalian yang lebih tepat sasaran. Melalui penelitian ini, tim UGM menawarkan perspektif pemanfaatan hasil riset mikrobiologi untuk menjawab permasalahan nyata di sektor akuakultur.
Presentasi tim UGM mendapatkan sambutan positif dari para pelaku industri budidaya udang yang hadir dalam kegiatan tersebut. Respons ini membuka peluang bagi pengembangan riset lebih lanjut, khususnya untuk mendorong hilirisasi teknologi bakteriofag agar dapat diimplementasikan dan memberikan manfaat nyata bagi para pembudidaya. Dukungan dari dunia industri menjadi salah satu aspek penting dalam menjembatani hasil penelitian akademik dengan kebutuhan di lapangan.
Pentahelix Student Aquaculture Challenge 2026 mempertemukan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia untuk berkompetisi melalui gagasan dan hasil penelitian di bidang akuakultur. Pendekatan pentahelix menempatkan pemerintah, dunia usaha, akademisi, masyarakat, dan media sebagai unsur yang saling melengkapi dalam pembangunan akuakultur Indonesia. Kompetisi ini menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menunjukkan kemampuan ilmiah, menyampaikan inovasi, serta membangun komunikasi dengan pemangku kepentingan di sektor perikanan dan budidaya.
Bagi Putri Kumala dan Alya Mezzaluna, pencapaian ini tidak hanya menjadi kebanggaan akademik, tetapi juga pengalaman berharga yang memperkuat keyakinan mereka untuk berkontribusi dalam pengembangan sektor akuakultur Indonesia. Pengalaman mempresentasikan hasil penelitian di hadapan akademisi dan pelaku industri memberikan perspektif baru mengenai pentingnya riset yang tidak berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi juga mampu menjawab kebutuhan masyarakat.
Keduanya berharap dapat terus mengembangkan kompetensi dan menghasilkan inovasi yang relevan bagi industri budidaya perikanan. Mereka juga memiliki tekad untuk mengambil peran lebih besar dalam perkembangan akuakultur di masa depan dan menjadi game changer melalui kontribusi ilmiah, inovasi teknologi, serta penerapan hasil riset yang berdampak nyata.
Prestasi Putri Kumala Prabowo dan Alya Putri Mezzaluna menunjukkan potensi generasi muda UGM dalam menghadirkan solusi berbasis sains bagi tantangan akuakultur. Capaian ini sekaligus memperkuat pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi, industri, dan masyarakat dalam mendorong inovasi yang berkelanjutan bagi kemajuan sektor perikanan Indonesia.
Prestasi ini turut berkontribusi terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui penguatan kompetensi, kreativitas, dan kapasitas inovasi mahasiswa berbasis riset; SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) melalui pengembangan teknologi bakteriofag sebagai alternatif inovatif dalam pengendalian penyakit pada budidaya udang; serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui penguatan kolaborasi antara perguruan tinggi, dunia industri, dan pemangku kepentingan akuakultur. Selain itu, pemanfaatan bakteriofag sebagai pendekatan pengendalian bakteri patogen yang lebih spesifik juga berpotensi mendukung SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) melalui pengembangan praktik budidaya perikanan yang lebih berkelanjutan, produktif, dan ramah lingkungan.