Yogyakarta, 30 September 2025— Departemen perikanan UGM dan OceanKita, kembali menegaskan komitmennya dalam memerangi polusi plastik laut melalui rangkaian inovasi teknologi, edukasi, dan kolaborasi komunitas. Melalui program SinnTech #29 dengan tema, “From the Threat of Plastic Waste to the Hope for Marine Ecosystems: Synergy for the Future of Our Oceans.”
Jeanette Haulussy, S.Si selaku Co-founder & COO of OceanKita, menjelaskan mengenai “Sustainable Ocean: Innovation and Action Against Plastic Pollution.” Dijelaskan bahwa berbagai program dan teknologi telah dihadirkan untuk menjawab persoalan utama pencemaran laut di Indonesia. Teknologi pembersih laut seperti trawl-net, program edukasi Plastic Collage, permainan edukatif Sungai Card Game, hingga pengalaman langsung seperti rafting dan cleanup Ciliwung menjadi pendekatan yang menyeluruh untuk mendorong aksi perubahan. Salah satu program unggulan, Seribu Biru di Pulau Untung Jawa, mencatat dampak signifikan sejak diluncurkan pada Maret 2024: 12.460 sampah laut terkumpul, 397 pelajar mengikuti kelas edukasi, 355 relawan terlibat dalam aksi bersih pantai, 545 kg sampah terkelola, 200 mangrove ditanam dengan estimasi 19 tCO₂e penyerapan, dan Penggunaan kapal listrik menghasilkan reduksi emisi 10,3 tCO₂e. OceanKita juga tengah mengembangkan Marine Pollution Tracker, sistem pelacakan dan prediksi pencemaran laut berbasis data—pemenang pendanaan dari IPPIN Accelerator+ 2024 dan Seed Funding 2025, bekerja sama dengan Central Queensland University, Australia.
Dalam paparannya, Dr. Sulistiowati mengungkapkan bahwa marine debris kini ditemukan di seluruh lapisan perairan—mulai dari permukaan, kolom air, dasar laut, hingga pantai. Ia menjelaskan bahwa Indonesia termasuk dalam negara dengan kontribusi tinggi terhadap sampah laut global, terutama plastik. Marine debris berdampak langsung pada biota, seperti penyu yang terjerat, burung laut yang menelan plastik, serta terganggunya rantai makanan. Penelitian menunjukkan bahwa mikroplastik telah ditemukan di sedimen, mulut, dan saluran pencernaan ikan, serta berpotensi menimbulkan stres oksidatif, gangguan enzim, kerusakan sel, hingga risiko kesehatan pada manusia. Selain itu, mikroplastik terus masuk ke ekosistem melalui berbagai jalur—limbah domestik, industri, degradasi plastik besar, hingga aliran sungai. Proses transportasinya yang kompleks membuat mikroplastik dapat berpindah lokasi, berpaut pada organisme, dan memasuki rantai makanan.
SINNTECH #29 menegaskan bahwa permasalahan sampah laut tidak hanya diselesaikan lewat riset, tetapi membutuhkan integrasi tiga aspek: 1)Ilmu pengetahuan – memahami sumber, transportasi, dan dampak mikroplastik; 2) Teknologi – seperti trawl-net, monitoring berbasis data, dan edukasi digital; 3) Gerakan komunitas – pelibatan masyarakat pesisir, sekolah, dan relawan. Webinar ditutup dengan seruan bahwa perubahan dapat dimulai dari langkah kecil: mengurangi plastik sekali pakai, memilah sampah, hingga berkontribusi sebagai relawan pelestari lingkungan. Penyelenggaraan kegiatan ini sejalan dengan komitmen UGM dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 3 Kegidupan sehat dan sejahtera, SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, SDG 8 Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan), serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) dengan memperkuat jejaring dan kolaborasi akademik.